Jordi Amat Yakin Garuda Bisa Akhiri Puasa Gelar Piala AFF 2026

Jakarta — Keyakinan besar diucapkan dari barisan pertahanan Timnas Indonesia. Bek senior Jordi Amat menyampaikan optimismenya bahwa skuad Garuda mampu mengakhiri penantian panjang dan mengangkat tro...

Aug 08, 2026 - 11:37
0 0
Jordi Amat Yakin Garuda Bisa Akhiri Puasa Gelar Piala AFF 2026

Jakarta — Keyakinan besar diucapkan dari barisan pertahanan Timnas Indonesia. Bek senior Jordi Amat menyampaikan optimismenya bahwa skuad Garuda mampu mengakhiri penantian panjang dan mengangkat trofi Piala AFF 2026, turnamen yang selama beberapa dekade selalu berakhir dengan kekecewaan bagi sepak bola Tanah Air. Pernyataan itu sekaligus menjadi penanda perubahan besar dalam cara para pemain Garuda memandang turnamen paling bergengsi di Asia Tenggara tersebut.

Bagi Amat, keyakinan itu lahir dari perhitungan, bukan sekadar emosi. Pemain yang menempa diri di akademi Espanyol dan pernah merumput di Liga Premier Inggris bersama Swansea City tersebut menilai kualitas skuad Indonesia saat ini berada pada level yang berbeda. Kedalaman pemain, pengalaman internasional, dan kematangan taktik disebutnya sebagai fondasi nyata untuk berbicara tentang gelar, bukan lagi sekadar menargetkan kelolosan dari fase grup.

Enam Final Tanpa Gelar: Luka Lama Garuda

Statistik sejarah memang tidak berpihak. Indonesia tercatat enam kali melaju ke final Piala AFF — pada edisi 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020 — namun seluruhnya berakhir dengan trofi yang melayang ke tangan lawan. Tidak ada tim lain di Asia Tenggara yang begitu sering mencapai partai puncak tanpa pernah menjadi juara. Rekor itu sekaligus menjadi beban dan bahan bakar bagi setiap generasi Garuda yang datang berikutnya.

Edisi terakhir juga memberi pelajaran berharga. Pada Piala AFF 2024, Indonesia yang tampil dengan skuad muda terhenti di fase grup, sementara Vietnam keluar sebagai juara setelah menaklukkan Thailand di final. Hasil itu menegaskan satu hal: turnamen ini menuntut komposisi terbaik, bukan sekadar proyek jangka panjang. Evaluasi menyeluruh disebut sudah dilakukan dan menjadi catatan penting dalam menyusun persiapan menuju edisi 2026.

Pengalaman Eropa di Jantung Pertahanan

Sebagai bek tengah, Amat membawa atribut langka di kawasan Asia Tenggara: ketenangan dalam membangun serangan dari belakang, akurasi umpan progresif, dan kemampuan membaca pergerakan penyerang lawan. Pengalamannya menghadapi penyerang kelas dunia di Inggris dan Belgia membuatnya menjadi sosok pemimpin di lini belakang, baik di lapangan maupun di ruang ganti.

Di level klub, bek kelahiran 1992 itu menjadi bagian dari kekuatan Johor Darul Ta'zim yang mendominasi Liga Super Malaysia dan rutin tampil di kompetisi elite antarklub Asia. Ritme pertandingan berlevel tinggi yang ia jalani sepanjang tahun menjadi jaminan bahwa standar permainannya tidak akan menurun ketika turnamen regional bergulir pada akhir 2026.

Kedalaman posisi center-back Indonesia juga memberi fleksibilitas bagi staf pelatih. Skema empat bek maupun tiga bek sejajar sama-sama bisa diterapkan, dengan Amat berperan sebagai jangkar yang mengatur garis pertahanan, memimpin koordinasi pressing, dan menjadi opsi pertama dalam fase build-up serangan dari area sendiri.

Peta Kekuatan Asia Tenggara

Jalan menuju takhta dipastikan terjal. Thailand tetap menjadi tim tersukses dalam sejarah turnamen dengan koleksi tujuh trofi, Vietnam datang dengan status juara bertahan berbekal generasi emas mereka, sementara Malaysia dan Singapura terus berbenah dengan program pembinaan masing-masing. Setiap edisi Piala AFF selalu membuktikan bahwa tidak ada pertandingan mudah di kawasan ini.

Namun Amat menegaskan bahwa Indonesia tidak lagi memandang rival-rivalnya dengan rasa inferior. Pengalaman menembus babak 16 besar Piala Asia 2023 serta bersaing hingga fase akhir kualifikasi Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa Garuda terbiasa berduel melawan lawan dengan level di atas rata-rata Asia Tenggara. Standar itu, menurutnya, harus diterjemahkan menjadi dominasi di tingkat regional.

Tiga Kunci Menuju Gelar Perdana

Amat memetakan tiga faktor penentu. Pertama, persiapan matang dengan pemusatan latihan yang cukup sebelum turnamen dimulai. Kedua, manajemen skuad yang cerdas, mengingat Piala AFF digelar pada akhir tahun ketika kebugaran pemain kerap terkuras oleh padatnya jadwal klub. Ketiga, dan yang paling krusial, adalah mentalitas juara — keberanian memainkan sepak bola menyerang tanpa rasa takut kehilangan momen di laga-laga penentuan.

Dengan dukungan puluhan ribu suporter yang selalu memadati stadion dan jutaan pasang mata di layar kaca, optimisme Amat terdengar lebih dari sekadar wacana. Di ruang ganti Garuda, target juara kini bukan lagi mimpi yang diucapkan pelan-pelan, melainkan sasaran yang ditempel di papan strategi. Piala AFF 2026 masih menunggu, dan Jordi Amat sudah memasang misinya: mengubah enam luka final menjadi satu malam bersejarah bagi sepak bola Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User