Infantino Kembali Tersandung, Dugaan Dana Ilegal Rp32 Miliar Mengguncang FIFA

Skandal kembali menghantam kursi kepemimpinan tertinggi sepak bola dunia. Presiden FIFA, Gianni Infantino, kini berada di pusaran dugaan penerimaan dana ilegal senilai Rp32 miliar atau setara sekitar ...

Oct 14, 2026 - 18:00
0 1
Infantino Kembali Tersandung, Dugaan Dana Ilegal Rp32 Miliar Mengguncang FIFA

Skandal kembali menghantam kursi kepemimpinan tertinggi sepak bola dunia. Presiden FIFA, Gianni Infantino, kini berada di pusaran dugaan penerimaan dana ilegal senilai Rp32 miliar atau setara sekitar 1,6 juta poundsterling. Kabar ini mencuat setelah serangkaian dokumen dan kesaksian mengungkap adanya dua jalur pendapatan yang mengalir ke kantong pribadi orang nomor satu di federasi sepak bola global tersebut — satu jalur resmi yang tercatat, dan satu jalur tidak resmi yang justru menjadi sorotan utama.

Menit ke-1 laporan investigasi dibuka, publik langsung dihadapkan pada pertanyaan besar: bagaimana mungkin seorang pejabat yang mengkampanyekan transparansi dan good governance justru diduga menerima aliran dana di luar mekanisme resmi? Ini bukan kali pertama nama Infantino dikaitkan dengan praktik keuangan gelap. Namun, temuan terbaru ini disebut-sebut lebih terstruktur, lebih rapi, dan lebih sulit dibantah.

Anatomi Dua Aliran Dana: Resmi dan Tidak Resmi

Berdasarkan penelusuran yang dihimpun, ada dua sumber pendapatan yang mengarah ke Infantino. Sumber pertama adalah pendapatan resmi berupa gaji, tunjangan, dan bonus kinerja sebagai Presiden FIFA — komponen yang memang wajar bagi seorang pejabat eksekutif. Sumber kedua inilah yang memantik kegaduhan: dugaan pembayaran dari pihak ketiga yang tidak tercatat dalam pembukuan federasi, dengan nilai disebut mencapai puluhan miliar rupiah.

Jika dianalogikan dengan statistik pertandingan, ini seperti sebuah tim yang mencatatkan penguasaan bola 65 persen namun shots on target-nya nol — artinya, dominasi di permukaan tidak diikuti transparansi di area penalti. Publik sepak bola dunia menuntut kejelasan: dari mana dana itu berasal, siapa yang mentransfer, dan untuk kepentingan apa?

Rekam Jejak Kontroversi yang Tak Pernah Usai

Sejak mengambil alih tampuk kepemimpinan FIFA pada 2016 menggantikan Sepp Blatter yang tumbang oleh skandal korupsi, Infantino memang kerap dikaitkan dengan berbagai kontroversi. Mulai dari perjalanan pribadi menggunakan jet sewa, pembelian properti mewah, hingga kedekatannya dengan sejumlah pengusaha yang punya kepentingan di turnamen besar.

Dalam konteks skandal terbaru ini, pola yang muncul mirip dengan permainan bertahan park the bus: pihak FIFA langsung membantah, menyebut laporan sebagai “narasi usang tanpa bukti baru”. Akan tetapi, bantahan tanpa data rinci justru terasa seperti kartu kuning yang diberikan wasit terhadap pemain yang melakukan pelanggaran berulang — tidak menyelesaikan akar masalah.

“Kepercayaan publik adalah mata uang paling berharga dalam sepak bola. Jika integritas pemimpinnya diragukan, seluruh ekosistem permainan ini yang terdampak,” demikian kritik yang mengemuka dari kalangan pengamat tata kelola olahraga.

Dampak ke Reputasi FIFA dan Piala Dunia 2026

Skandal ini datang di momen yang sangat sensitif. FIFA tengah bersiap menyelenggarakan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di tiga negara — Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko — dengan format baru 48 tim. Ajang sebesar itu membutuhkan kredibilitas maksimal dari penyelenggaranya.

Bayangkan jika skandal ini terus membesar. Sponsor besar bisa mulai menghitung risiko reputasi, sama seperti klub yang mempertimbangkan menjual pemain bermasalah meski statistiknya mentereng. Nilai kontrak komersial FIFA yang disebut menembus miliaran dolar berpotensi terganggu jika kepercayaan mitra bisnis memudar.

Sejumlah asosiasi nasional dikabarkan mulai menahan diri untuk memberikan dukungan terbuka kepada Infantino. Dalam bahasa taktik, ini seperti formasi 4-4-2 yang berubah menjadi 5-4-1 — mundur, defensif, menunggu perkembangan sebelum menentukan sikap resmi.

Tekanan Audit Independen dan Tuntutan Transparansi

Desakan paling keras kini mengarah pada perlunya audit independen menyeluruh terhadap seluruh transaksi yang melibatkan kantor kepresidenan FIFA. Tanpa langkah itu, setiap bantahan hanya akan menjadi kutipan tanpa statistik — kata-kata kosong yang tidak mengubah papan skor kepercayaan.

Yang paling dirugikan sebenarnya adalah penggemar. Mereka yang setiap akhir pekan menonton pertandingan, membeli tiket, dan merayakan gol, kini harus mencerna kabar bahwa uang yang seharusnya mengalir untuk pembinaan sepak bola muda justru diduga menyimpang ke jalur pribadi.

Jika benar terbukti, skandal Rp32 miliar ini bisa menjadi hat-trick kontroversi bagi Infantino — setelah serangkaian tuduhan sebelumnya. Namun jika tidak terbukti, FIFA wajib menjelaskannya dengan data terbuka, bukan sekadar pernyataan pers. Sebab di lapangan hijau maupun di ruang rapat federasi, aturan yang sama berlaku: transparansi adalah wasit yang tak bisa dibeli.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User