Oct 12, 2026
Nasional

Rumah Duka Guruh Soekarnoputra di Kebayoran Baru Dibanjiri Pelayat

JAKARTA — Halaman rumah di Jalan Sriwijaya Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, berubah wajah sejak pagi. Rumah duka Guruh Soekarnoputra, Sabtu (26/9), d

Rumah Duka Guruh Soekarnoputra di Kebayoran Baru Dibanjiri Pelayat

JAKARTA — Halaman rumah di Jalan Sriwijaya Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, berubah wajah sejak pagi. Rumah duka Guruh Soekarnoputra, Sabtu (26/9), dipenuhi karangan bunga, tenda putih, dan ratusan orang yang datang silih berganti. Mereka bukan hanya kerabat atau kolega politik, melainkan juga warga biasa yang merasa perlu hadir secara fisik untuk memberi penghormatan terakhir kepada putra bungsu Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Arus pelayat mengalir pelan namun ajek. Sejumlah kendaraan terparkir rapi di sepanjang bahu jalan, sementara petugas keamanan mengatur antrean agar tidak menutup akses permukiman. Dari balik pagar, terlihat sejumlah tokoh nasional masuk dan keluar dengan wajah tertunduk. Tidak ada sorak-sorai, tidak ada sorotan kamera yang dipamerkan — hanya langkah-langkah pelan dan bisik-bisik doa yang menemani.

"Saya datang bukan karena mengenal beliau secara pribadi. Saya datang karena nama Soekarno masih hidup di rumah ini, dan saya ingin menjadi bagian dari penghormatan itu," ujar seorang pelayat paruh baya yang enggan disebutkan namanya.

Kebayoran Baru dan Memori Panjang Keluarga Soekarno

Pilihan lokasi rumah duka ini bukan tanpa makna. Jalan Sriwijaya Raya telah lama dikenal sebagai salah satu pusat memori keluarga Soekarno di Jakarta — tempat yang jarang lepas dari kunjungan peziarah, peneliti sejarah, hingga politikus yang ingin menegaskan garis ideologisnya. Ketika duka datang, rumah itu seolah berubah menjadi ruang publik: tempat orang menegosiasikan kembali apa arti warisan Soekarno bagi Indonesia hari ini.

Bagi banyak pelayat, kehadiran di Kebayoran Baru adalah cara paling sederhana untuk mengucapkan sesuatu yang tidak pernah sempat diucapkan kepada generasi pertama republik. Guruh Soekarnoputra adalah satu dari lima anak Soekarno, dan sosoknya kerap dipandang sebagai penghubung antara warisan politik ayahnya dan dunia seni yang ia geluti sepanjang hidup.

Guruh: Seniman, Koreografer, dan Politikus

Di luar garis keturunan, Guruh dikenal luas melalui karya. Ia membangun karier sebagai penari, koreografer, dan pendiri kelompok seni yang membawa tari tradisional Indonesia ke panggung yang lebih modern. Pendekatan itu membuatnya berbeda dari saudara-saudaranya yang lebih banyak bergerak di ruang politik praktis.

RanahPeran Publik
Seni pertunjukanPenari, koreografer, pendiri kelompok seni
PolitikAnggota legislatif dari partai berlatar nasionalis
KeluargaPutra bungsu Soekarno, penjaga rumah keluarga

Kombinasi itu membuat sosoknya sulit dikotakkan. Ia bukan politikus murni, bukan pula seniman yang menutup diri dari isu kebangsaan. Kedua identitas itu melebur dalam cara ia berbicara soal Indonesia: tentang kebinekaan, tentang tradisi yang harus dirawat, dan tentang keberanian budaya.

Duka yang Menjadi Peristiwa Kolektif

Yang menarik dari peristiwa ini bukan hanya siapa yang datang, tetapi mengapa mereka datang. Di era ketika politik identitas sering memecah, rumah duka justru menyatukan. Pelayat dari berbagai latar belakang berdiri dalam antrean yang sama, menunggu giliran untuk sekadar melongokkan kepala dan mengucapkan doa.

Sejumlah pengamat menilai momen seperti ini penting bagi konsolidasi memori sejarah. Rumah keluarga Soekarno tetap menjadi simbol yang mampu menarik perhatian lintas generasi, bahkan ketika saksi sejarahnya satu per satu berpulang. Bagi generasi muda, kehadiran di lokasi semacam ini kerap menjadi bentuk pendidikan sejarah yang paling langsung.

Hingga sore, arus pelayat belum menunjukkan tanda surut. Beberapa orang datang membawa karangan bunga, sebagian lain hanya membawa air minum dan payung. Semuanya duduk di kursi plastik yang disediakan, menunggu nama mereka dipanggil. Di Jalan Sriwijaya Raya, duka pribadi sebuah keluarga telah menjelma menjadi peristiwa kolektif bangsa — dan itu, apa pun warna politiknya, adalah cara Indonesia mengingat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User