BRI Peduli Bangun PLTS di Desa Bojong Bandung Barat

Di tengah hiruk-pikuk transisi energi nasional, langkah nyata hadir dari sebuah desa kecil di Kabupaten Bandung Barat. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) T

BRI Peduli Bangun PLTS di Desa Bojong Bandung Barat

Di tengah hiruk-pikuk transisi energi nasional, langkah nyata hadir dari sebuah desa kecil di Kabupaten Bandung Barat. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui program BRI Peduli meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Bojong, menandai babak baru bagi energi bersih di wilayah perdesaan. Bukan sekadar seremonial, proyek ini menjadi simbol bagaimana korporasi besar dapat menyentuh langsung denyut kehidupan masyarakat akar rumput. Panel-panel surya yang terpasang apik di atap fasilitas umum dan lahan terbuka kini mengonversi sinar matahari menjadi aliran listrik stabil, menggantikan ketergantungan pada sumber energi konvensional yang tak jarang tersendat di pelosok.

Menjawab Tantangan Energi di Perdesaan

Desa Bojong, seperti banyak desa lain di Jawa Barat, selama ini bergulat dengan dua persoalan klasik: akses listrik yang tak merata dan biaya energi yang membebani warga berpenghasilan rendah. Listrik dari PLN memang sudah masuk, namun fluktuasi tegangan dan pemadaman bergilir masih kerap terjadi, terutama saat musim hujan. “Kami sering mati lampu mendadak, padahal anak-anak butuh belajar malam,” ujar salah satu warga yang rumahnya kini teraliri listrik dari PLTS. Melalui program CSR ini, BRI Peduli membangun PLTS berkapasitas 50 kilowatt peak (kWp), cukup untuk memasok kebutuhan listrik sekitar 200 rumah tangga serta fasilitas vital seperti masjid, sekolah, dan puskesmas pembantu. Teknologi sel surya monocrystalline yang digunakan mampu menangkap radiasi matahari sekalipun di cuaca mendung, didukung baterai lithium berkapasitas total 120 kWh yang menyimpan energi untuk digunakan malam hari.

Arsitektur Program: Lebih dari Sekadar Panel Surya

Proyek ini tidak dirancang secara instan. Sejak tahap perencanaan pada awal 2025, BRI menggandeng pemerintah desa, akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), serta penyedia teknologi lokal untuk memetakan potensi energi surya dan kebutuhan riil masyarakat. Pendekatan partisipatif menjadi kunci: warga dilibatkan dalam pemasangan dan perawatan dasar panel, sehingga transfer pengetahuan terjadi secara alami. Sebanyak 15 pemuda desa dilatih menjadi teknisi PLTS, menciptakan lapangan kerja baru yang berkelanjutan. Tak hanya listrik, program ini mendorong produktivitas ekonomi; mesin penggilingan padi dan pendingin hasil tani kini beroperasi lebih lama tanpa khawatir biaya listrik membengkak. Satu unit cold storage sederhana pun dibangun untuk membantu petani menyimpan sayuran segar lebih lama—sebuah revolusi kecil bagi rantai pasok lokal.

“BRI Peduli hadir bukan sekadar membangun infrastruktur, tapi membangun ekosistem. PLTS ini adalah katalisator kemandirian desa. Kami ingin energi bersih membawa manfaat ekonomi langsung, bukan hanya menekan emisi karbon,” jelas Direktur Human Capital BRI, yang hadir dalam seremoni peresmian, Senin (13/7).

Dampak Multidimensi: Lingkungan, Sosial, Ekonomi

Dari perspektif lingkungan, proyek ini diperkirakan mampu mengurangi emisi karbon dioksida hingga 40 ton per tahun—setara dengan menanam 2.000 pohon setiap tahunnya. Desa Bojong yang dikelilingi perbukitan hijau kini menjadi laboratorium hidup energi terbarukan berbasis komunitas. Di sektor sosial, akses listrik yang andal membuka peluang pendidikan lebih luas: sekolah dasar setempat kini memiliki ruang komputer yang berfungsi penuh, memungkinkan siswa belajar literasi digital. Rumah ibadah juga menjadi lebih hidup dengan pencahayaan yang memadai untuk kegiatan keagamaan malam hari. Sementara itu, secara ekonomi, penghematan biaya listrik mencapai 30-40 persen dibandingkan sebelumnya, dana yang bisa dialihkan warga untuk modal usaha kecil seperti warung kelontong atau kerajinan tangan.

