Spanyol Juara Dunia 2026, Messi dan Argentina Terhenti di Final
New Jersey, 20 Juli 2026 – Panggung megah Stadion New York New Jersey menjadi saksi bisu terhentinya mimpi Lionel Messi mempersembahkan trofi Piala Dunia kedua bagi Argentina. Spanyol, dengan perfor...
New Jersey, 20 Juli 2026 – Panggung megah Stadion New York New Jersey menjadi saksi bisu terhentinya mimpi Lionel Messi mempersembahkan trofi Piala Dunia kedua bagi Argentina. Spanyol, dengan performa klinis dan penguasaan bola khas tiki-taka modern, mengunci kemenangan 2-1 atas La Albiceleste dalam partai puncak yang digelar Minggu malam (20/7) waktu setempat. Dua gol La Roja yang dicetak oleh Nico Williams dan Pedri memupus asa Argentina meski sempat diperkecil oleh sepakan Julian Alvarez.
Pertandingan ini menyuguhkan duel dua filosofi: penguasaan bola tinggi ala Luis de la Fuente melawan transisi cepat racikan Lionel Scaloni. Sejak menit awal, Spanyol langsung mengambil inisiatif. Penguasaan bola mencapai 63% di sepanjang laga, memaksa Argentina bertahan rapat dan mengandalkan serangan balik.
Babak Pertama: Gol Cepat Spanyol dan Respons Argentina
Menit ke-17, kombinasi apik antara Pedri dan Gavi di sepertiga akhir lapangan menghasilkan umpan terukur ke sisi kiri. Nico Williams, yang tampil sebagai starter di sayap kiri, melepaskan tendangan melengkung dari luar kotak penalti yang tak mampu dijangkau Emiliano Martinez. Skor 1-0 untuk Spanyol. Gol tersebut lahir dari pola build-up 12 operan—terbanyak kedua di turnamen ini untuk sebuah gol.
Argentina tidak tinggal diam. Menit ke-34, Messi yang ditempatkan sebagai false nine dalam formasi 4-3-3 mulai menemukan celah. Umpan terobosannya kepada Julian Alvarez nyaris berbuah gol andai sepakan sang striker tidak membentur tiang. Sepanjang babak pertama, Argentina hanya mencatatkan dua shots on target, sementara Spanyol mendominasi dengan lima tembakan tepat sasaran. Statistik expected goals (xG) babak pertama: Spanyol 1,72 vs Argentina 0,48.
Messi sendiri menjadi pemain Argentina dengan sentuhan terbanyak di kotak penalti lawan (empat kali) dan menciptakan satu peluang emas. Namun, lini belakang Spanyol yang dikomandoi Pau Torres tampil solid dengan delapan intersep dan tiga blok sepanjang 45 menit awal.
Babak Kedua: Selebrasi Pendek dan Pukulan Penentu
Memasuki babak kedua, Argentina meningkatkan intensitas. Scaloni memasukkan Alejandro Garnacho untuk menambah daya dobrak. Hasilnya, menit ke-58, umpan silang Messi dari sisi kanan berhasil ditanduk Julian Alvarez ke gawang Unai Simon. Skor imbang 1-1. Assist tersebut menjadi yang ke-12 bagi Messi di Piala Dunia sepanjang kariernya—sebuah rekor baru yang melampaui catatan Diego Maradona. Namun, euforia hanya bertahan enam menit.
Menit ke-64, sebuah sirkulasi bola cepat Spanyol mengoyak pertahanan Argentina. Pedri, yang menusuk dari lini kedua, menerima sodoran Gavi dan melepaskan tembakan rendah ke pojok kanan gawang. Gol ini tercipta setelah fase penguasaan bola 28 operan tanpa henti—yang ketiga terbanyak dalam sejarah final Piala Dunia. Skor kembali 2-1 untuk Spanyol.
Argentina berusaha menyamakan kedudukan. Di menit 79, wasit mengecek potensi penalti setelah Enzo Fernandez dijatuhkan di area terlarang. Namun, setelah peninjauan VAR, keputusan tetap: bukan pelanggaran. Replay menunjukkan kontak minimal yang dianggap tidak cukup untuk mengubah keputusan. Kartu kuning untuk Rodri di menit 85 akibat menghentikan serangan balik cepat Messi juga tak banyak membantu.
Statistik Kunci dan Analisis Taktik
Spanyol mengakhiri laga dengan penguasaan bola 63,4%, total operan 612 (akurasi 89%), dan 14 tembakan (7 on target). Argentina hanya menorehkan 37% penguasaan bola, 293 operan (akurasi 79%), serta 8 tembakan (3 on target). Formasi 4-3-3 Spanyol dengan Pedri sebagai gelandang serang terbukti lebih efektif dibanding 4-2-3-1 Argentina yang mengandalkan Messi di belakang Alvarez.
Starting XI Spanyol: Unai Simon; Dani Carvajal, Pau Torres, Aymeric Laporte, Alejandro Balde; Rodri, Pedri, Gavi; Lamine Yamal, Alvaro Morata, Nico Williams. Starting XI Argentina: Emiliano Martinez; Nahuel Molina, Cristian Romero, Lisandro Martinez, Nicolas Tagliafico; Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister, Giovani Lo Celso; Angel Di Maria, Lionel Messi (c), Julian Alvarez.
Messi, yang kini berusia 39 tahun, menyelesaikan pertandingan dengan satu assist, tiga dribel sukses, dua peluang tercipta, dan akurasi umpan 84%. Ia menjadi pemain Argentina dengan rating tertinggi menurut statistik advanced (7,8), namun itu tak cukup untuk menghindari kekalahan. "Kami sudah berusaha sekuat tenaga. Spanyol memang lebih baik malam ini," ujar Messi singkat seusai laga seperti dikutip media resmi FIFA. Pelatih Lionel Scaloni menambahkan, "Rencana kami berjalan di beberapa fase, tapi efisiensi mereka di sepertiga akhir sangat mematikan."
Kekalahan ini menjadi pil pahit bagi generasi emas Argentina yang baru saja menjuarai Copa America 2024. Bagi Spanyol, trofi ini melengkapi kebangkitan mereka setelah era kejayaan 2010. Pelatih Luis de la Fuente mempersembahkan gelar ini kepada seluruh rakyat Spanyol dan menyebutnya sebagai "buah dari pembinaan usia muda yang berkelanjutan."
Akhir pertandingan menyisakan pemandangan kontras: para pemain Spanyol bersujud syukur, sementara Messi terduduk di tengah lapangan dengan tatapan kosong. Kapten nomor punggung 10 itu berjalan perlahan menuju lorong stadion, tanpa mengangkat kepala, seperti yang terekam kamera Getty Images yang tersebar luas. Sebuah akhir yang mungkin akan menjadi penampilan terakhirnya di panggung Piala Dunia.
Comments (0)