Indonesia Pingpong League S2 Resmi Diluncurkan, Format Baru Menanti Para Atlet
Jakarta — Bola putih kembali akan bergulir di pentas nasional. Indonesia Pingpong League musim kedua resmi diluncurkan dalam jumpa pers yang digelar di Senayan, Jakarta, Kamis siang. Momen kunci aca...
Jakarta — Bola putih kembali akan bergulir di pentas nasional. Indonesia Pingpong League musim kedua resmi diluncurkan dalam jumpa pers yang digelar di Senayan, Jakarta, Kamis siang. Momen kunci acara terjadi ketika penyelenggara mengumumkan total hadiah Rp1,5 miliar dan penambahan kontestan dari 10 menjadi 16 tim — sorak tepuk tangan langsung memecah ruangan. Komisioner liga membuka sesi dengan pernyataan tegas: kompetisi ini tidak lagi sekadar turnamen, melainkan ekosistem pembinaan atlet tenis meja nasional.
Musim pertama telah meninggalkan standar yang tinggi. Final IPL S1 berakhir dengan skor akhir 3-2 dalam format best of five, laga dramatis yang baru tuntas pada set penentuan dan disaksikan lebih dari 400 ribu penonton streaming. Angka tersebut disebut menjadi alasan utama jumlah sponsor meroket dari enam menjadi sebelas pada musim ini.
Format Baru, Sistem Degradasi, dan Teknologi
Perubahan paling mencolok ada di struktur kompetisi. IPL S2 memakai sistem 16 tim yang dibagi dua grup, masing-masing delapan kontestan, dengan babak penyisihan round robin. Tiap laga menerapkan format best of five dengan batas waktu 90 menit. Berbeda dengan musim pertama yang langsung berguguran, kini dua tim teratas tiap grup lolos ke semifinal, sementara peringkat tiga dan empat berebut dua slot tersisa lewat babak play-off. Sistem degradasi resmi diberlakukan: dua juru kunci klasemen musim ini harus turun kasta.
Menit ke-40 jumpa pers, panitia membeberkan detail yang paling dinanti. Kalender kompetisi berjalan 14 pekan dengan total 112 partai, dihelat di lima kota dengan sistem kandang-tandang untuk 12 tim, sementara empat tim lainnya bermarkas di Jakarta. Teknologi ikut ditingkatkan: meski tidak ada VAR di meja pingpong, sistem tantangan video resmi dipasang di meja utama untuk mengawasi keputusan servis dan edge ball. Regulasi wasit juga dipertegas — kartu kuning untuk perilaku tidak sportif dan kartu merah untuk pelanggaran berat tetap berlaku mengikuti aturan federasi internasional.
Catatan Statistik Musim Lalu dan Pemain Kunci
Statistik musim lalu menjadi modal utama sejumlah klub. Juara bertahan menutup S1 dengan rekor 21 kemenangan dari 24 partai atau sekitar 87,5 persen tingkat kemenangan, plus catatan clean sheet — tak pernah sekalipun kalah 0-3 sepanjang musim. Di sektor individu, pemain tunggal terbaik menorehkan rata-rata 1,8 winner per gim dan 82 persen keberhasilan servis. Dua pebiliar muda di bawah 19 tahun juga diprediksi mengisi starting line-up alias formasi utama timnya masing-masing musim ini.
Penguasaan ritme permainan, bukan sekadar kekuatan pukulan, disebut para analis sebagai kunci persaingan musim ini. Dalam tenis meja tidak ada istilah offside, tetapi posisi kaki dan antisipasi servis pendek menjadi semacam garis terlarang yang menentukan siapa yang menyerang lebih dulu. Tim dengan pertahanan balok terbaik diprediksi mendominasi klasemen, mengingat persentase pukulan akurat ke sasaran — setara shots on target di sepak bola — menjadi indikator utama yang dipantau panitia musim ini.
“Kami tidak menargetkan sekadar ramai. Target kami 150 ribu penonton langsung sepanjang musim dan dua kali lipat penonton streaming dibanding musim pertama,” ujar perwakilan penyelenggara di sela jumpa pers.
Laga Pembuka dan Proyeksi Musim
Laga pembuka IPL S2 dijadwalkan bergulir awal September 2026 di Jakarta, mempertemukan juara bertahan dengan tim promosi yang baru naik kasta. Duel itu langsung menguji konsistensi sang juara di tengah perubahan format. Sementara itu, dua tim yang musim lalu bertengger di papan tengah telah mengumumkan perombakan besar-besaran — termasuk mendatangkan pemain asing dengan peringkat dunia di 100 besar untuk memperkuat sektor tunggal mereka.
Dengan 112 partai, 14 pekan, dan hadiah Rp1,5 miliar, IPL S2 menawarkan taruhan yang belum pernah ada di tenis meja domestik. Pertanyaannya kini sederhana: siapa yang mampu menjaga penguasaan ritme, memanfaatkan momen krusial di set penentuan, dan membawa pulang gelar di hadapan publik yang mulai ramai? Jawabannya akan mulai terlihat saat bola pertama diservis bulan depan.
Comments (0)