Skor akhir 2-1 untuk Timnas Indonesia atas Vietnam pada laga final Piala AFF 2024 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu malam (28/12/2024), menutup puasa gelar selama 14 tahun. Gol kemenangan lahir pada menit ke-87 melalui sundulan bek tengah Rizky Ridho, memanfaatkan assist sepak pojok Marselino Ferdinan. Namun di balik euforia itu, satu nama mencuat sebagai arsitek utama: John Herdman. Pelatih asal Kanada tersebut kini berdiri sejajar dengan Anatoli Polosin, satu-satunya juru taktik yang sebelumnya membawa Indonesia meraih trofi mayor di era modern.
Jalan Berliku Menuju Puncak
Perjalanan Herdman bersama Garuda tidak dimulai dengan gemilang. Pada fase grup, Indonesia mencatat penguasaan bola rata-rata 58 persen tetapi hanya menghasilkan 1,3 gol per pertandingan. Kritik mengalir setelah hasil imbang 0-0 melawan Filipina pada matchday kedua. Starting XI yang ia rotasi dengan formasi 4-3-3 sempat dianggap terlalu eksperimental. Namun, Herdman konsisten. Menit ke-23 pada laga semifinal melawan Thailand, ia mengubah formasi menjadi 3-4-2-1 dan memasukkan Witan Sulaeman sebagai false nine. Perubahan itu mengubah dinamika; Indonesia menang 2-1 dengan shots on target 7 berbanding 3.
"Kami tidak hanya mengejar hasil, tapi membangun identitas. Setiap pemain tahu perannya, bahkan saat tekanan datang," ujar Herdman dalam konferensi pers usai laga.
Statistik turnamen mencatat Indonesia sebagai tim dengan pressing tertinggi: 128 tekanan sukses di area lawan, unggul jauh dari Vietnam yang hanya 89. Clean sheet diraih tiga kali, termasuk kemenangan 3-0 atas Myanmar di perempat final. Disiplin taktik terlihat dari kartu kuning yang hanya 6 sepanjang turnamen—terendah di antara empat tim semifinalis.
Warisan Polosin dan Lintang Kemukus Baru
Anatoli Polosin tercatat dalam sejarah sebagai pelatih yang membawa Indonesia juara SEA Games 1991 di Manila. Sejak itu, tak ada pelatih yang mampu mengulang prestasi serupa hingga Herdman datang. Polosin dikenal dengan pendekatan disiplin fisik dan serangan balik cepat. Herdman, sebaliknya, mengusung sepak bola posisional modern dengan build-up dari belakang. Meski berbeda filosofi, keduanya berbagi satu kesamaan: keberanian mengambil keputusan tak populer.
Pada final, Herdman menarik keluar gelandang bertahan Ivar Jenner pada menit ke-60, menggantinya dengan winger Egy Maulana Vikri. Keputusan itu sempat memicu kebingungan, tetapi 27 menit kemudian Ridho mencetak gol kemenangan dari situasi bola mati. "Lintang kemukus"—istilah untuk bintang berkilau yang datang tiba-tiba—kini melekat pada Herdman. Ia bukan sekadar pelatih asing yang datang dan pergi; ia meninggalkan fondasi: kurikulum pembinaan usia muda, analisis data berbasis video, dan budaya kompetisi sehat di ruang ganti.
PSSI mencatat perpanjangan kontrak Herdman hingga 2027 dengan target kualifikasi Piala Asia dan Olimpiade. Jika terealisasi, bukan tidak mungkin Herdman melampaui warisan Polosin—bukan hanya satu trofi, tapi sebuah era. Penguasaan bola boleh menjadi angka, tetapi mental juara adalah warisan yang tak terukur oleh statistik. Malam di Gelora itu menjadi saksi: langit Timnas Indonesia kembali berpendar.
Comments (0)