BCA Gelar Workshop Gastronomi End-to-End untuk Desa Bakti di Labuan Bajo
Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur — PT Bank Central Asia Tbk (BCA) kembali memperkuat komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat desa melalui program Desa Ba
Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur — PT Bank Central Asia Tbk (BCA) kembali memperkuat komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat desa melalui program Desa Bakti BCA. Kali ini, perusahaan menggelar workshop wisata gastronomi yang menyasar para pengelola Desa Bakti BCA di kawasan pariwisata super prioritas Labuan Bajo. Workshop ini tidak sekadar pelatihan memasak biasa, melainkan mengusung pendekatan penyajian gastronomi secara end-to-end, dari pemilihan bahan baku lokal hingga teknik penyajian yang memikat wisatawan. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, hadir langsung di tengah peserta untuk menegaskan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor kuliner adalah kunci agar desa-desa binaan mampu bersaing di panggung wisata nasional maupun internasional.
Rangkaian Kegiatan: Dari Dapur Tradisional ke Piring Berkelas
Workshop yang diikuti oleh puluhan pengelola dan pelaku usaha kuliner dari Desa Bakti BCA ini dirancang dengan struktur yang ketat namun aplikatif. Berikut kronologi pelaksanaannya yang terpantau oleh tim Beritainti.com:
- Identifikasi Bahan Baku Lokal. Peserta diajak mengenali potensi pangan setempat seperti ikan segar dari perairan Labuan Bajo, rempah-rempah organik, serta sayuran yang banyak tumbuh di pekarangan warga. Instruktur menekankan pentingnya rantai pasok bahan segar agar cita rasa otentik tetap terjaga.
- Teknik Pengolahan Tradisional dan Modern. Sesi ini memadukan metode memasak tradisional yang telah diwariskan turun-temurun dengan sentuhan teknik modern. Peserta mempraktikkan cara mengolah ikan tanpa menghilangkan tekstur alami, serta teknik fermentasi dan pengasapan yang menambah nilai jual.
- Penataan dan Plating Estetis. Di sinilah letak pendekatan end-to-end yang sesungguhnya. Peserta belajar menata hidangan dengan prinsip warna, keseimbangan, dan narasi cerita di balik makanan. Setiap piring yang disajikan diharapkan mampu "berbicara" tentang kekayaan budaya lokal kepada wisatawan.
- Simulasi Layanan Wisatawan. Sebagai penutup, pengelola desa menggelar simulasi jamuan makan di mana mereka berperan sebagai tuan rumah dan wisatawan. Feedback langsung diberikan oleh para fasilitator terkait keramahan, kecepatan penyajian, dan kebersihan.
Hera F. Haryn, yang akrab disapa Hera, menyampaikan optimismenya. "Kami ingin setiap sajian yang lahir dari dapur Desa Bakti BCA bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga menjadi pengalaman tak terlupakan bagi wisatawan. Gastronomi adalah jembatan antara kekayaan alam NTT dengan cerita yang ingin kami bagikan ke dunia," ujarnya saat ditemui di sela-sela kegiatan.
Labuan Bajo: Panggung Strategis Kuliner Nusantara
Pemilihan Labuan Bajo sebagai lokasi workshop bukan tanpa alasan. Kawasan ini telah ditetapkan sebagai destinasi super prioritas nasional dan menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, data dari Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat menunjukkan bahwa lama tinggal wisatawan (length of stay) masih bisa ditingkatkan jika pengalaman kuliner yang disajikan lebih berkesan. Workshop ini merupakan respons langsung BCA terhadap momentum tersebut, dengan target agar setiap Desa Bakti mampu menjadi pusat kuliner autentik yang memperpanjang durasi kunjungan wisatawan.
Seorang peserta asal Desa Bakti di kawasan Mbeliling, Maria, mengaku mendapatkan wawasan baru. "Biasanya kami hanya masak seperti sehari-hari. Sekarang saya mengerti bahwa warna sayur dan potongan ikan bisa memengaruhi selera tamu. Kami juga belajar menghitung porsi dan biaya agar lebih untung," ungkapnya. Hal senada disampaikan oleh Markus, pengelola homestay yang juga hadir. Menurutnya, pelatihan ini membuka peluang kolaborasi antarwarga untuk membentuk paket wisata kuliner terpadu.
Dampak Berjenjang: Ekonomi Kreatif Desa Semakin Bergairah
Dengan pendekatan end-to-end, workshop ini diharapkan menciptakan rantai nilai yang berkelanjutan. Petani lokal akan terserap sebagai pemasok bahan baku, ibu-ibu rumah tangga menjadi juru masak terlatih, dan pemuda desa bisa berperan sebagai pemandu wisata kuliner. BCA mencatat, sejak program Desa Bakti digulirkan, beberapa desa binaan telah menunjukkan peningkatan pendapatan asli desa melalui usaha kuliner. Target ke depan, minimal 10 desa binaan di sekitar Labuan Bajo akan direplikasi model gastronomi end-to-end ini dalam dua tahun mendatang. Hal ini sejalan dengan pilar sustainability BCA yang tidak hanya berfokus pada pembiayaan, tetapi juga pada pengembangan kapasitas komunitas.
Workshop gastronomi ini bukan sekadar seremoni, melainkan investasi jangka panjang BCA terhadap ketahanan ekonomi desa-desa di lingkar destinasi super prioritas. Dengan membekali pengelola Desa Bakti BCA kemampuan menyajikan hidangan yang kompetitif, perusahaan secara tidak langsung turut mengangkat citra Indonesia di mata dunia melalui kekayaan kuliner Nusantara.
[SOCIAL_TWEET]: BCA dorong ekonomi kreatif desa lewat workshop gastronomi end-to-end di Labuan Bajo. Pengelola Desa Bakti belajar pilih bahan, masak, sampai plating berkelas. #BCA #DesaBakti #Gastronomi #LabuanBajo [SOCIAL_TG]: BCA gelar workshop gastronomi Desa Bakti di Labuan Bajo. Peserta belajar masak end-to-end—dari pilih ikan segar sampai plating estetik. Targetnya, desa binaan makin cuan dari wisata kuliner!
Comments (0)