Skor akhir 3-0 atas Benin di Estadio Monumental, Buenos Aires, menjadi malam yang penuh kontradiksi bagi Lionel Messi. La Pulga tampil sebagai starter dalam formasi 4-3-3 arahan Lionel Scaloni, mencetak dua gol dan satu assist, namun di balik gemilangnya dua gol dan satu assist itu, tersimpan luka yang ia akui belum sepenuhnya sembuh: perpisahan dengan tim nasional Argentina.
Menit ke-12, Messi membuka keunggulan lewat tendangan kaki kiri dari tepi kotak penalti setelah menerima umpan terobosan dari Enzo Fernández. Penguasaan bola Argentina sepanjang babak pertama mencapai 68 persen, dengan 7 shots on target dari 11 percobaan. Benin, yang bermain dengan formasi 5-4-1 defensif, hanya mampu mencatat satu shots on target hingga turun minum.
Dominasi Albiceleste di Babak Pertama
Menit ke-34, giliran Julián Álvarez yang mencatatkan namanya di papan skor setelah memanfaatkan kesalahan antisipasi bek Benin. Assist diberikan Messi melalui sepakan bebas cepat yang memecah garis pertahanan lawan. Hingga menit ke-45, Argentina mencatatkan 89 persen akurasi passing dan enam peluang emas, sementara Benin hanya bertahan dengan blok rendah dan sesekali melancarkan serangan balik melalui sisi kanan.
Babak kedua berjalan dengan tempo lebih terkendali. Menit ke-58, Messi kembali mencetak gol melalui penalti setelah wasit mengonfirmasi pelanggaran di kotak terlarang lewat VAR. Skor berubah 3-0, dan pertandingan praktis tanpa drama hingga peluit panjang berbunyi. Statistik akhir mencatat Argentina dengan penguasaan bola 71 persen, 9 shots on target, dan clean sheet keempat dalam lima laga terakhir.
Beban Emosional di Balik Kemenangan
Namun, konferensi pers pascapertandingan berubah menjadi momen refleksi. Messi mengaku bahwa setiap kali mengenakan seragam Albiceleste, ia diingatkan bahwa suatu hari harus melepaskan semuanya. "Rasanya sangat menyakitkan. Berpisah dengan tim nasional adalah hal yang paling sulit dalam hidup saya," ujarnya dengan nada datar, kontras dengan statistik gemilang yang baru saja ia torehkan.
"Saya tidak tahu kapan waktunya tiba, tapi saya ingin menikmati setiap menit yang tersisa. Setiap pertandingan bisa menjadi yang terakhir, dan itu membuat saya bermain dengan cara yang berbeda," kata Messi.
Scaloni, yang mendampingi Messi di meja konferensi, menegaskan bahwa kaptennya masih menjadi poros permainan. "Secara teknis, dia masih yang terbaik. Data menunjukkan itu. Tapi yang lebih penting, dia memberi kami ketenangan di momen-momen krusial," ujar Scaloni. Pelatih berusia 46 tahun itu menolak berspekulasi soal kapan Messi akan pensiun dari timnas, namun mengakui bahwa regenerasi sudah berjalan dengan kehadiran pemain seperti Enzo Fernández dan Alejandro Garnacho.
Warisan Statistik yang Sulit Ditandingi
Dengan dua gol ke gawang Benin, Messi kini mengoleksi 112 gol dalam 191 caps untuk Argentina, menjadikannya top skor sepanjang masa timnas negaranya. Ia juga mencatatkan 58 assist internasional, jumlah tertinggi di antara pemain aktif Amerika Selatan. Menariknya, 27 gol di antaranya lahir setelah usia 35 tahun, menepis anggapan bahwa performanya menurun seiring bertambahnya usia.
Secara taktik, peran Messi dalam skema Scaloni bergeser dari penyerang sayap menjadi false nine yang bebas bergerak di antara lini tengah dan pertahanan lawan. Melawan Benin, ia tercatat menyentuh bola 78 kali, menciptakan tiga peluang besar, dan memenangkan lima duel darat. Peta panas menunjukkan aktivitasnya lebih dominan di sepertiga tengah lapangan, bukan lagi di sisi kanan seperti era 2014.
Pertandingan ini juga menandai penampilan ke-50 Messi di Estadio Monumental bersama timnas, sebuah catatan yang hanya dimiliki oleh segelintir legenda sepak bola Amerika Latin. Di tribun, spanduk bertuliskan "Gracias, Leo" terbentang di sepanjang sisi utara stadion, seolah mengantisipasi perpisahan yang Messi sendiri belum siap menjalaninya.
Argentina selanjutnya akan menghadapi laga uji coba melawan Meksiko bulan depan. Belum ada konfirmasi apakah Messi akan masuk dalam daftar pemain, namun Scaloni menyatakan bahwa keputusan sepenuhnya ada di tangan sang kapten. Jika benar ini menjadi salah satu penampilan terakhirnya, maka 3-0 atas Benin akan dikenang bukan karena skornya, melainkan karena pengakuan jujur seorang ikon tentang harga dari sebuah perpisahan.
Comments (0)