Spanyol Juara Dunia 2026, Kalahkan Argentina 2-1 di Final Dramatis
Skor akhir 2-1 menjadi penanda takhta baru sepak bola dunia: Spanyol mengalahkan Argentina dalam pertarungan sengit selama 120 menit di final Piala Dunia 2026, Minggu (20/7) waktu setempat, di Stadion...
Skor akhir 2-1 menjadi penanda takhta baru sepak bola dunia: Spanyol mengalahkan Argentina dalam pertarungan sengit selama 120 menit di final Piala Dunia 2026, Minggu (20/7) waktu setempat, di Stadion New York New Jersey. Momen kunci terjadi pada menit ke-108 saat Fabian Ruiz, gelandang bertahan nomor punggung 8, melepaskan tendangan voli kaki kiri dari luar kotak penalti yang bersarang di sudut atas gawang Emiliano Martínez. Gol tersebut bukan hanya membawa La Roja meraih gelar juara dunia kedua setelah 2010, tetapi juga mengabadikan namanya dalam buku sejarah sepak bola Spanyol.
Laga final yang mempertemukan dua raksasa ini sudah dinanti sejak fase grup. Argentina datang sebagai juara bertahan 2022, sementara Spanyol tampil perkasa dengan permainan tiki-taka versi baru racikan Luis de la Fuente. Dari menit pertama, kedua tim langsung tancap gas. Formasi 4-3-3 Spanyol dengan trio Pedri, Gavi, dan Rodri di lini tengah mengurung formasi 4-4-2 Argentina yang mengandalkan duet Lionel Messi dan Lautaro Martínez di lini depan.
Babak Pertama: Dominasi Penguasaan Bola dan Gol Cepat Spanyol
Sejak peluit awal dibunyikan, Spanyol langsung memegang kendali permainan. Penguasaan bola mencapai 62% di 15 menit pertama, dengan umpan-umpan pendek yang akurat dari Rodri ke Pedri kemudian ke sayap. Menit ke-23, sebuah skema apik terjadi: Lamine Yamal yang menusuk dari sisi kanan melepaskan umpan tarik mendatar ke kotak penalti. Striker muda Samu Omorodion yang dikawal ketat Cristian Romero justru melakukan dummy cerdas, membiarkan bola mengalir ke Nico Williams yang berdiri bebas. Nico Williams tanpa ragu melepaskan tendangan first-time kaki kiri ke pojok kanan bawah gawang. Emiliano Martínez hanya terpaku. Skor 1-0 untuk Spanyol.
Setelah gol, Argentina mencoba keluar dari tekanan. Messi yang dijaga ketat oleh Rodri beberapa kali berhasil melepaskan diri, namun tembakan dari luar kotak penalti pada menit ke-31 berhasil ditepis kiper Unai Simón. Statistik tembakan tepat sasaran babak pertama menunjukkan keunggulan Spanyol 3-1. Argentina hanya mengandalkan serangan balik cepat yang belum mampu menembus pertahanan Aymeric Laporte dan Pau Cubarsí.
Babak Kedua: Argentina Bangkit dan Gol Kontroversial via VAR
Memasuki babak kedua, pelatih Argentina Lionel Scaloni melakukan perubahan dengan memasukkan Alejandro Garnacho menggantikan Ángel Di María. Pergantian ini langsung menyuntikkan energi baru. Menit ke-54, Garnacho melakukan penetrasi dari kiri, memberikan umpan silang terukur ke tiang jauh. Lautaro Martínez menyambut dengan sundulan keras yang sempat diblok Unai Simón, namun bola liar disambar Enzo Fernández. Wasit sempat menganulir gol karena dugaan offside, tetapi setelah peninjauan VAR selama tiga menit, gol disahkan. Kedudukan imbang 1-1. Penguasaan bola mulai berbalik; Argentina justru unggul 53% di 20 menit terakhir waktu normal.
