Oct 10, 2026
Olahraga

Infantino dan Dinamika Kepemimpinan FIFA di Panggung Sepak Bola Dunia

Infantino bukan nama asing dalam jagat sepak bola internasional. Sejak terpilih menggantikan Sepp Blatter pada Februari 2016, pria berkebangsaan Swiss-Italia itu langsung menghadapi tugas berat: memul...

Infantino dan Dinamika Kepemimpinan FIFA di Panggung Sepak Bola Dunia

Infantino bukan nama asing dalam jagat sepak bola internasional. Sejak terpilih menggantikan Sepp Blatter pada Februari 2016, pria berkebangsaan Swiss-Italia itu langsung menghadapi tugas berat: memulihkan kredibilitas FIFA yang tercoreng skandal korupsi. Dalam kongres luar biasa di Zurich, ia meraih 115 suara dari 207 asosiasi anggota, mengalahkan Syekh Salman bin Ibrahim Al Khalifa dari Bahrain yang hanya mengantongi 88 suara. Kemenangan itu menjadi titik balik tata kelola federasi sepak bola terbesar di dunia.

Transformasi Struktural dan Ekspansi Turnamen

Salah satu warisan paling mencolok dari era Infantino adalah perubahan format Piala Dunia. Jika sebelumnya hanya diikuti 32 tim, mulai edisi 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, jumlah peserta melonjak menjadi 48 negara. Keputusan ini menuai pro dan kontra, namun Infantino berdalih bahwa ekspansi tersebut membuka peluang lebih besar bagi negara berkembang untuk unjuk gigi di panggung tertinggi.

Tak hanya itu, ia juga mendorong pembentukan Piala Dunia Antarklub dengan format baru yang melibatkan 32 klub mulai 2025. Langkah ini diklaim mampu meningkatkan pendapatan FIFA secara signifikan, meski beberapa liga Eropa mengeluhkan potensi kelelahan pemain akibat jadwal yang semakin padat. Dalam pidatonya di Kongres FIFA ke-73 di Kigali, Rwanda, Infantino menegaskan bahwa sepak bola harus lebih inklusif. "Kita tidak bisa terus menutup pintu bagi mereka yang haus akan kesempatan," ujarnya.

Pendekatan Bisnis dan Peningkatan Pendapatan

Di bawah kepemimpinannya, pendapatan FIFA melesat drastis. Siklus 2019-2022 mencatat pemasukan mencapai 7,6 miliar dolar AS, naik hampir dua kali lipat dibanding periode sebelumnya. Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi komersial agresif yang menggandeng sponsor global serta memperluas hak siar ke pasar-pasar baru di Asia dan Afrika.

Infantino juga dikenal gemar turun langsung ke lapangan. Ia kerap menghadiri pertandingan di negara-negara yang jarang disambangi pejabat tinggi federasi. Mulai dari laga kualifikasi di kepulauan kecil Pasifik hingga final kompetisi antar klub di Amerika Selatan. Gaya kepemimpinan ini membuatnya cukup populer di kalangan asosiasi anggota, terutama dari kawasan yang selama ini merasa terpinggirkan.

Kontroversi dan Tantangan ke Depan

Namun, perjalanan Infantino tidak selalu mulus. Kritik datang dari berbagai pihak terkait keputusan kontroversial, seperti penyelenggaraan Piala Dunia 2022 di Qatar yang menuai sorotan soal hak asasi manusia dan kondisi pekerja migran. Selain itu, rencana Piala Dunia setiap dua tahun yang sempat ia gaungkan mendapat penolakan keras dari UEFA dan CONMEBOL.

Meski demikian, ia berhasil mempertahankan posisinya dalam pemilihan presiden FIFA 2023 tanpa lawan. Dengan dukungan mayoritas asosiasi, Infantino kini fokus pada proyek jangka panjang: digitalisasi layanan sepak bola, pengembangan sepak bola wanita, dan program bantuan infrastruktur untuk negara-negara berkembang. Akankah era Infantino membawa FIFA ke arah yang lebih baik? Statistik dan rekam jejak akan menjadi hakimnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User