Rahmat Erwin dan Rizki Juniansyah Beda Kelas di Asian Games 2026
Kabar besar datang dari arena angkat besi Asia. Dua ikon Merah Putih, Rahmat Erwin Abdullah dan Rizki Juniansyah, dipastikan tidak akan lagi berbagi panggung yang sama di Asian Games 2026. Federasi re...
Kabar besar datang dari arena angkat besi Asia. Dua ikon Merah Putih, Rahmat Erwin Abdullah dan Rizki Juniansyah, dipastikan tidak akan lagi berbagi panggung yang sama di Asian Games 2026. Federasi resmi memisahkan keduanya ke kategori berbeda: Rizki Juniansyah akan bertarung di kelas 71 kg, sementara Rahmat Erwin naik ke kelas 79 kg. Keputusan ini mengakhiri era persaingan internal dua lifter elite yang selama bertahun-tahun sama-sama membesarkan nama kelas 73 kg — dan sekaligus membuka peluang Indonesia memburu dua medali emas sekaligus saat pesta olahraga Asia digelar di Aichi-Nagoya, Jepang, 19 September hingga 4 Oktober 2026.
Regulasi Baru IWF Memaksa Perpisahan
Perpisahan ini tidak terjadi tanpa sebab. Federasi Angkat Besi Dunia (IWF) merombak total kategori berat badan mulai musim 2025, menghapus kelas 73 kg yang selama ini menjadi rumah kedua lifter, lalu menggantinya dengan delapan kategori anyar: 60, 65, 71, 79, 88, 94, 110, dan +110 kg. Konsekuensinya jelas — Rahmat dan Rizki harus memilih jalan masing-masing. Tim pelatih akhirnya mengambil langkah strategis: Rizki memangkas berat badan untuk turun ke 71 kg, sementara Rahmat menambah massa untuk naik ke 79 kg. Daripada saling menyingkirkan di satu kelas, Indonesia kini punya dua kuda pacu di dua lintasan berbeda.
Statistik Dua Monster Angkatan
Kalau bicara data, keduanya bukan nama sembarangan. Rizki Juniansyah adalah peraih emas Olimpiade Paris 2024 dengan total angkatan 354 kg — snatch 155 kg plus clean and jerk 199 kg yang sekaligus memecahkan rekor Olimpiade. Momen ketika barbel 199 kg itu terangkat sempurna di Paris masih menjadi salah satu highlight terbesar sejarah olahraga Indonesia. Rizki juga tercatat sebagai pemegang rekor dunia total 365 kg di kelas 73 kg. Di sisi lain, Rahmat Erwin menyandang perunggu Olimpiade Tokyo 2020, emas Asian Games 2022 di Hangzhou, dan status pemilik rekor dunia clean and jerk 204 kg. Menariknya, di Hangzhou keduanya pernah finis 1-2 untuk Indonesia — Rahmat emas, Rizki perak — sebuah dominasi langka yang kini mustahil terulang karena mereka resmi berbeda arena. Musim 2025, Rahmat bahkan sudah membuktikan diri dengan menaklukkan kelas 79 kg di pentas Kejuaraan Dunia, sinyal kuat bahwa keputusan naik kelas adalah pilihan tepat.
Analisis: Dua Tiket Emas, Bukan Satu
Dari kacamata taktik, pemisahan ini adalah langkah cerdas pembinaan jangka panjang. Di kelas 71 kg, Rizki diprediksi langsung menyandang status unggulan teratas — catatan total angkatan pribadinya secara statistik melampaui rata-rata kekuatan lifter di kategori baru tersebut. Tantangan terbesarnya justru datang dari dalam: memangkas berat badan tanpa kehilangan power eksplosif saat mengeksekusi snatch. Sementara di 79 kg, Rahmat akan berhadapan dengan kekuatan tradisional Asia seperti China, Korea Utara, dan Uzbekistan. Namun modal performa level dunia musim lalu membuatnya datang ke Nagoya dengan label favorit. Skenario terbaik untuk kontingen Merah Putih? Dua kali lagu Indonesia Raya berkumandang di venue angkat besi.
"Ini keputusan terbaik untuk tim. Kami tidak mau dua lifter terbaik Indonesia saling mengalahkan di satu kelas. Target kami jelas: dua kelas, dua peluang emas," demikian pernyataan tim pelatih nasional dalam keterangan resminya.
Jalan Panjang Menuju Nagoya
Hitung mundur sudah berjalan. Angkat besi diprediksi kembali menjadi lumbung medali kontingen Indonesia di Asian Games 2026, dan program persiapan kedua lifter kini bergerak ke arah berlawanan: Rizki menjalani program penurunan berat badan bertahap agar stabil di timbangan 71 kg, sementara Rahmat fokus menambah massa otot dan kekuatan demi bersaing di 79 kg. Keduanya dijadwalkan mentas di sejumlah kejuaraan internasional sebagai uji coba resmi sebelum terbang ke Jepang. Satu hal yang pasti — dengan formasi baru ini, Indonesia tidak lagi menaruh semua telur dalam satu keranjang. Dua lifter, dua kelas, dua mimpi emas. Nagoya, bersiaplah.
Comments (0)