Efek berganda (multiplier effect) semakin terasa. Seorang pengrajin tahu rumahan, Pak Jajang, mengaku produksinya meningkat dua kali lipat sejak memanfaatkan listrik PLTS. “Dulu saya pakai kayu bakar buat masak kedelai, boros waktu dan tenaga. Sekarang pakai kompor listrik dari tenaga surya, lebih cepat dan bersih. Hasil tahu lebih banyak, pendapatan naik,” tuturnya. Kisah ini mencerminkan bagaimana energi bersih dapat mentransformasi ekonomi skala mikro dari titik yang paling dasar.

Sinergi dengan Peta Jalan Energi Nasional

Inisiatif BRI Peduli ini sejalan dengan target pemerintah untuk mencapai bauran energi terbarukan 23% pada tahun 2025 dan net zero emission pada 2060. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mendorong pengembangan PLTS atap dan PLTS terpusat di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Meski Desa Bojong tidak termasuk kategori 3T, proyek ini menjadi model replikasi untuk desa-desa semi-urban yang masih menghadapi ketidakpastian pasokan listrik. BRI menegaskan komitmennya untuk memperluas program serupa ke 10 desa lain di Pulau Jawa dan Sumatra pada tahun 2027. Anggaran CSR yang digelontorkan untuk Desa Bojong sendiri mencapai Rp3,2 miliar, mencakup instalasi PLTS, baterai, pelatihan, dan pemeliharaan selama tiga tahun pertama. Setelah masa transisi, pengelolaan akan diserahkan kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat.

Kolaborasi multipihak menjadi fondasi keberhasilan. Dinas Energi Provinsi Jawa Barat memberikan dukungan perizinan dan monitoring teknis, sementara startup energi lokal “Surya Nusantara” bertindak sebagai pelaksana dan penyedia panel domestik dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 40 persen. Model ini sekaligus mendorong pertumbuhan industri manufaktur surya dalam negeri, mengurangi ketergantungan impor.

Tantangan dan Keberlanjutan

Tak ada proyek tanpa tantangan. Medan berbukit di Desa Bojong sempat menyulitkan pengiriman material, sementara adaptasi budaya masyarakat terhadap teknologi baru memerlukan pendekatan persuasif. Tim BRI Peduli mengatasinya dengan kampanye literasi energi melalui pertemuan rutin RT dan RW, serta simulasi langsung manfaat PLTS. Ke depan, persoalan utama adalah memastikan ketersediaan suku cadang dan pembiayaan perawatan setelah masa tanggung jawab BRI berakhir. Untuk itu, skema iuran warga sebesar Rp5.000 per bulan per rumah mulai disosialisasikan sebagai bentuk kepemilikan kolektif. “Kami tidak ingin proyek ini mangkrak. Ini milik kami, kami harus jaga bersama,” kata Kepala Desa Bojong, Tatang Suherman.

Para ahli energi melihat proyek ini sebagai bukti konkret bahwa swasta dan BUMN dapat menjadi motor penggerak transisi energi dari bawah. Profesor Adi Nugroho dari Pusat Studi Energi UGM menilai, model desa mandiri energi yang diterapkan BRI bisa menjadi template nasional. “Desa memiliki potensi besar untuk menjadi produsen energi, bukan hanya konsumen. Jika satu desa bisa surplus dan menjual kejaringan PLN, akan tercipta ekosistem energi yang demokratis dan tangguh,” komentarnya. Dengan PLTS di Bojong, langkah kecil itu kini bukan lagi angan-angan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User