Alarm Bahaya untuk Argentina Jelang Perempat Final Piala Dunia 2026
Argentina melangkah ke perempat final Piala Dunia 2026, namun euforia kelolosan itu justru dibayangi segudang tanda tanya. Sang juara bertahan tampil jauh dari dominasi yang mereka pamerkan empat tahu...
Argentina melangkah ke perempat final Piala Dunia 2026, namun euforia kelolosan itu justru dibayangi segudang tanda tanya. Sang juara bertahan tampil jauh dari dominasi yang mereka pamerkan empat tahun lalu di Qatar. Jika tidak segera membenahi diri, mimpi mempertahankan trofi emas bisa kandas lebih cepat dari perkiraan.
Langkah Tersendat di Fase Grup
Perjalanan La Albiceleste sudah bergelombang sejak peluit awal turnamen dibunyikan. Di laga pembuka Grup E melawan tim kuda hitam Ukraina, skuat asuhan Lionel Scaloni justru tertinggal lebih dulu pada menit ke-18 lewat serangan balik cepat yang mengekspos lubang di sisi kanan pertahanan. Skor akhir 1-1 terasa seperti kekalahan mengingat Argentina memegang penguasaan bola mencapai 68 persen namun hanya mencatatkan dua shots on target sepanjang 90 menit.
Laga kedua kontra Selandia Baru sempat memberi angin segar. Kemenangan 2-0 lahir berkat gol Lionel Messi dari titik putih di menit ke-41 dan sontekan Julian Alvarez memanfaatkan assist brilian Enzo Fernandez pada menit ke-73. Namun statistik kembali menunjukkan anomali: Argentina hanya unggul tipis dalam penguasaan bola, 53 berbanding 47 persen, dan jumlah tembakan tepat sasaran yang hanya berselisih satu. Clean sheet yang diraih Emiliano Martinez lebih banyak berkat ketangguhan individu ketimbang solidnya koordinasi lini belakang.
Puncak kegamangan terjadi pada laga pamungkas fase grup melawan Korea Selatan. Argentina dipaksa bermain dengan 10 orang sejak menit ke-34 setelah Cristian Romero menerima kartu merah langsung akibat pelanggaran keras yang dikonfirmasi melalui tinjauan VAR. Meski akhirnya menang tipis 1-0 lewat sepakan jarak jauh Rodrigo De Paul di menit ke-82, skor ini jelas bukan representasi performa tim unggulan. Argentina kehilangan ritme, mudah dipressing, dan kerap salah umpan di sepertiga lapangan sendiri — pertanda bahaya yang semakin nyata.
Babak 16 Besar: Drama yang Menyisakan Trauma
Pertemuan dengan Kroasia di babak 16 besar mempertemukan dua raksasa yang sama-sama haus darah. Duel ini menyuguhkan drama tujuh gol yang akan dikenang sebagai salah satu laga klasik Piala Dunia. Argentina sempat unggul dua gol pada babak pertama lewat aksi individu brilian Messi di menit ke-22 dan sundulan Nicolas Otamendi dari skema bola mati pada menit ke-38. Skor 2-0 di babak pertama bukan jaminan keamanan.
Kroasia bangkit dengan luar biasa di babak kedua. Luka Modric memangkas jarak pada menit ke-55 melalui tendangan bebas melengkung yang tak mampu dijangkau Martinez. Lima menit berselang, Josko Gvardiol menyamakan kedudukan lewat kekacauan di kotak penalti Argentina hasil skema sepak pojok. Ketika seluruh momentum tampak beralih ke kubu Eropa, Messi kembali muncul sebagai penyelamat dengan mencetak gol ketiganya di menit ke-78. Namun Kroasia belum menyerah. Ivan Perisic memaksa pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu lewat gol offside yang kontroversial di menit ke-89 — wasit sempat mendiskusikannya selama tiga menit sebelum VAR mengesahkan gol tersebut.
Di masa extra time, kedua tim saling jual beli serangan dengan intensitas tinggi. Argentina akhirnya memastikan tiket perempat final setelah Lautaro Martinez mencetak gol kemenangan 4-3 pada menit ke-112, memanfaatkan assist brilian Leandro Paredes yang baru masuk di menit ke-100. Kemenangan ini menyembunyikan fakta bahwa Argentina kebobolan tiga gol dalam satu pertandingan untuk pertama kalinya di Piala Dunia sejak 2018 — sebuah alarm bahaya yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Masalah Fundamental: Lini Belakang Rapuh dan Overdosis Messi
Data tidak pernah berbohong. Dalam empat pertandingan sejauh ini, Argentina hanya mencatatkan satu clean sheet — itu pun diraih dengan susah payah melawan Selandia Baru yang minim pengalaman. Total kebobolan sudah mencapai lima gol, angka yang sangat kontras dibandingkan periode yang sama di Piala Dunia 2022 ketika Martinez baru sekali memungut bola dari gawangnya sendiri. Absennya konsistensi di jantung pertahanan menjadi biang keladi. Duet Romero dan Otamendi tampak sering kehilangan komunikasi, sementara full-back Nahuel Molina dan Marcos Acuna lebih sering tertangkap posisi saat membantu serangan.
Di sisi lain, ketergantungan terhadap Lionel Messi sudah mencapai level yang mengkhawatirkan. Dari tujuh gol yang dicetak Argentina, empat di antaranya lahir dari kaki sang kapten — termasuk dua assist. Formasi 4-3-3 yang diterapkan Scaloni kerap kehilangan kejutan ketika Messi dijaga ketat dua hingga tiga pemain lawan. Alexis Mac Allister dan Enzo Fernandez belum konsisten menjadi penghubung lini tengah dengan sektor depan, sementara Julian Alvarez masih kesulitan menciptakan ruang tembak sendiri tanpa umpan-umpan terobosan matang dari Messi.
Shots on target rata-rata Argentina per pertandingan hanya berada di angka 3,5 — menurun drastis dibandingkan edisi 2022 yang menyentuh 5,8. Artinya, kreativitas serangan dan efektivitas penyelesaian akhir sedang berada dalam tren negatif. Melawan Kroasia, meski mencetak empat gol, dua di antaranya lahir dari keajaiban individu Messi dan satu dari situasi bola mati — bukan dari open play yang terstruktur.
Jelang Perempat Final: Panggilan untuk Berbenah
Calon lawan di perempat final dipastikan tidak akan memberi ampun. Baik itu Brasil, Prancis, atau Jerman yang juga sudah memastikan tempat, semuanya memiliki lini depan mematikan yang siap mengeksploitasi kerapuhan pertahanan Argentina. Scaloni harus segera menemukan formula baru — entah itu beralih ke formasi tiga bek, memainkan gelandang bertahan tambahan, atau memberikan kejutan dengan memasukkan pemain muda berbakat yang haus pembuktian.
Yang pasti, status juara bertahan tidak akan menyelamatkan Argentina jika performa di atas lapangan terus menunjukkan inkonsistensi. Penonton netral mungkin menikmati drama dan hujan gol, tetapi bagi tim dengan ambisi mempertahankan mahkota, setiap kebobolan adalah pertanda bahaya. Argentina butuh lebih dari sekadar sihir Messi; mereka butuh kolektivitas, disiplin taktik, dan mentalitas baja yang pernah mengantarkan mereka ke puncak dunia. Waktu terus berjalan, dan perubahan harus terjadi sekarang — atau pulang lebih awal akan menjadi kenyataan pahit yang harus ditelan.
Comments (0)