Presiden Bullish: Risiko Sistemik Perpetual Future Ada pada Desain Bursa, Bukan Kontraknya
Masuknya kontrak berjangka perpetual (perpetual futures) ke pasar finansial yang teregulasi memicu perdebatan sengit di kalangan regulator dan pelaku industri kripto. Sejumlah pihak mengkhawatirkan instrumen derivatif ini bakal membawa risiko sistemi
Masuknya kontrak berjangka perpetual (perpetual futures) ke pasar finansial yang teregulasi memicu perdebatan sengit di kalangan regulator dan pelaku industri kripto. Sejumlah pihak mengkhawatirkan instrumen derivatif ini bakal membawa risiko sistemik yang bisa mengguncang stabilitas pasar. Namun, Chris Tyrer, Presiden Bullish Exchange, menegaskan bahwa kekhawatiran tersebut justru menyasar target yang keliru. Menurutnya, sumber risiko sebenarnya bukan terletak pada struktur kontrak perpetual itu sendiri, melainkan pada desain operasional bursa tempat instrumen tersebut diperdagangkan.
Bukan Kontraknya yang Berbahaya
Dalam opini yang dipublikasikan CoinDesk, Tyrer menjelaskan bahwa perpetual future pada dasarnya hanyalah instrumen keuangan. Kontrak ini memungkinkan trader untuk berspekulasi pada harga aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum tanpa tanggal kedaluwarsa, berbeda dengan futures konvensional. popularitasnya di pasar kripto memang luar biasa—volume perdagangan perpetual mendominasi sebagian besar aktivitas derivatif global. Meski demikian, Tyrer menegaskan bahwa ketika perpetual masuk ke pasar regulasi seperti Amerika Serikat, fokus pengawasan harus diarahkan pada empat pilar utama: batas leverage (pengungkit), aturan margin, konstruksi indeks harga, serta mekanisme penanganan default.
Tyrer berargumen bahwa risiko likuidasi berantai atau kegagalan pasar yang ditakutkan banyak pihak justru berasal dari kebijakan internal bursa. Misalnya, bursa yang menawarkan leverage ekstrem hingga 100x atau lebih tanpa persyaratan margin yang ketat dapat memicu kerugian besar dalam hitungan menit. Demikian pula, indeks harga yang tidak transparan atau tidak terdiversifikasi bisa dimanipulasi, sementara penanganan default yang lemah dapat memperburuk krisis keuangan. Jadi, kontrak perpetual seharusnya tidak disalahkan atas perilaku atau kebijakan yang dipraktikkan oleh platform perdagangan tertentu.
Konteks Pasar dan Regulasi Global
Perdebatan ini muncul di tengah meningkatnya minat lembaga keuangan tradisional terhadap produk derivatif kripto. Regulator di berbagai yurisdiksi, termasuk Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi (CFTC) di AS dan otoritas Eropa, tengah mengkaji secara mendalam bagaimana perpetual futures harus diawasi. Beberapa pihak mengusulkan pembatasan total atau larangan terhadap instrumen ini dengan dalih perlindungan investor. Namun, pandangan Tyrer mencerminkan suara banyak pelaku industri yang berpendapat regulasi harus bersifat teknis dan berbasis risiko, bukan reaktif dengan melarang inovasi finansial.
Bagi para trader ritel, pemahaman terhadap mekanisme perpetual future sangat penting. Instrumen ini memang menawarkan fleksibilitas dan likuiditas tinggi, namun penggunaan leverage yang tidak terkontrol dapat memperbesar kerugian. Oleh karena itu, transparansi dari bursa—termasuk bagaimana mereka menyusun harga indeks dan mengelola dana jaminan—menjadi faktor kritis dalam menjaga stabilitas ekosistem.
Analisis dan Penutup
Argumen Tyrer menggarisbawahi pentingnya pendekatan regulasi yang cerdas. Menghapus perpetual futures dari pasar regulasi mungkin tidak akan menghilangkan risiko sistemik jika desain bursa yang buruk tetap dibiarkan. Sebaliknya, kebijakan yang menetapkan batas leverage yang wajar, mewajibkan margin yang memadai, serta menstandarisasi mekanisme penanganan default justru akan menciptakan lingkungan perdagangan yang lebih sehat dan inklusif bagi investor institusional maupun ritel.
Sumber: CoinDesk
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran keuangan. Perdagangan aset kripto dan produk derivatif memiliki risiko tinggi. Pastikan untuk melakukan riset mandiri (DYOR) sebelum membuat keputusan investasi.
Sumber: CoinDesk
Comments (0)