Soeharto Murka Proyek Asahan, Anak Afrika Tewas di AS
Sejarah kerap menyimpan dua sisi berbeda: satu tentang ambisi pembangunan yang sarat tekanan, satu lagi tentang sisi paling gelap kemanusiaan. Dua peristiw
Sejarah kerap menyimpan dua sisi berbeda: satu tentang ambisi pembangunan yang sarat tekanan, satu lagi tentang sisi paling gelap kemanusiaan. Dua peristiwa yang terpisah ribuan kilometer dan puluhan tahun ini kembali mencuat, mengingatkan kita betapa panjangnya jalan menuju peradaban—dan betapa ironisnya jejak yang ditinggalkan.
Amarah Presiden Soeharto: Proyek Asahan Rp1,7 Triliun Tersendat
Pada era 1970-an, Presiden Soeharto dikenal sangat serius menggenjot proyek-proyek strategis nasional. Salah satunya adalah Proyek Asahan, sebuah mega proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pabrik peleburan aluminium di Sumatera Utara. Proyek ini digadang-gadang menjadi tulang punggung industri nasional. Namun, di suatu titik yang krusial, Soeharto marah besar karena anggaran proyek yang mencapai Rp1,7 triliun tak kunjung dicairkan.
“Presiden marah besar atas anggaran Proyek Asahan Rp1,7 triliun yang tak kunjung dicairkan,” demikian laporan media saat itu.
Kemurkaan Soeharto bukan tanpa alasan. Proyek yang dikelola oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) ini merupakan kerja sama strategis antara Indonesia dan Jepang, dengan total investasi lebih dari USD 2 miliar pada masanya. Aliran listrik dari PLTA Asahan akan menyokong operasional pabrik aluminium pertama di Asia Tenggara, serta memasok energi murah bagi industri dan masyarakat sekitar. Jika molor, bukan hanya produksi aluminium yang tertunda, tetapi juga program elektrifikasi dan hilirisasi tambang yang menjadi prioritas Orde Baru dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) akan ikut terhambat.
Keterlambatan pencairan anggaran diduga akibat birokrasi yang berbelit atau persoalan teknis di tingkat kementerian. Bagi Soeharto, yang bergaya kepemimpinan militeristik dan berorientasi pada hasil, tidak ada alasan yang bisa diterima ketika proyek sebegitu vital terancam mandek. “Bapak Pembangunan” itu menginginkan semua proyek berjalan sesuai target, karena keberhasilan infrastruktur adalah harga mati bagi legitimasi pemerintahannya. Insiden ini konon menjadi salah satu pemicu perombakan di tubuh kabinet ekonomi saat itu, menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh dikorbankan oleh persoalan administrasi.
Tragedi Human Zoo: Anak Afrika Dipamerkan Seperti Binatang di AS
Sementara di belahan dunia lain, sebuah kisah tragis berlatar awal abad ke-20 mencoreng wajah peradaban modern. Seorang anak Afrika dipamerkan di dalam “kebun binatang manusia” di Amerika Serikat. Praktik yang sulit dipercaya ini benar-benar terjadi—warga Afrika dijajakan sebagai tontonan layaknya satwa liar di tengah negara yang mengklaim dirinya sebagai mercusuar kebebasan.
“Sulit dipercaya, tetapi di Amerika Serikat ada ‘kebun binatang manusia’ untuk memamerkan warga Afrika layaknya satwa kepada publik,” tulis sebuah sumber sejarah.
Kisah ini merujuk pada Ota Benga, seorang pria Mbuti dari Kongo yang dibawa secara paksa ke AS pada 1904 oleh seorang penjelajah dan dikontrak sebagai objek pameran. Setelah tampil di Pameran Dunia St. Louis bersama suku-suku lain yang dieksploitasi, ia kemudian ditempatkan di Kebun Binatang Bronx, New York, pada September 1906. Di sana, ia dikurung dalam kandang monyet bersama seekor orangutan. Plang bertuliskan “The African Pigmy” terpampang, seolah menegaskan statusnya bukan sebagai manusia, melainkan spesimen etnografi.
Publik AS saat itu berbondong-bondong menyaksikan “pertunjukan” tidak manusiawi ini. Namun, kecaman dari komunitas kulit hitam dan gereja-gereja Afrika-Amerika memicu perdebatan nasional. Sebuah editorial The New York Times bahkan dengan sinis menyatakan bahwa “orang pigmi lebih suka berada di kebun binatang.” Setelah tekanan publik meningkat, Ota Benga akhirnya dibebaskan dan dititipkan di panti asuhan. Sayangnya, trauma mendalam tak bisa lepas. Ia sempat bekerja di pabrik cerutu dan mencoba membangun hidup baru, tetapi bayang-bayang dehumanisasi terus menghantui. Pada 20 Maret 1916, Ota Benga mengakhiri hidupnya dengan menembak diri sendiri, tepat di jantung Amerika yang menjanjikan kebebasan. Ia hanyalah satu dari sekian banyak korban praktik “human zoo” yang marak di Eropa dan Amerika pada era kolonial, sebuah noda kelam yang sering dilupakan sejarah.
Ironi Dua Peristiwa: Ambisi vs Kemanusiaan
Kedua peristiwa ini, meski berbeda konteks dan masa, menyiratkan kontradiksi tajam dari perjalanan peradaban. Di satu sisi, Soeharto membangun industri dengan tangan besi demi kemajuan bangsa, menjadikan proyek infrastruktur sebagai ukuran keberhasilan. Di sisi lain, di Amerika Serikat, seorang anak Afrika kehilangan nyawa karena rasisme ekstrem yang menjadikannya komoditas tontonan. Jika Proyek Asahan merepresentasikan semangat (yang kadang otoriter) untuk mengejar ketertinggalan, maka human zoo di Bronx adalah pengingat brutal bahwa kemajuan material tidak selalu sejalan dengan kemajuan moral. Sejarah membuktikan, peradaban selalu dibayangi oleh ironi yang menyakitkan.
[SOCIAL_TWEET]: Dua sisi kelam sejarah: Soeharto murka karena Proyek Asahan Rp1,7 T macet, sementara anak Afrika tewas setelah dipamerkan di ‘kebun binatang manusia’ AS. Betapa peradaban dipertaruhkan. #Sejarah #HumanRights #ProyekAsahan[SOCIAL_TG]: 🔥 Soeharto murka proyek Asahan Rp1,7 T tak cair. 😢 Di AS, anak Afrika dipamerkan seperti binatang lalu tewas. Sejarah punya dua wajah.
Comments (0)