Menembak Disabilitas: Presisi di Senayan, Skor Akhir Spektakuler

Jakarta — Lapangan Tembak Senayan, Kamis (6/8), berubah menjadi panggung akurasi dan determinasi. Turnamen Menembak Dalam Negeri Penyandang Disabilitas resmi bergulir, dan sejak menit pertama, atmos...

Aug 07, 2026 - 18:42
0 0
Menembak Disabilitas: Presisi di Senayan, Skor Akhir Spektakuler

Jakarta — Lapangan Tembak Senayan, Kamis (6/8), berubah menjadi panggung akurasi dan determinasi. Turnamen Menembak Dalam Negeri Penyandang Disabilitas resmi bergulir, dan sejak menit pertama, atmosfer kompetisi langsung terasa. Skor akhir tidak diukur dengan gol, melainkan dengan total poin akumulatif dari setiap tembakan yang mendarat tepat di pusat sasaran. Para atlet, yang datang dari berbagai daerah, menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk berprestasi di level tertinggi.

Babak Kualifikasi: Ketegangan di Setiap Peluru

Memasuki babak kualifikasi, para penembak disabilitas langsung menunjukkan konsentrasi tinggi. Formasi yang digunakan dalam cabang menembak memang berbeda dengan olahraga tim; di sini, setiap individu berdiri sendiri, menghadapi target 10 meter hingga 50 meter. Pada sesi pertama, atlet kelas SH1 (pistol) dan SH2 (senapan) bergantian menunjukkan kemampuan. Menit ke-15, salah satu penembak asal Jawa Timur melepaskan tembakan pertama yang langsung menghasilkan skor 10.9, angka sempurna dalam standar ISSF. Penguasaan bola tidak relevan di sini, tetapi yang lebih penting adalah penguasaan napas dan detak jantung.

Data statistik awal menunjukkan bahwa dari 120 tembakan yang dilepaskan pada babak pertama, tingkat akurasi rata-rata mencapai 8.7 poin per tembakan. Shots on target atau tembakan yang tepat mengenai area vital sasaran mencapai 92 persen. Ini angka yang luar biasa, mengingat para atlet harus berjuang melawan getaran kursi roda atau keterbatasan gerak lengan. Seorang peserta dari Sulawesi Selatan, yang baru pertama kali mengikuti turnamen nasional, mengaku sempat gugup. Namun, dukungan penonton yang memadati tribun Senayan menjadi energi tambahan.

Babak Final: Duel Sengit dan Rekor Baru

Babak final menjadi panggung bagi dua penembak terbaik: Rudi Hartono (Jakarta) dan Siti Aminah (Yogyakarta). Keduanya bersaing ketat sejak menit ke-30. Rudi, yang menggunakan kursi roda, menunjukkan stabilitas luar biasa. Pada seri ketiga, ia mencetak tiga tembakan berturut-turut dengan skor 10.5, 10.4, dan 10.6. Namun, Siti tidak mau kalah. Ia membalas dengan dua tembakan 10.8 di menit ke-42, membuat skor akhir sementara menjadi 247.3 berbanding 246.9 untuk keunggulan tipis Rudi.

Ketegangan memuncak saat wasit memutuskan untuk menggunakan VAR (Video Assistant Referee) untuk memeriksa satu tembakan yang dianggap offside oleh juri lapangan. Setelah peninjauan ulang, diputuskan bahwa peluru tersebut sah karena tidak melanggar garis batas. Keputusan ini disambut sorak sorai penonton. Pada seri terakhir, Rudi melepaskan tembakan penentu yang menghasilkan skor 10.7, mengunci kemenangan dengan total 257.9 poin. Ini adalah rekor baru untuk turnamen domestik, melampaui rekor sebelumnya yang sebesar 255.1 poin. Siti harus puas dengan medali perak, namun ia tetap tersenyum dan memberikan selamat kepada lawannya.

"Ini bukan tentang menang atau kalah. Setiap peluru yang kami lepaskan adalah bukti bahwa kami bisa bersaing di level mana pun. Terima kasih kepada panitia yang telah menyediakan fasilitas ramah disabilitas," ujar Rudi Hartono usai pertandingan, sambil menggenggam erat piala juara.

Analisis Kinerja Atlet dan Dukungan Teknologi

Dari sisi taktik, pelatih tim nasional yang hadir di lokasi mencatat bahwa para atlet disabilitas kini lebih banyak menggunakan teknik pernapasan diafragma dibandingkan teknik bahu. Hal ini terlihat dari konsistensi skor di babak final. Data menunjukkan bahwa pada menit ke-50 hingga 60, rata-rata tembakan para finalis mencapai 10.2, naik signifikan dari rata-rata babak kualifikasi yang hanya 9.8. Ini membuktikan bahwa manajemen tekanan mental menjadi kunci utama.

Selain itu, penggunaan kursi roda khusus yang dilengkapi penyangga lengan otomatis memberikan pengaruh besar terhadap stabilitas. Sebanyak 80 persen peserta menggunakan alat bantu tembak yang telah disesuaikan dengan kondisi fisik mereka. Hal ini sejalan dengan regulasi IPC (International Paralympic Committee) yang mengizinkan modifikasi peralatan selama tidak memberikan keuntungan tidak adil. Wasit utama, Bambang Susilo, menegaskan bahwa semua perlengkapan telah melalui pemeriksaan ketat sebelum pertandingan dimulai.

Turnamen ini juga menjadi ajang seleksi awal untuk menghadapi ASEAN Para Games tahun depan. Manajer tim nasional, Ahmad Fauzi, menyatakan bahwa ia melihat potensi besar dari generasi muda. "Setidaknya ada lima atlet baru yang mencatatkan skor di atas 250 poin. Ini modal bagus," katanya. Dengan total 45 peserta yang bertanding, turnamen ini dianggap sukses dari segi partisipasi dan kualitas. Panitia mencatat hanya ada dua kartu kuning yang dikeluarkan, keduanya karena pelanggaran prosedur waktu, dan tidak ada kartu merah. Hal ini menunjukkan sportivitas yang tinggi.

Kejuaraan ini diharapkan menjadi agenda tahunan yang rutin digelar di Senayan. Fasilitas yang sudah memenuhi standar internasional, termasuk lintasan tembak 50 meter dengan sistem target elektronik, menjadi daya tarik tersendiri. Dengan berakhirnya turnamen ini, para atlet akan kembali ke daerah masing-masing dengan membawa pengalaman berharga. Skor akhir 257.9 poin akan menjadi motivasi bagi semua untuk terus berlatih. Sampai jumpa di kejuaraan berikutnya, di mana presisi dan semangat kembali diuji.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User