Persebaya Taklukkan Persib Lewat Drama Penalti, Trofi Piala Presiden 2026 Jadi Milik Bajul Ijo
Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, menjadi saksi lahirnya sejarah baru bagi Persebaya Surabaya pada Kamis malam (6/8/2026). Skor akhir 1-1 di waktu normal dan perpanjangan waktu memaksa pert...
Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, menjadi saksi lahirnya sejarah baru bagi Persebaya Surabaya pada Kamis malam (6/8/2026). Skor akhir 1-1 di waktu normal dan perpanjangan waktu memaksa pertandingan final Piala Presiden 2026 berlanjut ke babak adu penalti yang menegangkan. Bajul Ijo keluar sebagai pemenang dengan skor 6-5, mengamankan gelar perdana mereka di ajang ini setelah melalui 11 eksekusi penalti yang dramatis.
Sejak peluit pertama dibunyikan, kedua tim langsung menampilkan intensitas tinggi. Persebaya yang mengusung formasi 4-3-3 mencoba mendominasi penguasaan bola, sementara Persib Bandung dengan formasi 3-4-3 memilih bermain lebih langsung dan mengandalkan serangan balik cepat. Statistik mencatat penguasaan bola Persebaya mencapai 58% berbanding 42% untuk Persib, namun efektivitas serangan justru lebih tajam dari kubu Maung Bandung pada babak pertama.
Babak Pertama: Gol Cepat dan Respons Kilat Persib
Menit ke-12, Persebaya membuka keunggulan melalui skema serangan sayap yang rapi. Umpan terobosan dari gelandang serang mereka, Rizky Ridho, berhasil dituntaskan oleh striker andalan, Paulo Henrique, dengan tembakan first-time ke sudut kiri gawang Persib. Shots on target Persebaya pada babak pertama tercatat 4 kali, dengan salah satunya berbuah gol tersebut.
Namun, Persib tidak tinggal diam. Menit ke-27, mereka menyamakan kedudukan lewat sundulan keras bek tengah, Nick Kuipers, memanfaatkan sepak pojok. Gol ini lahir dari kelemahan Persebaya dalam bertahan dari situasi bola mati, sebuah catatan yang akan menjadi sorotan pelatih di ruang ganti. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum, dengan kedua tim sama-sama mencatatkan 5 peluang emas.
Babak kedua berjalan lebih ketat. Kedua pelatih melakukan penyesuaian taktik, dengan Persebaya menarik mundur lini tengah dan Persib meningkatkan tekanan ke area pertahanan lawan. Namun, penyelesaian akhir yang kurang tenang membuat skor tetap imbang. Total shots on target hingga akhir waktu normal adalah 7 untuk Persebaya dan 6 untuk Persib, menunjukkan betapa tipisnya perbedaan kualitas kedua finalis.
Perpanjangan Waktu: Ketahanan Fisik dan Mental Diuji
Memasuki babak tambahan waktu 2x15 menit, kedua tim mulai kehilangan ritme. Kelelahan fisik terlihat jelas, namun semangat juang tidak surut. Persebaya hampir memastikan kemenangan di menit ke-112 ketika tendangan voli dari pemain pengganti, Malik Risaldi, masih membentur tiang gawang. Itu adalah momen paling krusial di perpanjangan waktu, dan VAR sempat memeriksa kemungkinan pelanggaran di kotak penalti Persib pada menit ke-119, namun wasit memutuskan tidak ada pelanggaran.
Kedua tim akhirnya harus menyelesaikan laga dengan skor 1-1. Total penguasaan bola sepanjang 120 menit tetap dikuasai Persebaya dengan 55%, namun Persib unggul dalam jumlah peluang dari sisi sayap. Pertandingan pun berlanjut ke adu penalti, sebuah lotere yang selalu menyimpan cerita sendiri.
Adu Penalti: Sarwendah Jadi Pahlawan, Eksekusi ke-11 Menentukan
Babak adu penalti berjalan menegangkan sejak awal. Tiga eksekutor pertama dari masing-masing tim sukses menjalankan tugasnya. Namun, pada eksekutor keempat Persib, tendangan dari pemain pengganti mereka, Beckham Putra, berhasil ditebak kiper Persebaya, Andhika Ramadhani. Sayangnya, Persebaya gagal memanfaatkan keunggulan tersebut ketika eksekutor kelima mereka, Kadek Raditya, melepaskan tembakan yang melambung di atas mistar.
Skor 4-4 memaksa adu penalti berlanjut ke sistem sudden death. Enam eksekutor pertama dari masing-masing tim sukses, membuat skor menjadi 5-5. Ketegangan mencapai puncaknya pada eksekutor ke-11. Persib menurunkan bek muda mereka, Robi Darwis, yang tendangannya berhasil ditepis oleh Andhika Ramadhani. Persebaya kemudian menunjuk bek senior, Arief Catur Pamungkas, sebagai eksekutor penentu. Dengan tenang, ia menempatkan bola ke sisi kanan gawang yang tidak mampu dijangkau kiper Persib, I Made Wirawan. Skor 6-5, Persebaya juara!
“Ini adalah kerja keras seluruh tim selama dua bulan terakhir. Kami percaya pada proses dan para pemain menunjukkan karakter luar biasa, terutama di babak adu penalti. Gelar ini untuk seluruh suporter Persebaya di mana pun berada,” ujar pelatih Persebaya, Aji Santoso, dalam konferensi pers usai laga.
Kemenangan ini menjadi gelar Piala Presiden pertama bagi Persebaya sepanjang sejarah keikutsertaan mereka. Sepanjang turnamen, Persebaya mencatatkan rekor impresif dengan hanya kebobolan 3 gol dalam 6 pertandingan, sebuah bukti solidnya lini pertahanan yang dikomandoi oleh kapten tim, Rizky Ridho. Sementara itu, Persib Bandung harus mengakui keunggulan lawan setelah tampil gigih, namun kurang beruntung di babak penalti.
Perayaan juara langsung berlangsung meriah di tengah lapangan. Para pemain, pelatih, dan ofisial Persebaya berpose bersama trofi bergengsi tersebut, mengabadikan momen bersejarah yang akan selalu dikenang oleh segenap keluarga besar Bajul Ijo. Statistik akhir mencatat total 12 kartu kuning sepanjang pertandingan, menunjukkan betapa sengitnya laga final ini. Persebaya berhak membawa pulang trofi dan hadiah uang pembinaan, sementara Persib layak mendapat apresiasi atas perjuangan mereka hingga titik darah penghabisan.
Comments (0)