Infantino Bantah Tudingan Bayar Perempuan Karyawan UEFA Sebelum Pimpin FIFA

ZURICH – Laga di luar lapangan hijau kembali memanaskan jagat sepak bola dunia. Presiden FIFA, Gianni Infantino, membantah tegas tudingan yang menyebut dirinya membayar seorang perempuan berstatus k...

Aug 11, 2026 - 10:38
0 0
Infantino Bantah Tudingan Bayar Perempuan Karyawan UEFA Sebelum Pimpin FIFA

ZURICH – Laga di luar lapangan hijau kembali memanaskan jagat sepak bola dunia. Presiden FIFA, Gianni Infantino, membantah tegas tudingan yang menyebut dirinya membayar seorang perempuan berstatus karyawan UEFA pada periode sebelum ia menduduki kursi tertinggi di federasi sepak bola internasional tersebut.

Bantahan itu disampaikan Infantino setelah klaim tersebut beredar luas dan langsung menjadi sorotan publik. Pria kelahiran Brig, Swiss, 23 Maret 1970, itu menegaskan bahwa tuduhan yang diarahkan kepadanya tidak berdasar. Ia menilai namanya tengah diseret ke dalam narasi yang keliru, jauh dari fakta yang sebenarnya terjadi semasa ia berkarier di induk sepak bola Eropa.

Bantahan Tegas dari Sang Nakhoda FIFA

Dalam bantahannya, Infantino menegaskan bahwa dirinya tidak pernah melakukan pembayaran seperti yang dituduhkan. Ia berdiri kokoh di balik rekam jejaknya selama lebih dari dua dekade mengabdi di manajemen sepak bola, baik di UEFA maupun FIFA. Bagi Infantino, integritas adalah modal utama yang tidak bisa ditawar, dan tudingan tanpa bukti hanya akan menggerus kepercayaan publik terhadap institusi yang ia pimpin.

Sikap tegas ini penting dicatat. Sebagai presiden federasi dengan 211 asosiasi anggota — jumlah yang bahkan melampaui keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa — setiap pernyataan Infantino selalu berada di bawah mikroskop media internasional. Kali ini, ia memilih menghadapi bola liar tersebut secara langsung, bukan menghindar dari tekanan yang datang bertubi-tubi.

Dari Nyon ke Zurich: Rekam Jejak Sang Arsitek

Untuk memahami konteks tudingan ini, mari kita putar ulang perjalanan karier sang protagonis. Infantino bergabung dengan UEFA pada tahun 2000 dan menapak naik hingga menjabat Sekretaris Jenderal UEFA pada 2009. Selama tujuh tahun di posisi itu, ia menjadi wajah utama di balik layar kompetisi elite Eropa, termasuk format undian Liga Champions yang ikonik dan pengembangan Financial Fair Play.

Titik balik terjadi pada 26 Februari 2016. Dalam kongres luar biasa FIFA di Zurich, Infantino memenangi pemilihan presiden dengan 115 suara pada putaran kedua, mengungguli rival terdekatnya. Ia mewarisi kursi yang ditinggalkan Sepp Blatter menyusul skandal korupsi besar yang mengguncang federasi pada 2015. Sejak itu, Infantino dua kali terpilih kembali — pada 2019 di Paris dan 2023 di Kigali — dan kini memimpin persiapan Piala Dunia 2026 yang untuk pertama kalinya diikuti 48 tim di tiga negara: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Bayang-Bayang Etika yang Tak Pernah Pergi

Tudingan seperti ini tidak datang di ruang hampa. FIFA adalah organisasi yang masih berjalan di bawah bayang-bayang skandal masa lalu. Penangkapan sejumlah pejabat tinggi di Zurich pada Mei 2015 membuka kotak pandora korupsi yang memaksa federasi melakukan reformasi besar-besaran, mulai dari pembatasan masa jabatan hingga penguatan komite etik independen.

Infantino sendiri berulang kali memposisikan diri sebagai agen perubahan. Ia kerap menekankan transparansi keuangan dan tata kelola yang bersih sebagai fondasi kepemimpinannya. Karena itu, setiap klaim yang menyeret namanya — apalagi yang berkaitan dengan pembayaran kepada individu tertentu — otomatis menjadi ujian besar bagi kredibilitas reformasi yang ia gaungkan sejak hari pertama menjabat.

Hingga saat ini, belum ada bukti publik yang menguatkan tudingan tersebut, dan Infantino sudah memberikan jawabannya: bantahan penuh. Bola kini bergulir di ranah opini publik. Satu hal yang pasti, duel antara tudingan dan bantahan ini masih jauh dari peluit akhir, dan dunia sepak bola akan terus mengawasi setiap langkah sang presiden — di dalam maupun di luar lapangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User