Rodgers Oloo Magutha Viral Jadi Manusia Burung usai Tidur di Jalanan
Langit sore di Nairobi kerap menjadi panggung pertunjukan yang tak biasa. Seekor elang hitam Verreaux dengan lebar sayap nyaris dua meter terbang rendah, l
Langit sore di Nairobi kerap menjadi panggung pertunjukan yang tak biasa. Seekor elang hitam Verreaux dengan lebar sayap nyaris dua meter terbang rendah, lalu hinggap anggun di lengan seorang pria kurus berkulit legam. Pria itu adalah Rodgers Oloo Magutha, atau yang kini lebih dikenal sebagai Nairobi Birdman. Videonya berjalan santai bersama elang raksasa itu menyebar liar di media sosial, mengubah hidupnya dalam sekejap. Padahal, beberapa tahun lalu, Rodgers justru terbiasa tidur di emperan toko dan berjuang melawan kelaparan di jalanan ibu kota Kenya.
Dari Jalanan Menuju Viral
Rodgers Oloo Magutha bukan siapa-siapa hingga akhir 2025. Ia adalah satu dari ribuan tunawisma yang mengais rezeki di pusat kota Nairobi. Kehidupannya berubah total ketika seorang fotografer satwa liar tak sengaja merekam aksinya memberi makan sekelompok elang di kawasan konservasi. Video itu langsung mencuri perhatian. Dalam hitungan jam, potretnya berbagi ruang dengan burung pemangsa puncak itu ditonton lebih dari 30 juta kali di berbagai platform. “Saya tidak pernah membayangkan burung-burung itu akan menjadi keluarga saya,” ujar Rodgers dengan suara parau, Sabtu lalu, saat ditemui di pusat rehabilitasi satwa di pinggiran Nairobi.
Masa kecil Rodgers dihabiskan di pedesaan Nyandarua. Keluarga besarnya menggantungkan hidup pada bertani, namun kekeringan panjang dan konflik lahan memaksanya merantau ke kota pada usia 14 tahun. Tanpa bekal pendidikan formal, ia jatuh ke dalam pusaran kehidupan jalanan. Tiga belas tahun ia lewatkan sebagai gelandangan, sesekali membantu pemulung atau menjadi buruh bangunan harian. Namun titik balik terjadi ketika seekor elang hitam dewasa yang ia temukan terluka di dekat rel kereta api mendekatinya dengan lemas. Rodgers merawatnya bermodal sisa makanan yang ia kumpulkan. Sejak itu, burung-burung liar lain mulai berdatangan, seolah mengakui lelaki itu sebagai bagian dari kawanan.
Ikatan Unik dengan Elang Hitam
Para ahli etologi menyebut fenomena ini sebagai inter-species bonding yang langka. Dr. Wanjiru Mwangi, peneliti perilaku burung dari Universitas Nairobi, menjelaskan, elang Verreaux memiliki kecerdasan sosial tinggi dan mampu mengenali individu manusia yang konsisten memberi perlakuan positif.
“Rodgers menunjukkan pola komunikasi nonverbal yang sangat mirip dengan yang digunakan elang dalam kawanannya. Itu sebabnya mereka menerimanya,”tutur Dr. Wanjiru. Kini, Rodgers aktif mendampingi tim konservasi lokal untuk memantau populasi elang yang menurun drastis akibat perburuan dan penyusutan habitat. Kehadirannya bahkan membantu mengurangi konflik antara peternak dan elang yang kerap memangsa ternak kecil.
Fenomena Nairobi Birdman bukan sekadar hiburan viral. Rodgers telah diundang ke berbagai forum lingkungan dan menjadi duta tak resmi bagi perlindungan raptor di Afrika Timur. Pendapatan dari donasi daring dan kerja sama konten digunakan untuk membangun posko rehabilitasi sederhana yang menampung lebih dari 17 ekor burung pemangsa yang tengah dipulihkan. Ia masih tinggal di rumah kontrakan sederhana, tetapi tidak lagi kelaparan. “Dulu saya hanya tidur di jalanan; sekarang saya punya alasan untuk bangun setiap pagi,” katanya.
Pemerintah Kota Nairobi pun mulai melirik potensi ekowisata yang bisa digali dari sosok Rodgers. Rencana pembangunan bird sanctuary berbasis komunitas kini tengah digodok, melibatkan Rodgers sebagai mentor bagi anak-anak jalanan yang ingin belajar mencintai alam. Cerita Rodgers membuktikan bahwa ikatan manusia dan satwa liar dapat membalikkan narasi kemiskinan dan keputusasaan menjadi kisah restorasi yang menyentuh hati jutaan orang.
Comments (0)