Korban Gempa NTT: KPAI Catat 2 Anak Meninggal di Pengungsian
Menurut KPAI, dua anak yang meninggal di pengungsian ini disebabkan oleh sakit dan diperparah oleh kondisi di pengungsian.]]>
Korban Gempa NTT: KPAI Catat 2 Anak Meninggal di Pengungsian
Kelompok Kerja Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat dua anak meninggal dunia di tengah situasi pengungsian akibat gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Kedua korban ini menjadi bukti bahwa bencana alam tidak hanya menimbulkan dampak fisik, tetapi juga berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan psikologis dan kesehatan anak-anak yang menjadi korban.
Ketua KPAI, Asrorun Niam Sholeh, mengatakan bahwa kematian kedua anak tersebut terjadi selama mereka berada di tengah situasi pengungsian. "Kami prihatin dengan kondisi ini. Anak-anak yang menjadi korban bencana alam rentan terhadap berbagai risiko, termasuk kematian yang disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak memadai di tempat pengungsian," ujar Asrorun dalam konferensi pers yang diadakan beberapa waktu lalu.
Situasi Darurat di Pengungsian
Sesuai data yang dikumpulkan KPAI, setelah gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitude mengguncang NTT pada akhir bulan lalu, ribuan warga terpaksa mengungsi ke berbagai titik pengungsian yang tersebar di beberapa wilayah. Kondisi di tempat pengungsian dinilai sangat memprihatinkan, dengan fasilitas kesehatan dan sanitasi yang tidak memadai.
"Kami menemukan bahwa banyak tempat pengungsian kekurangan air bersih, fasilitas kesehatan yang layak, serta ruang terbuka yang cukup untuk anak-anak bermain dan beristirahat. Kondisi ini tentu saja berdampak buruk terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak-anak," jelas Asrorun.
Upaya Penanganan Darurat
Sebagai respons terhadap kondisi ini, KPAI telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta berbagai lembaga swasta dan organisasi masyarakat untuk segera menyiapkan berbagai langkah penanganan darurat.
"Kami meminta pemerintah untuk segera meningkatkan kualitas fasilitas di tempat pengungsian, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan dasar anak-anak seperti air bersih, makanan bergizi, serta fasilitas kesehatan yang memadai. Selain itu, perlu juga dibuka ruang khusus bagi anak-anak untuk bermain dan belajar agar mereka tidak kehilangan masa kanak-kanaknya," tambah Asrorun.
Dampak Psikologis pada Anak-anak
Selain kematian dua anak tersebut, KPAI juga khawatir dengan dampak psikologis jangka panjang yang dialami anak-anak korban bencana. "Mengalami bencana alam dapat meninggalkan trauma mendalam bagi anak-anak. Mereka mungkin mengalami kecemasan, insomnia, atau gangguan lainnya jika tidak segera mendapatkan dukuan psikologis yang memadai," jelas seorang psikolog anak yang turut terlibat dalam tim bantuan KPAI.
Untuk itu, KPAI juga menggandeng para psikolog untuk menyediakan layanan konseling bagi anak-anak korban bencana. "Kami juga mendirikan 'Child Friendly Space' di beberapa titik pengungsian sebagai tempat anak-anak dapat bermain, belajar, dan berbagi cerita dengan teman sebaya sekaligus mendapatkan dukuan psikologis," ujar Asrorun.
Respons Pemerintah
Pemerintah daerah NTT telah menyatakan siap mengantisipasi berbagai dampak buruk yang timbul akibat gempa bumi tersebut. Gubernur NTT, Viktor B. Laiskodat, mengatakan bahwa pemerintah sedang berupaya maksimal untuk meningkatkan kualitas pengungsian.
"Kami sudah menginstruksikan seluruh camat dan kepala desa untuk segera memperbaiki kondisi pengungsian. Kami juga sudah mengirim tim kesehatan dan psikolog ke berbagai titik pengungsian. Tentu saja, ini membutuhkan waktu dan dukungan dari berbagai pihak," kata Viktor.
Peran Masyarakat
KPAI juga mengimbau masyarakat untuk turut serta membantu korban gempa, terutama anak-anak. "Bantuan tidak hanya berupa barang sembarangan, tetapi juga harus sesuai dengan kebutuhan anak-anak. Kami mendorong masyarakat untuk memberikan bantuan bermain, buku, serta dukuan psikologis," kata Asrorun.
Dengan adanya dukuan yang tepat dan berkelanjutan, diharapkan anak-anak korban gempa dapat pulih secara fisik dan psikologis, serta dapat kembali menjalani kehidupan normal sebagaimana mestinya. "Kita harus ingat bahwa anak-anak adalah aset bangsa masa depan. Perlindungan terhadap mereka adalah tanggung jawab kita bersama," pungkas Asrorun.
Comments (0)