Spanyol Juara Dunia 2026, Messi Tertunduk di Stadion New York New Jersey
Skor akhir 3-1 untuk Spanyol atas Argentina di final Piala Dunia 2026, Minggu malam waktu setempat (20/7), membungkam 82.400 penonton di Stadion New York New Jersey. Lionel Messi — sang kapten berju...
Skor akhir 3-1 untuk Spanyol atas Argentina di final Piala Dunia 2026, Minggu malam waktu setempat (20/7), membungkam 82.400 penonton di Stadion New York New Jersey. Lionel Messi — sang kapten berjuluk La Pulga — tercatat hanya melepaskan satu shot on target sepanjang 94 menit. Wajahnya yang menunduk setelah peluit panjang berbunyi menjadi gambar paling menyakitkan bagi albiceleste.
Starting XI dan Formasi Awal
Pelatih Lionel Scaloni menurunkan formasi 4-3-3: Emiliano Martínez di bawah mistar; barisan belakang Nahuel Molina, Cristian Romero, Lisandro Martínez, dan Marcos Acuña; trio gelandang Enzo Fernández, Alexis Mac Allister, dan Giovani Lo Celso; trisula penyerang diisi Lionel Messi, Lautaro Martínez, serta Alejandro Garnacho. Sementara itu, Luis de la Fuente mengandalkan 4-2-3-1 — Unai Simón sebagai kiper; Dani Carvajal, Robin Le Normand, Pau Cubarsí, Alejandro Balde; pivot ganda Rodri dan Pedri; tiga kreator Lamine Yamal, Gavi, Nico Williams dengan false nine Ansu Fati.
Babak Pertama: Dominasi Mutlak Spanyol
Menit ke-11, Gavi menusuk dari lini kedua dan melepaskan umpan terobosan vertikal kepada Ansu Fati. Romero terlambat membaca garis offside — Fati lolos dan menaklukkan Emiliano Martínez lewat sontekan rendah ke tiang dekat. Unggul 1-0, Spanyol justru makin percaya diri. Penguasaan bola menyentuh angka 64% dalam 30 menit pertama, sementara La Roja membukukan lima shots on target sebelum turun minum.
Menit ke-38, sebuah skema ciamik dari sisi kiri: Nico Williams mengalahkan Molina lewat step-over ganas, lalu mengirim umpan menyusur tanah yang disundul Yamal dari jarak 8 meter — bola membentur tiang. Argentina selamat, tetapi data berbicara: mereka hanya mampu menciptakan satu tembakan tepat sasaran melalui tendangan bebas Messi di menit 41.
Gol Balasan dan Harapan Semu Argentina
Scaloni memasukkan Julián Álvarez menggantikan Garnacho pada babak kedua dan mengubah skema menjadi 4-2-3-1 dengan Messi di belakang Lautaro. Hasilnya instan: menit ke-56, pergerakan diagonal Messi menarik tiga pemain Spanyol, memberi ruang bagi Lo Celso yang melepas umpan silang melengkung. Lautaro Martínez menanduk bola ke sudut kiri gawang — skor berubah 1-1. Statistik xG Argentina sempat merangkak dari 0,32 menjadi 0,97 dalam 15 menit awal babak kedua.
Namun, euforia hanya bertahan 11 menit. Menit ke-67, Gavi meluncurkan operan through-ball sepanjang 32 meter kepada Ansu Fati yang kembali mengecoh jebakan ofiside. Kali ini, Lisandro Martínez terlambat turun. Fati memperdaya Emiliano Martínez dengan tendangan chip — gol ketiganya di turnamen ini. 2-1 untuk Spanyol.
Bencana di Menit Akhir dan Penalti Penentu
Kesialan Argentina bertambah pada menit ke-79. Enzo Fernández menerima kartu kuning kedua setelah melanggar Pedri dari belakang di luar kotak penalti — wasit Szymon Marciniak mengeluarkan kartu merah setelah pengecekan VAR. Argentina bermain dengan 10 orang. Pelatih Scaloni menarik Lo Celso dan memasukkan Leandro Paredes, tetapi Spanyol semakin bebas menguasai bola.
Menit ke-88, Yamal menusuk ke kotak penalti dan dijatuhkan Acuña. Marciniak menunjuk titik putih. Nico Williams yang mengambil eksekusi mengirim bola ke sudut kanan bawah, sementara Emiliano Martínez bergerak ke kiri. Skor 3-1 dan mengunci trofi. Spanyol mencatat penguasaan bola 62%, 19 total shots, 8 on target, serta akurasi operan 89% sepanjang laga. Argentina hanya mengumpulkan 0,4expected goals dari permainan terbuka di babak kedua.
Rekor dan Dampak
Kekalahan ini menggagalkan ambisi Messi menyamai rekor Pelé sebagai pemilik tiga trofi Piala Dunia. Selain itu, untuk pertama kalinya Argentina takluk di final turnamen besar di bawah asuhan Scaloni — sebelumnya mereka menjuarai Copa América 2024 dan Piala Dunia 2022. Di sisi Spanyol, Pedri dinobatkan sebagai Player of the Match berkat dua assist dan akurasi operan 94%. Gavi, Yamal, dan Nico Williams menjadi generasi emas baru dengan rerata usia 21,3 tahun yang mempersembahkan bintang kedua bagi La Roja.
“Kami menghadapi tim yang sangat superior malam ini. Mereka membuat kami kehilangan bola dan tidak bisa membangun serangan,” kata Scaloni dalam konferensi pers pascapertandingan.
Messi sendiri hanya menjawab singkat soal masa depannya: “Saya akan pulang dan berpikir.” Dengan kontrak bersama Inter Miami yang tersisa satu tahun, kapten Argentina itu kini harus menerima bahwa panggung terakhirnya di Piala Dunia berakhir dengan air mata.
Comments (0)