Messi: Dua Wajah Perpisahan yang Kontras di Barcelona dan Argentina

Menit ke-90+3, Estadio Monumental bergemuruh. Lionel Messi mengangkat trofi Copa America 2021, dan tak ada satu pun suporter Argentina yang membayangkan itu jadi momen perpisahan. Tiga tahun berselang...

Oct 09, 2026 - 18:14
0 0
Messi: Dua Wajah Perpisahan yang Kontras di Barcelona dan Argentina

Menit ke-90+3, Estadio Monumental bergemuruh. Lionel Messi mengangkat trofi Copa America 2021, dan tak ada satu pun suporter Argentina yang membayangkan itu jadi momen perpisahan. Tiga tahun berselang, skor akhir 3-0 untuk Argentina atas Chile di laga yang sama-sama berlabel emosional, publik Buenos Aires justru menyaksikan Messi menangis di bangku cadangan karena cedera. Dua narasi, satu pemain, dua nasib yang saling bertolak belakang. Perpisahan Messi dengan Barcelona dan Argentina bukan sekadar soal warna jersey — ini soal cara sebuah era ditutup.

Barcelona 2021: Air Mata di Balik Meja Konferensi

Tanggal 8 Agustus 2021, Camp Nou tidak menggelar pertandingan. Tak ada starting XI, tak ada statistik penguasaan bola, tak ada shots on target. Yang ada hanya podium, mikrofon, dan Messi yang gagal menahan tangis. Klub mengumumkan kegagalan perpanjangan kontrak karena kendala regulasi finansial La Liga, dan perpisahan itu berlangsung tanpa satu menit pun sepak bola kompetitif. Ironi terbesar dalam sejarah Blaugrana: pemain dengan 672 gol dalam 778 penampilan resmi meninggalkan klub tanpa bisa berpamitan lewat pertandingan.

Secara statistik, warisan Messi di Barcelona tak terbantahkan. Sepanjang 17 musim, ia mencetak 474 gol di La Liga, angka yang mustahil didekati pemain mana pun dalam sejarah kompetisi. Ia mengoleksi 10 gelar juara liga, 4 Liga Champions, dan 7 Copa del Rey. Namun semuanya harus berakhir di ruang pers, bukan di lapangan, bukan setelah laga perpisahan yang layak.

“Saya tidak pernah membayangkan harus pergi seperti ini,” ujar Messi saat itu, dikutip dari konferensi pers perpisahannya. “Saya sudah melakukan segalanya untuk tetap di sini.”

Argentina: Perpisahan yang Terus Ditunda

Jika Barcelona memberi perpisahan pahit, Argentina justru sebaliknya. Sejak debut pada 2005, Messi melewati empat final mayor yang berakhir dengan kekalahan — Copa America 2007, Piala Dunia 2014, Copa America 2015, dan Copa America 2016. Di titik terendah, ia bahkan sempat menyatakan pensiun dari timnas pada 2016 sebelum membatalkannya. Namun perjalanan itu berbuah: gelar Copa America 2021, Finalissima 2022, dan Piala Dunia 2022 mengubah narasi perpisahan menjadi perayaan.

Di Piala Dunia 2022, Messi tampil dalam 7 pertandingan dengan total 690 menit, mencetak 7 gol dan 3 assist. Ia menjadi pemain pertama yang mencetak gol di babak grup, 16 besar, perempat final, semifinal, dan final dalam satu edisi turnamen. Dua golnya ke gawang Prancis di final, termasuk satu dari titik penalti, membawa Argentina menang 4-2 lewat adu penalti setelah skor 3-3 selama 120 menit. Tidak ada kartu merah, tidak ada kontroversi VAR yang menggagalkan momen — hanya trofi yang diangkat di hadapan 88.966 penonton di Lusail Stadium.

Dua Formasi, Dua Taktik, Dua Akhir

Perbedaan paling tajam terletak pada konteks taktis. Di Barcelona era terakhirnya, Messi kerap dimainkan sebagai false nine dalam formasi 4-3-3, dengan penguasaan bola rata-rata di atas 65 persen per laga. Ia menjadi pusat gravitasi permainan, namun kepergiannya meninggalkan lubang yang tak terisi — dibuktikan dengan tersingkirnya Blaugrana di babak grup Liga Champions dua musim berturut-turut setelahnya.

Di Argentina, pelatih Lionel Scaloni membangun tim di sekitar Messi dengan formasi 4-4-2 yang lebih pragmatis. Penguasaan bola tidak selalu dominan, tapi efektivitas serangan meningkat. Messi tidak lagi dituntut menempuh jarak 10 kilometer per pertandingan; ia dibebaskan bergerak di antara lini, dengan rata-rata 7,8 kilometer per laga di Piala Dunia 2022 — angka terendah sepanjang kariernya di turnamen besar, namun dengan output gol tertinggi.

Statistik mempertegas kontras itu. Bersama Barcelona, Messi mencatat 0,86 gol per pertandingan selama 16 tahun. Bersama Argentina, rasio itu 0,52 gol per laga dari total 187 penampilan. Namun justru di timnas, ia akhirnya meraih trofi yang selama ini menghantui: clean sheet emosional dari tuduhan bahwa ia tak bisa menang tanpa Xavi dan Iniesta.

“Lionel telah memberi segalanya untuk Argentina, dan sekarang Argentina memberi kembali apa yang ia berikan,” kata Scaloni dalam konferensi pers setelah final 2022.

Warisan yang Tak Bisa Dibandingkan

Perpisahan Barcelona dan Argentina mengajarkan satu hal: dalam sepak bola, cara sebuah era berakhir sering kali lebih menentukan narasi daripada isi era itu sendiri. Messi meninggalkan Camp Nou dengan 35 trofi dan 672 gol, namun tanpa tepuk tangan langsung di tengah lapangan. Ia meninggalkan timnas dengan 112 gol dalam 191 penampilan, tiga trofi mayor, dan status GOAT yang tak lagi diperdebatkan.

Satu perpisahan terjadi di ruang pers, di bawah tekanan regulasi finansial dan kartu kuning birokrasi. Satunya lagi terjadi di atas panggung dunia, disaksikan miliaran mata, dengan trofi di tangan dan bendera Argentina di pundak. Dua akhir, satu pemain. Dan bagi Messi, hanya satu yang terasa seperti akhir yang sesungguhnya — yang tidak perlu dijelaskan lewat statistik, karena tangis dan tawa di lapangan sudah cukup menjadi bukti.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User