Napi di Garut: 'Kalapas Rasa Sahabat' Cikal Bakal Lahirnya Paskopi
Amir, narapidana pelopor produk kopi Paskopi di Lapas Garut. Ia mengembangkan UMKM kopi, mendukung kemandirian napi, dan berencana buka gerai setelah bebas.]]>
Napi di Garut: 'Kalapas Rasa Sahabat' Cikal Bakal Lahirnya Paskopi
Di balik jeruji besi Lapas Kelas II A Garut, terlahir sebuah inovasi luar biasa yang mengubah paradigma penanganan narapidana. Kalapas Garut, Iptu H. Yayan Suryana, dikenal sebagai pemimpin yang memiliki pendekatan unik dengan para narapidana. Ia tidak hanya melihat mereka sebagai orang yang telah melakukan kesalahan, tetapi juga sebagai sahabat yang perlu dibimbing untuk kembali ke jalan yang benar. Pendekatan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Paskopi (Pembinaan Kepemimpinan Anak Buah Korps Pemasyarakatan).
Perjalanan Pemikiran Kalapas
Sebelum mengelola Lapas Garut, Kalapas Yayan Suryana telah memiliki pengalaman luas dalam penanganan narapidana. Ia menyadari bahwa pendekatan keras seringkali tidak memberikan hasil yang optimal. Sebaliknya, pendekatan kekeluargaan dan persahabatan ternyata lebih efektif dalam membina para napi. "Saya selalu berpikir, kalau mereka bisa menjadi sahabat di luar, kenapa tidak bisa di dalam lapas? Saya menganggap mereka sebagai sahabat yang tersesat," ujar Yayan Suryana.
Dengan filosofi tersebut, ia mulai mengubah suasana di dalam lapas. Ia tidak lagi menggunakan gaya kepemimpinan yang otoriter, melainkan lebih mengedepankan empati dan pemahaman. Ia berinteraksi langsung dengan para napi, mendengarkan masalah mereka, dan mencoba membantu solusi. Pendekatan ini ternyata memberikan dampak positif yang signifikan. Para napi menjadi lebih patuh, lebih disiplin, dan memiliki motivasi untuk berubah.
Lahirnya Paskopi
Keberhasilan Kalapas Yayan dalam membina para napi di Garut tidak luput dari perhatian pimpinan tinggi. Pendekatan "kalapas rasa sahabat" yang ia jalani menjadi contoh bagi lapas lain di Indonesia. Berdasarkan pengalamannya tersebut, lahirlah Paskopi atau Pembinaan Kepemimpinan Anak Buah Korps Pemasyarakatan.
Paskopi sendiri merupakan program pembinaan yang bertujuan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan para petugas lapas. Melalui program ini, diharapkan para petugas mampu melaksanakan tugas dengan lebih humanis dan efektif. Konsep yang sama seperti yang diterapkan Kalapas Yayan, yakni pendekatan kekeluargaan dan persahabatan, menjadi inti dari Paskopi.
"Paskopi lahir dari kebutuhan akan transformasi budaya di lingkungan pemasyarakatan. Kita tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan kaku dan otoriter. Kebutuhan akan pendekatan berbasis kepercayaan dan empati menjadi semakin mendesak," jelas salah satu pengembang program Paskopi.
Dampak Positif bagi Penanganan Narapidana
Penerapan pendekatan "kalapas rasa sahabat" di Garut telah membuktikan dampak positif bagi penanganan narapidana. Angka kekerasan dan konflik di dalam lapas menurun drastis. Para napi menjadi lebih kooperatif dan aktif dalam berbagai kegiatan pembinaan.
Salah satu narapidana yang merasakan dampak langsung adalah Budi (nama samaran), mantan preman yang telah menjalani hukuman selama tiga tahun di Lapas Garut. "Awalnya saya sangat skeptis dengan pendekatan pak Kalapas. Tapi lama-kelamaan saya sadar bahwa dia benar-benar peduli dengan kita. Dia tidak memandang kita sebagai orang jahat, tapi sahabat yang butuh bimbingan. Karena itu, saya pun berubah," cerita Budi dengan penuh haru.
Tidak hanya itu, pendekatan ini juga membantu para napi dalam persiapan untuk kembali ke masyarakat. Dengan dibina secara humanis, mereka memiliki mental yang lebih siap untuk kembali berintegrasi dengan masyarakat dan tidak mudah kembali melakukan kejahatan.
Tantangan dan Masa Depan
Meski telah membuktikan keberhasilannya, pendekatan "kalapas rasa sahabat" tetap menghadapi berbagai tantangan. Banyak pihak yang masih skeptis dengan pendekatan ini, menganggapnya terlalu lembut bagi narapidana. Selain itu, keterbatasan sumber daya dan kurangnya pemahaman konsep di kalangan petugas lapas juga menjadi hambatan.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pihak Kemenkumham dan Dirjen Pemasyarakatan terus berupaya melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada para petugas lapas di seluruh Indonesia. Program Paskopi diharapkan dapat menjadi solusi untuk menyebarkan konsep ini secara merata.
Kalapas Yayan Suryana berharap pendekatan yang ia terapkan di Garut dapat menjadi contoh bagi lapas lain. "Saya yakin dengan pendekatan kekeluargaan dan persahabatan, kita bisa mengubah narapidana menjadi orang yang lebih baik. Ini bukan soal lemah, tapi soal keberanian untuk memberikan kepercayaan," pungkasnya.
Dengan lahirnya Paskopi, diharapkan paradigma penanganan narapidana di Indonesia dapat berubah dari pendekatan penuh hukum menjadi pendekatan yang seimbang antara hukum, pembinaan, dan rehabilitasi. Ini adalah langkah maju dalam reformasi pemasyarakatan yang tidak hanya berfokus pada pemidanaan, tetapi juga pada restorasi martabat kemanusiaan narapidana.
Comments (0)