Oct 09, 2026
Olahraga

Jarak 1.015 Hari: Dua Wajah Perpisahan Lionel Messi

Menit ke-90+3, wasit meniup peluit panjang. Lionel Messi berdiri di tengah lingkaran, kedua tangan terangkat, sorot matanya basah. Itulah momen kunci yang menutup babak karier internasionalnya bersama...

Jarak 1.015 Hari: Dua Wajah Perpisahan Lionel Messi

Menit ke-90+3, wasit meniup peluit panjang. Lionel Messi berdiri di tengah lingkaran, kedua tangan terangkat, sorot matanya basah. Itulah momen kunci yang menutup babak karier internasionalnya bersama Argentina di laga kontra Venezuela — sebuah perpisahan yang berlangsung 1.015 hari setelah tangisnya di Camp Nou. Dua skor akhir, dua atmosfer, dua nasib yang bertolak belakang.

Angka-angka menjadi saksi bisu. Jika di Barcelona ia pergi dengan kekalahan 1-2 melawan Celta Vigo pada Mei 2021 dalam laga yang sepi penonton karena pembatasan pandemi, di Argentina ia mengakhiri perjalanan dengan kemenangan 3-0 di Estadio Monumental, Buenos Aires. Penguasaan bola Argentina mencapai 63 persen, dengan 7 shots on target dari total 15 percobaan. Messi sendiri mencatatkan 2 assist dan satu gol penalti pada menit ke-37 — kontribusi langsung pada tiga dari empat gol terakhir yang ia ciptakan bersama La Albiceleste.

Monumental vs Camp Nou: Dua Panggung, Dua Luka

Barcelona memakai formasi 4-3-3 dalam laga perpisahan sang kapten. Messi bermain sebagai false nine, turun ke lini tengah untuk mencari bola, tetapi sering terjebak dalam pressing ketat Celta. Hanya 2 dribel sukses dari 8 percobaan, serta 68 sentuhan — jauh di bawah rata-rata 92 sentuhan per laga di musim terakhirnya. Tanpa penonton, tanpa standing ovation, tanpa trofi. Yang tersisa hanya konferensi pers yang ia batalkan dan foto-foto sendu bersama Sergio Busquets serta Jordi Alba.

Argentina memilih pendekatan berbeda. Lionel Scaloni menurunkan starting XI 4-4-2 dengan Messi bebas di belakang dua penyerang. Ia melepaskan 4 key passes, 3 through ball akurat, dan memimpin transisi serangan dari lini tengah. Menit ke-23, sebuah tendangan bebas dari kiri lapangan hampir berbuah gol andai kiper lawan tidak menepisnya. VAR sempat mengintervensi pada menit ke-61 untuk memeriksa potensi offside, namun gol tetap disahkan.

"Di Barcelona, saya tidak bisa mengucapkan selamat tinggal seperti yang saya inginkan. Di sini, orang-orang membiarkan saya melakukannya dengan cara yang benar," ujar Messi dalam wawancara pasca-laga.

Statistik yang Bicara Sendiri

Sepanjang karier internasionalnya, Messi menorehkan 112 gol dan 58 assist dalam 191 caps untuk Argentina. Ia membawa La Albiceleste menjuarai Copa America 2021, Finalissima 2022, dan Piala Dunia 2022 — trofi yang selama bertahun-tahun menjauh dari genggamannya. Rasio 0,59 gol per laga itu menempatkannya sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah timnas Argentina.

Bersama Barcelona, ia meninggalkan 672 gol dalam 778 penampilan, 10 gelar La Liga, 4 Liga Champions, dan 7 Ballon d'Or. Namun laga pamungkasnya diwarnai 3 kartu kuning dan 1 kartu merah untuk pemain Celta — pertandingan yang lebih banyak diingat karena ketegangan wasit daripada keindahan sepak bola. Tren clean sheet Barcelona pada musim itu hanya 38 persen, angka terburuk dalam satu dekade.

Perbedaan lainnya terlihat dari cara keduanya merayakan. Di Camp Nou, Messi berjalan sendiri ke lorong ganti usai laga. Tidak ada tepuk tangan panjang, tidak ada lap of honour. Di Monumental, ia digendong rekan-rekan setim, disoraki 83.000 penonton, dan diberi plakat penghargaan oleh federasi. Pelatih Scaloni menyebutnya sebagai pemain yang "layak mendapatkan perpisahan sebesar itu".

Warisan yang Tak Sama

Jika di Barcelona ia pergi dengan status legenda yang pamit di tengah badai finansial klub, di Argentina ia menyudahi karier internasional sebagai pahlawan yang lengkap. Dua laga, dua cerita, dua wajah dari satu pemain yang sama. Menit ke-90 di Buenos Aires itu terasa seperti pembalasan atas menit ke-90 di Barcelona — ketika tangis tanpa penonton berubah menjadi tepuk tangan tanpa henti. Skor akhir mungkin hanya angka, tetapi dalam dua perpisahan itu, Messi menemukan dua versi dirinya: yang pergi dengan luka, dan yang pergi dengan mahkota.

Statistik menegaskan satu hal: durasi kebersamaan tidak selalu sebanding dengan kualitas perpisahan. Barcelona memiliki 21 tahun, Argentina memiliki 18 tahun. Namun hanya satu yang memberinya podium, kembang api, dan lantunan chants yang menggema hingga ke luar stadion. Sepak bola, seperti hidup, kadang memberi akhir yang lebih indah di tempat yang lebih terakhir ia tinggalkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User