Skor akhir 4-2 atas Kosta Rika tidak cukup menyelamatkan Jerman. Di Stadion Al Bayt, Kamis malam (1/12/2022), Der Panzer menang dramatis, tetapi tersingkir karena selisih gol. Jepang memuncaki Grup E dengan 6 poin, Spanyol dan Jerman sama-sama mengemas 4 poin, namun selisih gol Spanyol (+6) jauh lebih baik dibanding Jerman (+1). Hansi Flick, pelatih bergaji tertinggi di turnamen ini, harus menelan pil pahit tersingkir untuk kedua kalinya secara berturut-turut di fase grup Piala Dunia.
Gaji Selangit, Hasil Nihil
Flick mengantongi upah sekitar 5 juta pound sterling per tahun atau setara Rp94 miliar. Angka itu menempatkannya di jajaran elit pelatih Piala Dunia 2022. Namun, investasi besar Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) itu tak berbuah manis. Dalam tiga laga penyisihan, Jerman mencatat penguasaan bola rata-rata 63 persen, tetapi shots on target-nya hanya 14 dari total 34 tembakan. Efisiensi rendah itulah yang membuat mereka tertahan 1-1 oleh Spanyol, lalu kalah 1-2 dari Jepang.
Menit ke-11 laga kontra Jepang, Ilkay Gundogan membuka keunggulan dari titik penalti, tetapi The Blue Samurai membalikkan keadaan lewat gol Ritsu Doan (menit 75) dan Takuma Asano (menit 83). Kekalahan itu menjadi titik balik yang membuat Jerman kehilangan kendali atas nasibnya sendiri. Lini pertahanan yang dikomandoi Antonio Rüdiger kerap lengah dalam transisi cepat, dan offside trap yang diterapkan Flick terbaca oleh lawan.
"Kami kehilangan momen-momen krusial. Secara statistik kami mendominasi, tapi sepak bola tidak dinilai dari statistik semata," ujar Flick dalam konferensi pers usai laga. "Tanggung jawab ada pada saya."
Deretan Pelatih Mahal yang Pulang Lebih Cepat
Flick bukan satu-satunya pelatih bergaji tinggi yang gagal membawa timnya ke fase gugur. Setidaknya ada empat nama lain dengan bayaran setara yang mengalami nasib serupa. Roberto Martínez, yang menangani Belgia dengan gaji dilaporkan lebih dari 3 juta pound sterling per tahun, harus angkat koper setelah generasi emasnya finis ketiga Grup F di bawah Maroko dan Kroasia. Belgia hanya mencetak satu gol dari tiga pertandingan, dengan penguasaan bola 55 persen dan shots on target cuma delapan.
Luis Enrique, meski Spanyol lolos ke fase gugur, sebenarnya hampir menyusul Jerman. Ia duduk di bangku cadangan dengan bayaran sekitar 4 juta pound sterling per tahun. Spanyol tergusur di babak 16 besar oleh Maroko melalui adu penalti 0-3, dan dominasi penguasaan bola 77 persen dalam laga itu berakhir tanpa gol alias sia-sia. Enrique kemudian dikritik karena keras kepala menerapkan false nine tanpa penyerang murni.
Nama lain adalah Carlos Queiroz (Iran) dan Otto Addo (Ghana). Keduanya berpenghasilan lebih rendah, namun tetap masuk radar karena ekspektasi tinggi terhadap tim masing-masing. Iran kalah 0-1 dari Amerika Serikat di laga penentuan, sedangkan Ghana tumbang 0-2 dari Uruguay dan terpuruk di dasar Grup H.
Kilas Balik Grup E: Duel Taktik yang Salah Arah
Mari bedah ulang Grup E secara statistik. Jerman mendominasi penguasaan bola di setiap laga: 74 persen melawan Kosta Rika, 63 persen melawan Jepang, dan 56 persen melawan Spanyol. Total tembakan mereka 34, dengan expected goals (xG) 5,2. Namun clean sheet hanya tercipta sekali, saat menghadapi Kosta Rika. Dua kartu kuning diterima Jamal Musiala dan Leon Goretzka sebagai penanda frustrasi di lini tengah.
Formasi 4-2-3-1 yang konsisten digunakan Flick sebenarnya cocok untuk menguasai lini tengah. Akan tetapi, starting XI yang terlalu sering dirotasi membuat chemistry pemain depan tidak terbangun. Gundogan, Musiala, dan Serge Gnabry bermain baik secara individu, tapi minim kombinasi satu-dua sentuhan di area final. Bandingkan dengan Jepang yang lebih sabar dan efisien: hanya 26 persen penguasaan bola melawan Jerman, tetapi mencetak dua gol dari empat shots on target.
Pelatih Jepang, Hajime Moriyasu, menerapkan taktik low block dan serangan balik cepat. Menit ke-83, Asano menerima umpan terobosan dan sontekannya memperdaya Manuel Neuer. Itu adalah gol yang menandai nasib Jerman. Bahkan kemenangan dramatis 4-2 atas Kosta Rika, dengan dua gol Niclas Füllkrug dan satu gol Kai Havertz, tidak cukup. VAR sempat menganulir satu gol Jerman karena offside, menambah luka.
Bayaran Tinggi Bukan Jaminan
Data di atas menunjukkan satu pola: gaji fantastis tidak berkorelasi langsung dengan lolos ke fase gugur. Flick, Martínez, dan Enrique adalah tiga pelatih dengan bayaran teratas di antara tim yang tersingkir lebih cepat. DFB dikabarkan harus merogoh kocek puluhan miliar rupiah untuk pesangon apabila memutus kontrak Flick lebih awal. Sementara itu, Jepang melaju dengan pelatih berbudget lebih kecil namun taktiknya tajam.
Pelajaran bagi federasi sepak bola: rekrutmen pelatih tidak sekadar soal nama besar dan gaji tinggi. Kecocokan taktik, manajemen transisi, serta ketenangan di laga krusial jauh lebih menentukan. Piala Dunia 2022 menjadi bukti keras bahwa penguasaan bola bukan segalanya ketika penyelesaian akhir tumpul dan lini belakang rapuh. Flick dan kawan-kawan pulang lebih cepat, membawa statistik indah yang tak berarti apa-apa tanpa tiket ke fase gugur.
Comments (0)