Scaloni Tertunduk Usai Argentina Kalah di Final Piala Dunia 2026

East Rutherford — Peluit panjang berbunyi di Stadion New York/New Jersey, dan skor akhir mencatat kekecewaan mendalam bagi Timnas Argentina. Kekalahan di partai puncak Piala Dunia 2026 melawan Spany...

Oct 09, 2026 - 17:35
0 0
Scaloni Tertunduk Usai Argentina Kalah di Final Piala Dunia 2026

East Rutherford — Peluit panjang berbunyi di Stadion New York/New Jersey, dan skor akhir mencatat kekecewaan mendalam bagi Timnas Argentina. Kekalahan di partai puncak Piala Dunia 2026 melawan Spanyol menjadi titik getir bagi pelatih kepala Lionel Scaloni, yang terlihat terdiam di pinggir lapangan saat para pemainnya menunduk meninggalkan lapangan.

Laga yang digelar pada 20 Juli 2026 itu menjadi panggung terakhir perjalanan panjang Argentina di turnamen empat tahunan. Scaloni, yang membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar, kali ini harus menerima kenyataan bahwa timnya gagal mempertahankan gelar di hadapan puluhan ribu pendukung yang memadati tribun.

Jalannya Pertandingan Final

Sejak menit awal, kedua tim tampil dengan intensitas tinggi. Argentina mengusung formasi 4-3-3 dengan tekanan tinggi di lini tengah, sementara Spanyol bermain disiplin dalam skema 4-2-3-1 yang mengandalkan penguasaan bola. Statistik babak pertama menunjukkan Spanyol mendominasi dengan penguasaan bola mencapai 58 persen, sedangkan Argentina hanya 42 persen.

Menit ke-23, Spanyol membuka peluang emas melalui tendangan dari luar kotak penalti yang masih melebar tipis di sisi kanan gawang. Argentina merespons pada menit ke-34 melalui serangan balik cepat, namun penyelesaian akhir masih belum menemui sasaran. Hingga turun minum, tidak ada gol tercipta, meski Spanyol mencatatkan empat shots on target berbanding dua milik Argentina.

Memasuki babak kedua, tempo pertandingan semakin panas. Scaloni melakukan rotasi dengan memasukkan pemain segar di lini serang pada menit ke-60. Namun, Spanyol justru memecah kebuntuan pada menit ke-71 lewat gol yang berawal dari umpan terobosan di sisi kiri pertahanan Argentina. Assist manis itu diselesaikan dengan tenang ke sudut jauh gawang.

Argentina berusaha bangkit. Menit ke-78, sebuah peluang emas tercipta, tetapi kiper Spanyol tampil gemilang dengan penyelamatan refleks. VAR sempat meninjau potensi offside pada menit ke-83, namun wasit memutuskan tidak ada pelanggaran. Hingga peluit akhir, Argentina tidak mampu menyamakan kedudukan.

Statistik dan Taktik yang Menentukan

Secara keseluruhan, Spanyol mencatatkan penguasaan bola 56 persen, dengan delapan shots on target berbanding lima milik Argentina. Jumlah pelanggaran Argentina sedikit lebih tinggi, yakni 14 berbanding 11, dengan tiga kartu kuning dikeluarkan untuk pemain Argentina dan dua untuk Spanyol. Tidak ada kartu merah dalam laga ini.

Scaloni dinilai kurang berhasil menyesuaikan taktik di babak kedua. Pergantian pemain yang dilakukan tidak mampu mengubah alur serangan yang tersendat. Lini tengah Argentina kewalahan menghadapi pressing ketat Spanyol, yang sering memaksa umpan panjang dan kehilangan penguasaan bola di area kritis.

Kiper Argentina mencatatkan lima penyelamatan penting, namun tidak cukup untuk menjaga clean sheet di partai final. Sementara itu, lini belakang Argentina beberapa kali lengah menghadapi pergerakan tanpa bola pemain Spanyol, terutama di sisi sayap.

Reaksi dan Masa Depan Scaloni

Usai pertandingan, Scaloni tampak duduk di bangku cadangan dengan tatapan kosong. Momen itu menjadi simbol betapa pahitnya kekalahan di final. Dalam konferensi pers, ia menyampaikan penghormatan kepada para pemainnya meski hasil akhir tidak sesuai harapan.

"Kami telah memberikan segalanya. Sepak bola kadang memberi, kadang mengambil. Hari ini milik Spanyol, dan kami harus menerima itu," ujar Scaloni dengan nada datar.

Kekalahan ini memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan Scaloni bersama Timnas Argentina. Kontraknya akan menjadi sorotan publik dalam beberapa pekan ke depan. Sejumlah pihak menilai perjalanan Argentina di Piala Dunia 2026 tetap patut diapresiasi, mengingat mereka mampu melaju hingga partai puncak di tengah kompetisi yang semakin ketat.

Bagi Spanyol, kemenangan ini menjadi gelar Piala Dunia kedua mereka setelah 2010. Sementara bagi Argentina, final di East Rutherford akan dikenang sebagai babak yang menyakitkan dari era keemasan Scaloni yang belum berakhir, namun kini dihantui tanda tanya.

Data mencatat Argentina menempuh tujuh pertandingan di turnamen ini dengan rata-rata penguasaan bola 52 persen, mencetak 12 gol, dan kebobolan lima gol sebelum final. Kini, semua angka itu hanya menjadi catatan statistik dari perjalanan yang berakhir di tangga kedua.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User