Lionel Messi menutup babak baru dalam karier internasionalnya dengan cara yang paling emosional. Dalam laga perpisahan bersama timnas Argentina, megabintang berusia 38 tahun itu tidak mampu menahan air mata yang berulang kali mengalir di sepanjang pertandingan. Momen tersebut menjadi titik akhir sebuah perjalanan panjang yang penuh trofi, rekor, dan kenangan bagi La Albiceleste.
Pertandingan yang digelar di hadapan puluhan ribu pendukung Argentina ini berakhir dengan kemenangan 3-1 untuk tuan rumah. Messi sendiri tampil sejak menit pertama dengan ban kapten di lengan, memimpin formasi 4-3-3 racikan pelatih sebagai false nine yang bergerak bebas di antara lini tengah dan pertahanan lawan.
Jalannya Pertandingan: Tangis dan Aksi Messi
Menit ke-7, Stadion sudah bergemuruh ketika Messi pertama kali menyentuh bola. Umpan terobosan matang ia lepaskan ke sisi kanan, disambut sprint pemain sayap yang memaksa kiper lawan melakukan penyelamatan. Namun, sorotan kamera berkali-kali menangkap mata Messi yang basah. Ia tampak menyeka wajahnya dengan jersey, lalu kembali fokus mengatur tempo permainan.
Menit ke-23, Argentina memecah kebuntuan. Berawal dari skema serangan balik cepat, Messi menerima bola di ruang kosong, menarik dua bek lawan, lalu melepaskan outside foot pass presisi. Bola diselesaikan dengan sepakan keras kaki kiri dari dalam kotak penalti. Skor berubah 1-0. Assist itu tercatat sebagai kontribusi gol kesekian Messi untuk timnas.
Menit ke-38, Messi nyaris mencetak gol lewat tendangan bebas dari jarak 25 meter. Bola melewati pagar betis, namun membentur mistar gawang dan keluar. Babak pertama ditutup dengan penguasaan bola Argentina mencapai 61 persen dan 6 shots on target dari total 11 percobaan. Lawan hanya mencatat dua tembakan tepat sasaran.
Babak Kedua: Kartu, VAR, dan Momen Haru
Selepas jeda, tempo pertandingan meningkat. Menit ke-54, wasit mengeluarkan kartu kuning untuk gelandang lawan akibat pelanggaran keras terhadap Messi. Tak lama berselang, VAR meninjau potensi penalti setelah pemain Argentina jatuh di kotak terlarang. Setelah pengecekan, wasit menunjuk titik putih karena dinilai terjadi kontak. Messi mengambil eksekusi, tetapi kiper lawan membaca arah bola dan menepisnya. Skor tetap 1-0.
Menit ke-67, Messi ditarik keluar. Pelatih menggantinya dengan pemain muda sebagai simbol regenerasi. Ketika papan skor menampilkan nomor punggung 10, seluruh stadion berdiri. Messi melambai, memeluk beberapa rekan setim, sebelum duduk di bangku cadangan dengan mata kembali berkaca-kaca. Momen itu menjadi puncak emosional laga perpisahan.
Tanpa Messi di lapangan, Argentina tetap menguasai jalannya pertandingan. Menit ke-74, gol kedua lahir lewat sundulan bek tengah usai skema sepak pojok. Menit ke-88, pemain pengganti mencetak gol ketiga dengan penyelesaian dingin satu lawan satu. Lawan hanya mampu memperkecil skor di menit ke-90+2 melalui tendangan jarak jauh yang gagal diantisipasi kiper.
Statistik Laga: Dominasi dan Warisan Messi
Secara keseluruhan, Argentina mencatatkan penguasaan bola 64 persen berbanding 36 persen milik lawan. Tim tuan rumah melepaskan 18 tembakan dengan 9 shots on target, sementara lawan hanya mencatat 7 tembakan dan 3 tepat sasaran. Jumlah umpan sukses Argentina mencapai 587, jauh di atas lawan yang hanya 312. Messi sendiri menyelesaikan laga dengan 1 assist, 4 peluang tercipta, dan akurasi umpan mencapai 88 persen.
"Dia telah memberi segalanya untuk jersey ini. Apa yang terjadi malam ini bukan hanya perpisahan, tapi perayaan untuk seorang legenda," ujar pelatih Argentina dalam konferensi pers usai laga.
Laga ini menjadi penanda berakhirnya era Messi bersama timnas setelah lebih dari satu dekade perjalanan. Meski tidak mencetak gol di pertandingan terakhirnya, kontribusi dan warisannya bagi sepak bola Argentina tidak perlu diragukan. Dari gelandang muda yang menangis saat pertama dipanggil, hingga kapten yang mengangkat trofi dunia, Messi menutup babaknya dengan air mata kebanggaan.
Bagi para penggemar, pertandingan ini bukan sekadar kemenangan 3-1. Ini adalah momen untuk mengenang seorang pemain yang mengubah cara dunia melihat sepak bola Argentina. Starting XI malam itu mungkin akan berubah dalam beberapa tahun ke depan, tetapi nama Messi akan selamanya tertulis dalam sejarah La Albiceleste.
Comments (0)