Kebangkitan Vettel di GP Malaysia: Dari Start P20 ke P4
Cuaca panas menyelimuti Sirkuit Internasional Sepang pada hari Minggu yang menentukan. Di grid start yang lengang di posisi ke-20, seorang juara dunia empat kali duduk tenang di kokpit Ferrari SF70H m...
Cuaca panas menyelimuti Sirkuit Internasional Sepang pada hari Minggu yang menentukan. Di grid start yang lengang di posisi ke-20, seorang juara dunia empat kali duduk tenang di kokpit Ferrari SF70H miliknya. Sebastian Vettel, yang seharusnya mengawali balapan dari baris depan, malah terdampar paling belakang akibat masalah mesin pada sesi kualifikasi. Namun, apa yang terjadi selama 56 putaran berikutnya adalah sebuah demonstrasi klinis tentang determinasi, strategi, dan kecepatan murni. Vettel mengakhiri Grand Prix Malaysia 2017 di posisi keempat, sebuah hasil yang mungkin tampak biasa di atas kertas, namun terasa seperti kemenangan moral bagi Tifosi yang menyaksikan aksinya.
Start Terburuk: Masalah Mekanis dan Hukuman Grid
Babak petaka bagi Vettel dimulai pada Sabtu sore. Mesin nomor 5 di SF70H-nya mengalami kehilangan tekanan udara pada sistem pneumatik katup saat sesi Q1. Hasilnya: Vettel gagal mencatatkan satu putaran waktu kompetitif dan tereliminasi di posisi ke-20. Namun, penderitaan belum berakhir. Tim Ferrari memutuskan mengganti mesin dengan unit keempat musim ini, melewati jatah tiga mesin yang diizinkan tanpa penalti. Konsekuensinya: penalti turun 20 grid, memaksanya start dari paling belakang. “Kami tidak punya pilihan lain. Kami harus bertahan di pertarungan gelar,” ujar Kepala Teknis Ferrari saat itu melalui radio tim.
Ketika lima lampu merah padam dan 20 mobil melesat dari grid, Vettel sudah langsung kehilangan kontak dengan rombongan depan. Ia tertahan di belakang mobil-mobil midfield seperti Sauber dan McLaren. Tetapi, hanya dalam tiga putaran, pembalap asal Jerman itu sudah mengukir kemajuan: naik ke posisi ke-15 setelah memanfaatkan slipstream dan zona DRS di trek lurus panjang Sepang. Ban super-soft Pirelli yang dipakainya masih segar, dan itu menjadi senjata utamanya.
Strategi Ban dan Aksi Menyalip Tanpa Ampun
Ferrari membagi balapan Vettel dalam tiga fase pit stop, memanfaatkan undercut dan overcut dengan cerdas. Di putaran ke-8, Vettel sudah menempel ketat Lance Stroll (Williams) dan melakukan manuver berani di Tikungan 1, mengambil sisi dalam dengan presisi. Penonton bersorak. Overtake demi overtake terjadi: Kevin Magnussen (Haas), Esteban Ocon (Force India), dan Stoffel Vandoorne (McLaren) menjadi korban berikutnya. Data GPS menunjukkan kecepatan tertinggi Vettel di trek lurus mencapai 332 km/jam, lebih cepat 5 km/jam dibandingkan rekan setimnya Kimi Räikkönen yang berada di depan. Itu berkat set-up sayap belakang rendah yang dipilih tim demi mengejar defisit posisi.
Masuk putaran ke-23, Vettel sudah berada di posisi keenam. Ia lalu melewati Sergio Perez dalam duel wheel-to-wheel yang mendebarkan di Tikungan 4, sebelum akhirnya mengejar dua Red Bull dan satu Mercedes. Sirkuit Sepang yang lebar dengan kombinasi tikungan teknis dan trek lurus panjang memberikan banyak peluang bagi pebalap dengan mobil terbaik. Namun, keausan ban menjadi tantangan. Suhu lintasan di atas 50 derajat Celsius memaksa Vettel mengelola ban belakang, terutama saat mendorong terlalu keras di sektor tengah.
Podium Hampir Tergapai: Duel dengan Ricciardo
Pertarungan sesungguhnya terjadi di 15 putaran terakhir. Vettel, yang kini berada di posisi kelima, membidik Daniel Ricciardo (Red Bull) untuk merebut tempat keempat. Ricciardo, yang memiliki ban super-soft lebih segar setelah pit stop kedua, mempertahankan posisinya dengan gigih. Vettel mencoba di Tikungan 9, tikungan hairpin kiri, tetapi Ricciardo menutup pintu. Di putaran ke-48, Vettel berhasil melakukan manuver switchback cemerlang, memanfaatkan grip lebih baik di exit Tikungan 9, dan akhirnya merebut posisi keempat. Sayangnya, ia tak mampu mengejar podium karena defisit waktu terlalu besar dengan Valtteri Bottas (Mercedes) yang berada di posisi ketiga, terpaut 8,7 detik.
Meskipun gagal naik podium, statistik balapan Vettel sangat impresif. Ia mencatatkan total overtake sebanyak 16 kali, terbanyak dibandingkan pebalap mana pun di grid. Catatan waktu putaran terbaiknya 1:34.080, hanya terpaut 0,3 detik dari milik peraih pole Lewis Hamilton. Penguasaan balapan (laps led) memang nol, tetapi jika diukur dari pure pace, Vettel tetap menunjukkan potensi Ferrari di sirkuit yang cocok.
Dampak pada Klasemen Kejuaraan Dunia
Hasil finis keempat ini mungkin bukan yang diidamkan oleh Vettel, terutama karena rival utamanya, Lewis Hamilton, finis kedua (di belakang pemenang Max Verstappen). Dengan tambahan 12 poin, Vettel memangkas selisih? Tidak, justru Hamilton melebarkan jarak menjadi 34 poin di klasemen sementara. Namun, banyak analis menilai bahwa tanpa masalah mesin dan penalti grid, Vettel seharusnya mampu memenangi balapan atau setidaknya meraih podium, mengingat performa Ferrari yang superior dalam simulasi balapan panjang. “Ini adalah kemenangan yang hilang,” kata mantan pembalap Martin Brundle di sesi komentator. “Ferrari memiliki paket terbaik hari ini, tapi nasib berkata lain.”
Kritik mulai diarahkan pada keandalan (reliabilitas) unit tenaga Ferrari. Ini adalah kegagalan mesin kedua bagi Vettel di paruh kedua musim 2017, setelah insiden serupa di Singapura. Tim di Maranello pun harus bekerja lembur sebelum seri berikutnya di Jepang untuk memastikan musim tidak berakhir prematur. Bagi Vettel sendiri, kebangkitan dari P20 ke P4 adalah pembuktian mental juara. Namun, di Formula 1, romantisme kebangkitan tidak menghasilkan trofi. Yang dibutuhkan adalah finis di depan, dan poin maksimal. Vettel mungkin memenangkan hati penonton, tetapi pertarungan gelar semakin menjauh.
Comments (0)