Oct 21, 2026
Olahraga

Infantino dan Agenda Besar di Balik Kursi Kekuasaan FIFA

Skor akhirnya bukan 2-1 atau 3-0 di atas lapangan, melainkan sebuah keputusan politik yang mengguncang peta sepak bola dunia. Gianni Infantino, sosok yang kini duduk di kursi tertinggi Federasi Sepak ...

Infantino dan Agenda Besar di Balik Kursi Kekuasaan FIFA

Skor akhirnya bukan 2-1 atau 3-0 di atas lapangan, melainkan sebuah keputusan politik yang mengguncang peta sepak bola dunia. Gianni Infantino, sosok yang kini duduk di kursi tertinggi Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA), kembali menjadi pusat perhatian setelah rangkaian kebijakan kontroversialnya memicu debat panas di kalangan federasi nasional, klub, hingga suporter. Layaknya pertandingan yang berjalan hingga menit ke-90+5, dinamika kepemimpinan Infantino tak pernah lepas dari tekanan, serangan balik, dan manuver taktis di ruang rapat yang tak terlihat kamera.

Menit-Menit Awal: Dari Sekretaris Jenderal ke Kursi Presiden

Perjalanan Infantino menuju kursi nomor satu FIFA bukan jalan tol yang mulus. Ia sebelumnya berperan sebagai Sekretaris Jenderal UEFA, mendampingi Michel Platini di lini tengah organisasi sepak bola Eropa. Ketika skandal korupsi besar-besaran mengguncang FIFA pada 2015, Infantino masuk sebagai kandidat alternatif di tengah kekosongan kepemimpinan. Dalam kongres pemilihan, ia mengalahkan rival-rivalnya dengan dukungan blok Asia dan Afrika, sebuah koalisi yang mengingatkan pada formasi 4-3-3 yang seimbang antara lini belakang, tengah, dan depan. Sejak saat itu, ia mengubah wajah FIFA dari organisasi yang tercoreng menjadi mesin pemasaran global dengan pendapatan miliaran dolar.

Namun, seperti pertandingan yang berjalan dengan penguasaan bola tinggi tanpa gol, kritik tetap mengalir. Banyak pihak menilai gaya kepemimpinannya terlalu terpusat, dengan keputusan-keputusan besar diambil tanpa diskusi terbuka. Statistik internal FIFA menunjukkan ekspansi turnamen, penambahan peserta Piala Dunia dari 32 menjadi 48 tim pada edisi 2026, serta perluasan Piala Dunia Antarklub menjadi 32 peserta. Angka-angka ini menjadi shots on target yang membuatnya dipuji sekaligus dicerca.

Babak Kedua: Ekspansi Turnamen dan Perang Jadwal

Memasuki babak kedua kepemimpinannya, Infantino menghadapi tekanan dari berbagai arah. Liga-liga domestik di Eropa mengeluh soal jadwal yang semakin padat. Piala Dunia Antarklub yang diperluas dianggap sebagai kartu kuning bagi kesejahteraan pemain. Asosiasi Pesepakbola Profesional (FIFPRO) bahkan mengancam langkah hukum jika kalender pertandingan tidak direformasi. Infantino merespons dengan argumen bahwa ekspansi memberi peluang lebih besar bagi klub dan negara berkembang untuk bersaing di panggung global, sebuah narasi pemerataan yang terdengar manis di atas kertas.

Di sisi lain, ia berhasil mengamankan kontrak sponsor dan hak siar senilai puluhan miliar dolar, menjadikan FIFA salah satu organisasi olahraga terkaya di dunia. Dana itu dipakai untuk program pengembangan sepak bola di negara-negara dengan basis penggemar besar namun infrastruktur minim. Bagi Infantino, ini adalah assist bagi pertumbuhan sepak bola dunia, bukan sekadar bagi-bagi kekuasaan.

Menit Akhir: Kontroversi, Kritik, dan Warisan yang Belum Usai

Menjelang akhir siklus kepemimpinannya, Infantino tetap menjadi magnet kontroversi. Kritik soal transparansi anggaran, proses pemilihan tuan rumah, hingga hubungan dekatnya dengan sejumlah kepala negara membuat posisinya terus digoyang. Sejumlah federasi nasional mempertanyakan apakah FIFA di bawahnya benar-benar bersih atau hanya berganti kostum dari era sebelumnya. Namun, ia juga mencatatkan clean sheet dalam hal stabilitas organisasi: tidak ada krisis kepemimpinan besar seperti yang terjadi pada 2015.

"Sepak bola adalah milik semua orang, dan tugas kami memastikan tidak ada yang tertinggal di bangku cadangan," ujar Infantino dalam salah satu pidatonya, dikutip dari pernyataan resmi FIFA.

Pernyataan itu menjadi mantra yang ia ulang di berbagai forum, dari kongres FIFA hingga pertemuan G20. Namun di balik retorika, pertanyaan taktis tetap menganga: apakah ekspansi demi ekspansi benar-benar memperkuat sepak bola, atau justru menggerus kualitas kompetisi dan kesehatan pemain? Penguasaan bola memang tinggi, tapi shots on target yang benar-benar mengubah permainan masih dipertanyakan banyak pihak.

Hingga kini, nasib kepemimpinannya belum final. Kongres berikutnya akan menjadi babak penentuan, di mana para pemilih alias federasi anggota akan menilai apakah ia layak mendapat perpanjangan kontrak atau digantikan oleh wajah baru. Jika sepak bola adalah pertandingan 90 menit, maka masa kepemimpinan Infantino telah memasuki injury time. Dan seperti pertandingan yang belum usai, satu keputusan di ruang rapat bisa mengubah skor akhir sejarah olahraga ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User