Di sisa waktu normal, kedua tim saling balas serangan. Spanyol nyaris mencetak gol kedua melalui tendangan bebas Pedri pada menit ke-79 yang membentur mistar gawang. Argentina pun memiliki peluang emas lewat aksi individu Messi di menit ke-84 yang melewati tiga pemain namun tembakannya masih melebar tipis. Statistik tembakan tepat sasaran hingga akhir waktu normal menjadi 5-4 untuk Spanyol, menunjukkan betapa ketatnya pertandingan ini. Laga harus berlanjut ke perpanjangan waktu 2x15 menit.
Perpanjangan Waktu: Momen Sakti Fabian Ruiz dan Pesta La Roja
Pada babak tambahan, kelelahan mulai terlihat dari kedua kubu. Spanyol kembali mengambil inisiatif dengan penguasaan bola 60% di perpanjangan waktu. Gol penentu lahir dari situasi bola mati. Menit ke-108, sepak pojok Pedri dari sisi kanan disundul keluar oleh Romero. Bola jatuh di depan kotak penalti, disambut Fabian Ruiz yang berdiri tanpa pengawalan. Dengan tenang, gelandang Paris Saint-Germain itu meluncurkan tendangan voli spektakuler yang melesat deras ke sudut atas gawang tanpa bisa dijangkau Martínez. Stadion New York New Jersey bergemuruh. Fabian Ruiz berlari ke sudut lapangan, diikuti seluruh pemain Spanyol, merayakan gol yang kelak menjadi penentu juara dunia.
Hingga peluit panjang, Argentina tak mampu membalas. Skor akhir 2-1 menobatkan Spanyol sebagai kampiun dunia 2026. Gemuruh sorak penonton mengiringi momen Fabian Ruiz mencium trofi emas yang menjadi puncak kariernya. Pelatih Luis de la Fuente dalam konferensi pers menyatakan,
"Saya sangat bangga dengan para pemain. Mereka menunjukkan bahwa sepak bola Spanyol tidak hanya tentang penguasaan bola, tetapi juga tentang determinasi dan momen individual yang brilian. Fabian adalah contoh sempurna dari kerja keras yang terbayar."
Statistik lengkap final: Penguasaan bola Spanyol 56% - 44% Argentina; total tembakan 14-9; tembakan tepat sasaran 6-4; pelanggaran 11-15; kartu kuning 2-3 (Nico Williams dan Rodri untuk Spanyol; Romero, Enzo Fernández, dan De Paul untuk Argentina). Clean sheet tidak terjadi karena kedua kiper kebobolan, namun performa Unai Simón tetap gemilang dengan 3 penyelamatan krusial.
Kemenangan ini melengkapi dominasi Spanyol sepanjang turnamen. Mereka hanya kebobolan 4 gol dalam 7 pertandingan, mencetak 15 gol, dan mencatatkan 4 clean sheet. Fabian Ruiz sendiri menyumbang 3 gol dan 2 assist sepanjang Piala Dunia, menjadikannya salah satu kandidat Pemain Terbaik. Fakta menarik: Spanyol kini menjadi tim Eropa pertama yang menjuarai Piala Dunia di benua Amerika sejak Jerman 2014 di Brasil. Stadion ikonik New York New Jersey pun menjadi saksi lahirnya generasi emas baru La Roja, dengan Lamine Yamal (19 tahun) dan Pau Cubarsí (20 tahun) sebagai pilar masa depan.
Bagi Argentina, kekalahan ini menjadi akhir dari era keemasan Lionel Messi yang di usia 39 tahun kemungkinan besar telah memainkan laga terakhirnya di Piala Dunia. Messi sendiri tetap memberikan assist brilian untuk gol Enzo Fernández, menambah koleksinya menjadi 8 assist sepanjang sejarah final Piala Dunia, sebuah rekor yang mungkin bertahan lama.
Perayaan di dalam stadion berlangsung meriah, dipimpin langsung oleh kapten Rodri yang mengangkat trofi bersama rekan-rekannya. Namun, gambar yang paling diingat adalah Fabian Ruiz yang mencium trofi Pemenang Piala Dunia, sebuah momen yang diabadikan lensa kamera dari seluruh dunia. Momen itu menjadi simbol keabadian prestasi yang diraih dengan keringat, taktik, dan keyakinan. Spanyol kini sah bertakhta di puncak dunia, dan dunia menyaksikan kelahiran dinasti baru sepak bola.
Comments (0)