Jakarta Gelar Musikal Senja Teduh Pelita dan Folklor Festival

Jakarta kembali membuktikan diri sebagai episentrum seni dan budaya yang dinamis. Dalam rangkaian pekan kemeriahan Juli 2026, dua panggung megah hadir sere

Jul 11, 2026 - 15:00
0 0
Jakarta Gelar Musikal Senja Teduh Pelita dan Folklor Festival

Jakarta kembali membuktikan diri sebagai episentrum seni dan budaya yang dinamis. Dalam rangkaian pekan kemeriahan Juli 2026, dua panggung megah hadir serentak, menyuguhkan kreasi lokal dan internasional yang memukau ribuan warga. Di satu sisi, teater musikal Senja Teduh Pelita melantunkan kembali lagu-lagu ikonik Maliq & D'Essentials dalam balutan cerita tentang harapan dan keluarga. Di sisi lain, Jakarta World Folklore Festival 2026 menghadirkan sapuan warna-warni tarian tradisional dari enam negara, menjadikan ibu kota seperti kanvas global yang hidup.

Adaptasi Penuh Cinta: Dari Nada Menjadi Narasi

Mengubah komposisi musik menjadi sebuah kisah utuh bukanlah pekerjaan sederhana. Sutradara Nuya Susantono mengaku proses kreatif di balik musikal Senja Teduh Pelita adalah perjalanan emosional yang mendalam. “Kami tidak hanya mengambil lagu-lagu populer, tetapi meresapi setiap lirik untuk menemukan benang merah cerita. Hasilnya adalah kisah tentang sebuah keluarga yang berjuang menjaga harapan di tengah krisis lingkungan,” tuturnya.

Pementasan yang digelar di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, ini melibatkan 30 aktor dan aktris panggung serta orkestra live 15 musisi. Lagu seperti “Untitled”, “Cobalah untuk Setia”, dan “Setapak Sriwedari” diaransemen ulang agar menyatu dengan dialog dan koreografi. Angga Puradiredja, vokalis Maliq & D'Essentials, mengaku haru melihat karya bandnya diinterpretasikan secara teatrikal.

“Saya tak menyangka lagu-lagu kami bisa memiliki dimensi baru seperti ini. Nuya dan tim berhasil menciptakan dunia yang selaras dengan roh musik kami,” kata Angga saat ditemui di sela gladi resik.

Penonton bukan hanya disuguhi alunan musik, tetapi juga visual sinematik dan tata panggung yang imersif. Pertunjukan yang berlangsung selama lima hari ini hampir selalu dipadati pengunjung, dengan total penonton mencapai 12.500 orang. Tiket premium bahkan habis terjual dalam tiga hari pertama.

Pesta Rakyat Dunia di Atas Panggung Jakarta

Di waktu yang hampir bersamaan, pusat kota bertransformasi menjadi panggung internasional. Jakarta World Folklore Festival 2026 menyatukan delegasi seni dari Rusia, Polandia, Yunani, Filipina, Korea Selatan, Rumania, dan tentu saja Indonesia sebagai tuan rumah. Berlangsung di Plaza Parkir Timur Senayan, festival yang digelar selama tiga hari ini menjadi magnet bagi keluarga dan pecinta budaya.

“Festival ini adalah jembatan silaturahmi antarbangsa. Melalui tarian, kami merayakan perbedaan tanpa harus kehilangan identitas,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Budi Hermawan.

Rangkaian acara dibuka dengan kolosal Tari Saman dari Aceh, disusul Ruejenka dari Rumania yang penuh energi, dan gerakan anggun penari Yunani dalam balutan busana ala dewi. Tak ketinggalan, ansambel Korea Selatan membawakan Samgomu, tarian dengan genderang yang menghipnotis. Setiap penampilan disambut decak kagum dan riuh tepuk tangan.

Selain pentas, area festival juga menyediakan 21 stan kuliner khas nusantara dan mancanegara serta 5 lokakarya tari yang dibuka untuk umum tanpa biaya. Hal ini semakin menegaskan komitmen panitia untuk mendekatkan seni ke masyarakat. Menurut catatan panitia, festival ini berhasil menarik lebih dari 25.000 pengunjung selama gelarannya.

Dampak Ganda bagi Ekosistem Seni dan Pariwisata

Kehadiran dua peristiwa budaya besar ini memberikan efek domino yang signifikan. Pengamat seni dan budaya, Dr. Rini Susilowati, menyebutkan bahwa Jakarta sedang memasuki fase kebangkitan seni pasca-pandemi. “Kita melihat gelombang baru apresiasi publik terhadap pertunjukan langsung. Musikal dengan pendekatan kontemporer dan festival folklor yang inklusif adalah kombinasi cerdas untuk menyasar beragam segmen penonton,” jelasnya.

Secara ekonomi, perputaran uang dari kedua acara ini diperkirakan mencapai Rp 4,7 miliar, berasal dari penjualan tiket, sewa stan, dan multiplier effect bagi hotel serta transportasi di sekitar venue. Berikut ringkasan perbandingan data kedua event:

AspekSenja Teduh PelitaJakarta World Folklore Festival
Jumlah Penampil30 aktor, 15 musisi150 penari (7 negara)
Durasi Acara5 hari (7–11 Juli)3 hari (9–11 Juli)
Total Penonton12.50025.000+
Tiket MasukRp 150.000–Rp 850.000Gratis
Kegiatan PendampingMeet & Greet, workshop teaterLokakarya tari, bazar kuliner

Kedua perhelatan ini tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga menjadi wadah edukasi dan diplomasi budaya. Melalui musikal, generasi muda dikenalkan pada karya musik Indonesia yang dikemas modern. Sementara itu, festival folklor mengajarkan toleransi dan keindahan tradisi global. Kombinasi ini menjadi bukti bahwa Jakarta mampu menjadi tuan rumah bagi keragaman ekspresi artistik.

Dengan suksesnya kedua acara, publik berharap agar agenda serupa rutin diselenggarakan, bahkan dalam skala yang lebih besar. “Kami ingin Jakarta punya kalender festival yang dinanti, seperti Edinburgh atau Avignon,” pungkas Nuya Susantono, yang kini tengah menggodok proyek musikal berikutnya bersama penulis naskah ternama. Sementara itu, panitia Jakarta World Folklore Festival berencana menggelar edisi berikutnya dengan partisipasi lebih banyak negara.

[SOCIAL_TWEET]: Dua wajah seni Jakarta minggu ini: musikal 'Senja Teduh Pelita' menggetarkan jiwa, sementara Jakarta World Folklore Festival memukau dengan tarian dunia. 🎭🌍 Kuota terbatas, ayo saksikan! #SeniJakarta #MaliqMusikal #FolkloreFest2026[SOCIAL_TG]: 🎶🌐 Pekan seni puncak Jakarta: musikal *Senja Teduh Pelita* dan Festival Folklor Dunia 2026 meriah! Ratusan penari dan musisi, gratis untuk festival folklor. Simak ulasan kami.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User