Waduk Guangxi Jebol, 39 Korban Jiwa Meninggal di Gantang

Desa Gantang, Guangxi, berubah menjadi lautan lumpur cokelat pekat pada Senin dini hari. Suara gemuruh menggelegar membangunkan warga yang tengah terlelap,

Waduk Guangxi Jebol, 39 Korban Jiwa Meninggal di Gantang

Desa Gantang, Guangxi, berubah menjadi lautan lumpur cokelat pekat pada Senin dini hari. Suara gemuruh menggelegar membangunkan warga yang tengah terlelap, diikuti terjangan air bah setinggi atap rumah. Dalam hitungan menit, rumah-rumah bata dan kayu rata dengan tanah, menyisakan puing-puing yang berserakan di antara pohon tumbang. Bencana ini terjadi setelah Waduk Gantang di Kabupaten Wuming, Provinsi Guangxi, jebol akibat curah hujan ekstrem yang mengguyur sejak akhir pekan. Hingga Kamis pagi, otoritas setempat mengonfirmasi 39 orang meninggal dunia, 14 lainnya masih dinyatakan hilang, dan lebih dari 200 keluarga kehilangan tempat tinggal.

Bencana di Pagi Buta

Suasana mencekam masih terasa empat hari pascabencana. Warga dengan wajah lelah dan baju berlumur lumpur tampak mengais sisa perabotan yang tertimbun material. Di sudut desa, seorang ibu paruh baya bernama Chen Liying terduduk di depan fondasi rumahnya yang nyaris tak bersisa.

“Saya hanya sempat membawa anak bungsu keluar. Suami dan anak sulung saya terseret arus. Sampai sekarang belum ditemukan,”
ujarnya dengan suara tercekat. Lumpur setebal satu meter masih menyelimuti sebagian besar area permukiman, menyulitkan tim penyelamat yang terus bekerja dibantu anjing pelacak dan alat berat.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana setempat, Li Jun, menyatakan bahwa jebolnya waduk diduga kuat dipicu oleh curah hujan yang mencapai 400 milimeter dalam 24 jam, jauh melampaui kapasitas desain bendungan. Usia waduk yang sudah lebih dari 35 tahun serta perawatan yang tidak memadai turut menjadi faktor penyebab. Pemerintah pusat di Beijing langsung mengirimkan tim investigasi independen. “Kami akan mengusut tuntas dugaan kelalaian dalam pengelolaan bendungan ini,” tegas Li Jun.

Evakuasi yang Terhambat Medan

Proses evakuasi berlangsung dramatis. Jalan menuju Desa Gantang terputus di beberapa titik akibat longsor, sehingga bantuan logistik harus diangkut menggunakan helikopter militer. Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi 127 warga selamat, sebagian besar mengalami luka berat dan hipotermia. Korban luka dirawat di dua rumah sakit darurat yang didirikan di lapangan bola desa tetangga. Palang Merah China dan sejumlah LSM internasional telah mendirikan dapur umum serta posko trauma healing, terutama bagi anak-anak yang menyaksikan langsung kengerian malam itu.

Sejarah mencatat bahwa kegagalan bendungan bukan hal baru di China. Pada 1975, jebolnya Bendungan Banqiao di Henan menewaskan lebih dari 170.000 jiwa akibat banjir dahsyat. Meskipun teknologi pengelolaan waduk telah jauh berkembang, sejumlah infrastruktur tua di pedesaan masih rentan terhadap cuaca ekstrem yang kian sering dipicu perubahan iklim. Pakar hidrologi dari Universitas Tsinghua, Profesor Zhang Wei, mengingatkan, “Lebih dari 30 persen bendungan skala kecil-kecilan di China berusia di atas 30 tahun dan belum direnovasi sesuai standar mutakhir.”

Duka dan Respons Pemerintah

Perdana Menteri China segera menginstruksikan pencairan dana darurat senilai 100 juta yuan untuk rehabilitasi dan kompensasi korban. Pemerintah daerah Guangxi juga menjanjikan relokasi permanen bagi warga yang rumahnya hancur total. Namun di lapangan, trauma belum akan mudah pulih. Setiap kali hujan deras turun, warga Gantang dilanda kecemasan luar biasa. Mereka menuntut transparansi investigasi agar tragedi serupa tidak terulang. Sementara itu, tim teknis mulai mengkaji ulang seluruh waduk di sepanjang Sungai Zuojiang untuk memetakan risiko potensial.

Di balik lumpur dan duka, muncul solidaritas yang mengharukan. Ratusan relawan dari kota-kota sekitar membanjiri posko bantuan. Sumbangan pakaian, selimut, dan makanan mengalir deras. Seorang relawan muda, Wang Lin, berkata, “Kami mungkin tidak bisa mengembalikan yang hilang, tapi kami ingin mereka tahu tidak sendirian.” Kata-kata itu menjadi secercah cahaya di tengah gelapnya bencana yang merenggut 39 nyawa dan menyisakan luka mendalam bagi warga Gantang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User