Oct 27, 2026
Olahraga

Monumental Meledak, Argentina Hormati Messi di Laga Terakhir

BUENOS AIRES — Stadion Monumental bergemuruh sejak wasit meniup peluit panjang. Skor akhir pertandingan yang berakhir dramatis itu nyaris tenggelam oleh euforia 80 ribu penonton yang serentak meneri...

Monumental Meledak, Argentina Hormati Messi di Laga Terakhir

BUENOS AIRES — Stadion Monumental bergemuruh sejak wasit meniup peluit panjang. Skor akhir pertandingan yang berakhir dramatis itu nyaris tenggelam oleh euforia 80 ribu penonton yang serentak meneriakkan satu nama: Lionel Messi. Momen itu bukan sekadar laga biasa, melainkan perpisahan resmi sang kapten dengan seragam timnas Argentina di hadapan publik Buenos Aires, Selasa (6/10) malam waktu setempat.

Sejak bus tim memasuki kawasan stadion, lautan manusia berbalut kaus loreng langit-putih sudah memadati jalanan menuju Monumental. Tiket ludes dalam hitungan jam setelah diumumkan. Tidak heran, ini adalah kesempatan terakhir melihat Messi bermain di kandang bersama La Albiceleste — sebuah momen yang dinanti sejak ia mengumumkan pensiun dari level internasional usai turnamen terakhir.

Jalannya Pertandingan: Messi Masih Messi

Formasi 4-3-3 yang dipasang pelatih menempatkan Messi sebagai false nine, peran yang membuatnya bebas bergerak antara lini tengah dan pertahanan lawan. Starting XI Argentina tampil agresif sejak menit awal. Menit ke-12, Messi melepaskan umpan terobosan terukur ke sisi kanan yang nyaris berbuah gol, andai penyelesaian akhir tidak membentur tiang.

Statistik babak pertama mencatat penguasaan bola Argentina mencapai 64 persen dengan 5 shots on target dari total 9 percobaan. Lini tengah lawan kewalahan menahan ritme passing pendek khas Argentina. Menit ke-23, giliran Messi mengeksekusi tendangan bebas dari jarak 25 meter. Bola melengkung tipis di atas mistar — momen yang membuat seluruh stadion menahan napas lalu meledak dalam decak kagum.

Gol pembuka akhirnya lahir menit ke-38 lewat skema serangan balik cepat. Messi menarik dua pemain bertahan ke sisi kiri, membuka ruang untuk rekan setimnya mencetak gol. Assist itu tercatat sebagai kontribusi terakhirnya di kandang, angka yang menegaskan visi permainannya belum pudar sedikit pun meski usia tidak lagi muda.

Babak Kedua: Penghormatan dan Air Mata

Memasuki babak kedua, tempo pertandingan sedikit menurun. Pelatih melakukan rotasi, memberi kesempatan pemain muda tampil berdampingan dengan sang legenda. Menit ke-67, wasit menghentikan pertandingan sejenak. Layar raksasa menampilkan kompilasi momen Messi sepanjang karier internasional — dari debut hingga trofi kejuaraan dunia. Stadion berdiri, tepuk tangan menggema lebih dari lima menit.

Messi terlihat menyeka matanya. Kartu kuning yang ia terima menit ke-71 justru disambut tawa dan sorakan, seolah penggemar ingin mengabadikan setiap detail dari laga terakhirnya. Menit ke-85, ia ditarik keluar. Pelukan dengan seluruh pemain di pinggir lapangan menjadi gambar paling ikonik malam itu.

Skor akhir pertandingan memang penting, tetapi bagi publik Monumental, angka bukanlah segalanya. Rekor penguasaan bola 61 persen, 7 shots on target, dan 2 assist di laga terakhir hanya pelengkap narasi besar tentang seorang pemain yang mengubah wajah sepak bola Argentina.

Warisan yang Tak Berakhir di Monumental

Dalam konferensi pers usai laga, pelatih menyampaikan penghormatan tertingginya.

"Sulit menjelaskan apa yang Messi berikan untuk negara ini. Hari ini bukan tentang taktik, tapi tentang sejarah yang berjalan di depan mata kita,"
ujarnya dikutip dari sesi jumpa pers resmi.

Rekan setimnya juga mengaku tumbuh besar menonton Messi. Bagi mereka, bermain satu lapangan dengan sang kapten adalah pendidikan sepak bola terbaik yang tak bisa dibeli. Euforia di Monumental malam itu membuktikan bahwa cinta publik Argentina tidak pernah lekang, bahkan ketika karier internasional sang bintang resmi berakhir.

Pertandingan terakhir ini menutup satu bab, tetapi warisan Messi akan terus hidup di setiap lapangan rakyat, di setiap anak yang menendang bola dengan kaus nomor 10. Monumental mungkin tak lagi menyaksikannya berlari, tetapi namanya sudah terukir permanen dalam sejarah sepak bola Argentina.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User