Skor akhir 3-2 untuk Spanyol atas Argentina di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Minggu malam waktu setempat, seharusnya menjadi puncak perayaan La Roja merebut trofi Piala Dunia 2026. Namun, momen haru itu tercoreng oleh insiden keributan yang melibatkan bek veteran Argentina, Nicolas Otamendi, dan full-back kanan Nahuel Molina dengan gelandang jangkar Spanyol, Rodri.
Insiden terjadi tak lama setelah wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya laga. Menit ke-90+6, ketika para pemain Spanyol berlari ke tengah lapangan untuk merayakan gol kemenangan, Rodri yang menjadi motor serangan Spanyol sepanjang turnamen terlihat menjatuhkan diri dan memeluk bola di area pertahanan Argentina. Aksi itu memicu kemarahan Otamendi yang menganggapnya sebagai bentuk provokasi waktu. Molina ikut masuk ke dalam kerumunan, dan dorongan pun tak terhindarkan.
Keributan berlangsung sekitar dua menit. Petugas keamanan dan para pemain dari kedua kubu segera melerai. Wasit asal Prancis, Clement Turpin, yang memimpin pertandingan, langsung mengeluarkan kartu kuning untuk Rodri, Otamendi, dan Molina setelah berkonsultasi dengan tim VAR. Tidak ada kartu merah yang dikeluarkan meski insiden sempat melibatkan lebih dari sepuluh pemain dari kedua tim.
Dominasi Spanyol di Babak Pertama
Spanyol tampil dengan formasi 4-3-3 yang mengandalkan penguasaan bola tinggi. Sepanjang babak pertama, La Roja mencatatkan penguasaan bola mencapai 64 persen dengan 8 shots on target dari total 14 percobaan. Rodri menjadi dirigen permainan dengan 78 sentuhan bola dan tingkat akurasi umpan mencapai 93 persen.
Argentina yang dilatih dengan pendekatan pragmatis 4-4-2 sempat menyulitkan Spanyol melalui serangan balik cepat. Menit ke-23, Lionel Messi yang masuk sebagai pengganti di babak kedua nyaris mencetak gol melalui tendangan bebas, namun bola masih membentur mistar gawang. Sebelumnya, Spanyol membuka keunggulan pada menit ke-11 melalui sundulan Alvaro Morata memanfaatkan umpan silang dari Lamine Yamal. Argentina menyamakan kedudukan pada menit ke-34 lewat penyelesaian klinis Julian Alvarez di dalam kotak penalti.
Babak Kedua Penuh Ketegangan dan VAR
Babak kedua berjalan lebih terbuka. Spanyol kembali unggul pada menit ke-58 melalui gol Nico Williams setelah umpan terobosan Rodri yang membelah pertahanan Argentina. Argentina merespons dengan taktik pressing tinggi dan menyamakan skor pada menit ke-71 melalui tendangan voli Enzo Fernandez dari luar kotak penalti. Statistik mencatat Argentina memiliki 12 shots on target dari 17 percobaan, sementara Spanyol mencatatkan 11 shots on target dari 19 percobaan.
Momen krusial terjadi pada menit ke-84 ketika VAR mengintervensi keputusan wasit. Gol yang dicetak Molina dianulir karena offside posisi Otamendi yang berada di jalur bola. Keputusan itu memicu protes keras dari bangku cadangan Argentina dan menjadi pemicu ketegangan yang berlanjut hingga akhir laga. Spanyol akhirnya memastikan kemenangan pada menit ke-89 melalui gol Pedri yang memanfaatkan kemelut di depan gawang setelah tendangan sudut.
Reaksi Pelatih dan Analisis Taktis
"Rodri adalah pemain terbaik di dunia saat ini. Apa yang terjadi setelah pertandingan adalah bagian dari emosi sepak bola. Kami menghormati Argentina, tetapi kami datang ke sini untuk menang," ujar pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, dalam konferensi pers usai laga.
Dari kubu Argentina, asisten pelatih Pablo Aimar menyatakan kekecewaannya terhadap keputusan VAR. "Kami merasa dirugikan oleh keputusan yang tidak konsisten. Namun, kami tidak boleh melupakan pencapaian tim ini yang berhasil mencapai final," ujarnya singkat.
Secara statistik, laga ini mencatatkan total 36 pelanggaran, 7 kartu kuning, dan penguasaan bola akhir 58 persen untuk Spanyol berbanding 42 persen untuk Argentina. Rodri dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan dengan rating 8,7 dari berbagai platform statistik, berkat satu assist, 112 sentuhan, dan 5 tekel sukses.
Kemenangan ini membuat Spanyol meraih gelar Piala Dunia kedua sepanjang sejarah setelah 2010, sekaligus menutup turnamen dengan catatan clean sheet di babak grup dan total 14 gol sepanjang fase gugur. Argentina harus puas sebagai runner-up meski mencatatkan rata-rata 2,3 gol per pertandingan, tertinggi di turnamen ini. Insiden Otamendi dan Molina akan menjadi catatan tersendiri bagi disiplin tim Albiceleste, namun drama di MetLife Stadium malam itu sudah menjadi bagian dari sejarah panjang rivalitas dua kekuatan sepak bola dunia.
Comments (0)