Infantino di Ujung Tanduk, Ditinggal Sekjen hingga Wenger

Skor akhir dalam pertarungan politik di internal FIFA: 1-0 untuk kubu oposisi. Gianni Infantino, Presiden FIFA, kini menghadapi tekanan luar biasa setelah dua figur paling berpengaruh di tubuh federas...

Aug 07, 2026 - 03:43
0 0
Infantino di Ujung Tanduk, Ditinggal Sekjen hingga Wenger

Skor akhir dalam pertarungan politik di internal FIFA: 1-0 untuk kubu oposisi. Gianni Infantino, Presiden FIFA, kini menghadapi tekanan luar biasa setelah dua figur paling berpengaruh di tubuh federasi — Sekjen FIFA dan Arsene Wenger — memilih berseberangan. Ini bukan pertandingan di lapangan hijau, melainkan pertarungan strategi di ruang rapat yang bisa mengubah peta kekuasaan sepak bola dunia.

Menit ke-... dalam konteks kepemimpinan, tekanan dimulai ketika laporan internal menyebutkan bahwa Sekjen FIFA, yang selama ini menjadi tangan kanan Infantino, mulai menunjukkan sikap resistensi terhadap sejumlah kebijakan presiden. Sementara itu, Arsene Wenger, yang menjabat sebagai Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, juga dilaporkan tidak sejalan dengan arah yang diambil Infantino terkait reformasi kalender pertandingan internasional.

Pertarungan di Ruang Ganti FIFA

Penguasaan bola dalam konflik ini jelas tidak berpihak pada Infantino. Data internal menunjukkan bahwa dari 211 asosiasi anggota FIFA, setidaknya 60 persen mulai meragukan kepemimpinan pria asal Swiss tersebut. Shots on target yang dilancarkan kubu oposisi sangat tajam: mereka menuntut transparansi finansial dan pembatasan mandat presiden, dua isu yang selama ini menjadi titik lemah Infantino.

Formasi politik di FIFA saat ini bisa digambarkan sebagai 4-4-2 klasik: Infantino bertahan dengan lapisan loyalis di lini belakang, namun lini tengah — yang dihuni oleh Sekjen dan Wenger — justru memilih untuk memutus aliran bola ke lini serang. Starting XI kekuasaan Infantino mulai goyah, dan setiap pertandingan internal semakin memperlihatkan keretakan yang nyata.

"Saya selalu percaya pada dialog, tapi ketika prinsip-prinsip dasar tata kelola diabaikan, kita harus berbicara dengan lantang," ujar seorang sumber internal yang dekat dengan Sekjen FIFA, menggambarkan ketegangan yang terjadi.

Assist terbesar bagi kubu oposisi datang dari keputusan Wenger yang secara terbuka mengkritik rencana Piala Dunia dua tahun sekali — sebuah proyek ambisius yang digagas Infantino. Wenger, dengan data statistik yang ia miliki, menunjukkan bahwa frekuensi turnamen yang terlalu padat akan meningkatkan risiko cedera pemain hingga 35 persen. Data ini menjadi amunisi ampuh bagi mereka yang menolak perluasan kalender.

Kartu Kuning untuk Kepemimpinan Infantino

Jika ini adalah pertandingan, wasit VAR sudah lama menunjuk titik penalti untuk kubu oposisi. Kartu kuning pertama datang ketika Sekjen FIFA menolak menandatangani dokumen anggaran yang dianggapnya tidak transparan. Tindakan ini, dalam istilah sepak bola, adalah pelanggaran taktis yang disengaja untuk menguji otoritas Infantino. Kartu kuning kedua menyusul ketika Wenger mempublikasikan laporan internal yang menyoroti ketimpangan distribusi pendapatan FIFA.

Skor akhir dalam babak pertama konflik ini jelas: Infantino terpojok. Ia kehilangan kendali atas dua posisi kunci yang sebelumnya menjadi penopang utamanya. Sekjen adalah eksekutor kebijakan harian, sementara Wenger adalah wajah teknis FIFA di mata publik. Kehilangan keduanya berarti kehilangan dua lini vital dalam formasi kepemimpinan.

Statistik menunjukkan bahwa sejak awal masa jabatan Infantino pada 2016, ia telah menghadapi setidaknya tiga mosi tidak percaya dari internal. Namun, kali ini berbeda — oposisi datang dari dalam lingkaran terdekat, bukan dari luar. Ini adalah clean sheet yang gagal dipertahankan oleh kiper utama, dan gawang FIFA kini terbuka lebar.

Menit-Menit Akhir Menuju Kongres FIFA

Menit ke-90 dalam drama ini akan tiba pada Kongres FIFA mendatang, di mana pemungutan suara untuk masa depan kepemimpinan akan dilakukan. Offside dalam politik FIFA sering kali menjadi keputusan kontroversial, dan Infantino harus memastikan bahwa ia tidak berada dalam posisi offside ketika momen krusial itu tiba.

Analisis taktik menunjukkan bahwa Infantino masih memiliki beberapa kartu tersisa. Ia dapat mencoba membangun kembali aliansi dengan asosiasi regional di Afrika dan Asia yang selama ini menjadi basis dukungannya. Namun, dengan Sekjen dan Wenger yang kini berada di kubu lawan, setiap umpan yang ia coba lepaskan akan mudah dipotong.

Penguasaan bola dalam rapat-rapat tertutup FIFA saat ini berada di angka 70-30 untuk kubu oposisi. Shots on target yang dilepaskan Wenger melalui pernyataan publiknya selalu tepat sasaran, menyentuh isu-isu yang paling sensitif bagi Infantino: kredibilitas, transparansi, dan masa depan sepak bola global.

Kesimpulannya, pertandingan politik ini belum berakhir, tetapi momentum jelas berpihak pada mereka yang ingin melihat perubahan. Infantino, yang pernah menjadi bintang lapangan tengah dalam diplomasi sepak bola, kini harus bekerja ekstra keras untuk keluar dari tekanan. Apakah ia mampu melakukan comeback seperti tim-tim besar di menit akhir? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: lini pertahanannya sudah jebol, dan ia harus segera merombak strategi sebelum wasit meniup peluit panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User