Messi Pamit, Tangis Akhiri 21 Tahun Dedikasi untuk Argentina

Buenos Aires menahan napas. Estadio Monumental, stadion yang biasa bergemuruh oleh nyanyian puluhan ribu suporter, malam itu berubah menjadi panggung perpisahan paling emosional dalam sejarah sepak bo...

Oct 10, 2026 - 19:09
0 0
Messi Pamit, Tangis Akhiri 21 Tahun Dedikasi untuk Argentina

Buenos Aires menahan napas. Estadio Monumental, stadion yang biasa bergemuruh oleh nyanyian puluhan ribu suporter, malam itu berubah menjadi panggung perpisahan paling emosional dalam sejarah sepak bola Argentina. Lionel Messi, sang kapten, untuk terakhir kalinya mengenakan jersey albiceleste sebagai pemain internasional. Pemandangan itu bukan sekadar laga biasa—ini adalah penutup dari 21 tahun pengabdian yang mengubah wajah sepak bola negeri tango.

Ketika wasit meniup peluit panjang, tidak ada selebrasi berlebihan. Hanya ada air mata. Messi, yang biasanya tenang dan terkendali, tak mampu menahan tangisnya. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan sebelum mengangkat trofi imajiner ke arah tribun yang penuh bendera Argentina. Momen itu langsung menjadi viral, tetapi bagi siapa pun yang menyaksikan langsung, ada kesan mendalam yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Statistik yang Mengukir Sejarah

Angka-angka berbicara lebih lantang dari apa pun. Sepanjang kariernya bersama Timnas Argentina, Messi mencatatkan lebih dari 180 penampilan internasional—sebuah rekor yang nyaris mustahil disamai dalam waktu dekat. Ia mengoleksi lebih dari 100 gol untuk negaranya, menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang masa Argentina. Tidak hanya itu, ia juga menorehkan puluhan assist, membuktikan bahwa perannya bukan sekadar finisher, melainkan arsitek serangan.

Dalam laga perpisahan melawan tim tamu, Messi bermain penuh 90 menit. Penguasaan bola Argentina mencapai 62 persen, dengan 18 shots on target dari total 24 percobaan. Messi sendiri mencatat 3 key passes, 5 dribel sukses, dan 1 assist yang membuka jalan kemenangan. Meski tidak mencetak gol, kontribusinya terasa di setiap sudut lapangan. Formasi 4-3-3 yang diterapkan pelatih memberinya kebebasan bergerak di antara lini tengah dan pertahanan lawan—posisi yang selama dua dekade menjadi wilayah kekuasaannya.

Menit ke-34, Messi melepaskan tendangan bebas dari jarak 25 meter. Bola melengkung tipis di atas mistar gawang. Estadio Monumental menghela napas kolektif. Menit ke-67, ia memberikan umpan terobosan yang memaksa kiper lawan melakukan penyelamatan gemilang. Setiap sentuhannya disambut sorakan, seolah penonton tahu bahwa ini adalah kesempatan terakhir mereka menyaksikan keajaiban itu secara langsung.

Perjalanan 21 Tahun: Dari Rosario ke Puncak Dunia

Perjalanan Messi bersama Timnas Argentina tidak selalu mulus. Ada masa ketika ia dicaci, dianggap tidak mampu membawa pulang trofi. Final Copa America 2007, 2015, dan 2016 menjadi luka yang membekas. Bahkan pada 2016, ia sempat mengumumkan pensiun dini dari tim nasional sebelum akhirnya kembali setelah desakan publik. Namun, semua pengorbanan itu terbayar lunas. Gelar Copa America 2021 di Brasil mematahkan kutukan 28 tahun tanpa trofi mayor. Puncaknya, Piala Dunia 2022 di Qatar—trofi yang selama ini menjadi obsesi nasional—akhirnya kembali ke Buenos Aires setelah 36 tahun.

Sejak debut pada 2005 melawan Hungaria, Messi telah melalui berbagai era. Dari generasi Juan Roman Riquelme, Javier Zanetti, hingga generasi emas saat ini seperti Julian Alvarez dan Enzo Fernandez. Ia bukan hanya pemain, tetapi simbol harapan dan identitas. Setiap kali ia mencetak gol, jutaan orang di Argentina merayakannya seolah gol itu milik mereka sendiri. Setiap kali ia menangis, seluruh negeri merasakan luka yang sama.

Kata Pelatih dan Rekan Setim

"Tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan apa yang telah Leo berikan kepada sepak bola Argentina. Ia adalah panutan, pemimpin, dan sahabat bagi kami semua. Malam ini bukan akhir, melainkan awal dari warisan yang akan dikenang selamanya," ujar pelatih timnas Argentina dalam konferensi pers usai laga.

Rekan setimnya, yang enggan disebutkan namanya, menambahkan bahwa Messi selalu menjadi orang pertama yang datang ke ruang ganti dan terakhir yang meninggalkannya. Kepemimpinannya tidak hanya terlihat di lapangan, tetapi juga di luar. Ia kerap memberi nasihat kepada pemain muda, membangun mentalitas juara yang selama ini menjadi ciri khas Argentina.

Warisan yang Tak Akan Pudar

Dengan pensiunnya Messi dari tim nasional, Argentina kehilangan bukan hanya seorang kapten, tetapi juga ikon global. Namun, warisannya akan terus hidup. Akademi-akademi sepak bola di seluruh negeri kini melahirkan pemain-pemain yang meniru gaya bermainnya—dribel rendah, visi permainan luar biasa, dan tendangan kaki kiri yang mematikan. Total 4 trofi mayor berhasil ia persembahkan untuk negaranya, termasuk 1 Piala Dunia dan 2 Copa America, plus 1 Finalissima. Belum lagi gelar individu seperti Ballon d'Or yang ia raih berkali-kali.

Malam di Monumental bukan sekadar perpisahan. Ini adalah penghormatan terakhir untuk seorang legenda yang telah mengubah cara dunia memandang sepak bola Argentina. Air mata Messi adalah air mata kebanggaan, bukan kesedihan. Sebab, ia pergi dengan kepala tegak, membawa pulang semua trofi yang pernah diimpikan seluruh rakyatnya. Selamat jalan, Lionel Messi. Namamu akan selalu menjadi bagian dari sejarah, dan malam ini akan dikenang sebagai momen ketika sepak bola Argentina menutup satu babak, tetapi membuka babak baru yang penuh harapan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User