Lionel Messi kembali mencuri perhatian dunia sepak bola. Bukan karena gol spektakuler atau trofi baru, melainkan karena pengakuan jujurnya tentang perjalanan kariernya bersama Timnas Argentina. Dalam sebuah wawancara eksklusif, kapten Albiceleste itu mengaku belum sepenuhnya menyadari besarnya pencapaian yang telah ia raih bersama negaranya. Pernyataan ini muncul di tengah spekulasi mengenai masa depan sang megabintang yang kini berusia 37 tahun.
Pengakuan tersebut terasa mengejutkan mengingat panjangnya daftar prestasi yang telah ditorehkan Messi. Sejak debutnya bersama Timnas Senior Argentina pada 2005, ia telah mengoleksi lebih dari 180 caps, menjadikannya pemain dengan penampilan terbanyak dalam sejarah negaranya. Sepanjang periode itu, Messi mencatatkan lebih dari 100 gol internasional, sebuah angka yang hanya bisa disaingi segelintir legenda dunia. Namun, bagi pemain yang identik dengan nomor punggung 10 itu, semua angka tersebut seolah masih terasa seperti mimpi yang belum sepenuhnya ia pahami.
Jejak Trofi yang Mengubah Sejarah
Perjalanan Messi bersama Argentina tidak selalu berjalan mulus. Selama lebih dari satu dekade, ia kerap menghadapi kritik pedas karena gagal mempersembahkan trofi mayor. Kekalahan di final Copa America 2007, final Piala Dunia 2014, serta dua final Copa America berturut-turut pada 2015 dan 2016 menjadi luka yang sempat membuatnya memutuskan pensiun dari Timnas pada 2016. Namun, keputusan itu dibatalkan, dan sejarah kemudian berbicara dengan cara yang berbeda.
Titik balik terjadi pada Copa America 2021. Di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, Argentina mengalahkan Brasil dengan skor akhir 1-0 lewat gol tunggal Angel Di Maria pada menit ke-22. Kemenangan itu mengakhiri puasa gelar senior Argentina selama 28 tahun. Messi tampil sebagai kapten, pemimpin, sekaligus pemain terbaik turnamen dengan kontribusi 4 gol dan 5 assist. Statistik penguasaan bola Argentina di laga final itu mencapai 46 persen, namun efektivitas serangan mereka jauh lebih tajam dengan 6 shots on target dibandingkan Brasil yang hanya mencatatkan 3.
Puncak kejayaan datang setahun kemudian di Piala Dunia 2022 Qatar. Argentina memulai turnamen dengan kejutan pahit, kalah 1-2 dari Arab Saudi di laga pembuka Grup C. Namun, Messi membawa timnya bangkit. Ia mencetak gol di setiap fase gugur, termasuk brace ke gawang Belanda di perempat final dan dua gol ke gawang Kroasia di semifinal. Di partai puncak melawan Prancis, pertandingan berjalan dramatis hingga babak adu penalti. Skor akhir 3-3 setelah perpanjangan waktu, dan Argentina menang 4-2 lewat tos-tosan. Messi mencetak dua gol dalam laga itu, salah satunya pada menit ke-108 di babak tambahan, sekaligus memastikan dirinya meraih Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen.
"Saya tidak pernah membayangkan bisa mencapai semua ini. Terkadang saya harus melihat kembali video-video momen itu untuk benar-benar menyadari apa yang telah terjadi," ujar Messi dalam wawancara tersebut.
Peran Vital di Balik Angka
Jika melihat lebih dalam, kontribusi Messi bagi Argentina tidak hanya terlihat dari gol dan assist. Perannya sebagai playmaker di balik lini serang membuat aliran bola tim selalu terorganisir. Dalam formasi 4-3-3 yang sering digunakan pelatih Lionel Scaloni, Messi kerap bertindak sebagai false nine atau second striker, memberi ruang bagi pemain muda seperti Julian Alvarez dan Enzo Fernandez untuk menembus pertahanan lawan. Rata-rata key passes per pertandingan Messi di Piala Dunia 2022 mencapai 3,4, tertinggi di antara seluruh pemain Argentina.
Data juga mencatat bahwa Messi terlibat langsung dalam lebih dari 60 persen gol Argentina selama turnamen mayor dalam lima tahun terakhir. Ia mencetak gol, memberi assist, atau menjadi pengumpan kunci sebelum gol terjadi. Angka ini menegaskan bahwa Messi bukan sekadar pencetak gol, melainkan mesin utama permainan Argentina. Bahkan ketika usianya tidak lagi muda, visi permainan dan ketenangannya di lapangan tetap menjadi senjata paling berbahaya bagi lawan.
Tidak hanya itu, kepemimpinannya di luar lapangan juga diakui oleh rekan-rekan setim. Beberapa pemain muda Argentina menyebut Messi sebagai mentor yang selalu memberi arahan, baik saat latihan maupun di ruang ganti. Hal ini menjadi salah satu faktor yang membuat generasi emas Argentina saat ini terasa begitu solid dan kompak.
Masa Depan dan Warisan yang Ditinggalkan
Meski telah meraih hampir semua trofi bergengsi, termasuk delapan Ballon d'Or, Messi belum secara resmi mengumumkan kapan ia akan pensiun dari Timnas. Ia masih masuk dalam skuad Argentina untuk kualifikasi Piala Dunia 2026, meski menegaskan akan mengevaluasi kondisi fisiknya setiap tahun. Pelatih Scaloni sendiri menyatakan bahwa pintu Timnas akan selalu terbuka untuk Messi selama sang pemain merasa siap.
Jika benar Messi memutuskan gantung sepatu setelah Piala Dunia 2026, maka warisannya bersama Argentina akan sulit ditandingi. Ia meninggalkan tim yang tidak hanya kaya trofi, tetapi juga memiliki budaya kompetitif dan mental juara yang kuat. Bagi banyak penggemar, Messi adalah simbol kebangkitan sepak bola Argentina modern, sosok yang membuktikan bahwa kegigihan dan kesabaran pada akhirnya akan berbuah manis.
Pengakuan Messi bahwa ia belum sepenuhnya menyadari pencapaiannya justru menunjukkan kerendahan hati seorang legenda. Di saat dunia mengagumi setiap gol dan trofinya, ia sendiri masih belajar untuk memahami besarnya jejak yang telah ia tinggalkan. Satu hal yang pasti, nama Lionel Messi telah terukir abadi dalam sejarah sepak bola Argentina dan dunia, bukan hanya karena angka, tetapi karena cara ia mengubah sebuah tim menjadi juara.
Comments (0)