Gol Cahya Supriadi Bawa PSIM Tundukkan Persebaya di Surabaya
SURABAYA — PSIM Yogyakarta sukses mencuri tiga poin dari markas Persebaya Surabaya dalam lanjutan BRI Super League 2025/2026, Jumat (8/8/2025) malam WIB. Laga di Stadion Gelora Bung Tomo itu berakhi...
SURABAYA — PSIM Yogyakarta sukses mencuri tiga poin dari markas Persebaya Surabaya dalam lanjutan BRI Super League 2025/2026, Jumat (8/8/2025) malam WIB. Laga di Stadion Gelora Bung Tomo itu berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan tim tamu, dengan Cahya Supriadi tampil sebagai bintang berkat gol penentu yang dicetaknya di babak kedua.
Stadion berkapasitas 45.000 penonton itu sempat sunyi ketika Cahya mencetak gol pada menit ke-73. Pemain bernomor punggung 17 itu melepaskan tendangan keras dari dalam kotak penalti setelah menerima umpan tarik Rafli Mursalim, yang tak mampu dijangkau kiper Persebaya. Ekspresi selebrasi Cahya yang penuh emosi—berlari ke sudut tribun sambil mengepalkan tangan ke arah rekan setim—langsung menjadi potret ikonik pertandingan ini.
Babak Pertama: Dominasi Tuan Rumah Berbuah Gol Cepat
Pelatih Persebaya, yang menurunkan formasi 4-2-3-1, langsung mengambil inisiatif serangan sejak peluit pertama dibunyikan. Tekanan tinggi membuat lini pertahanan PSIM, yang dikomandoi bek tengah asing Mamadou Mbaye, bekerja ekstra keras. Hasilnya, pada menit ke-18, Persebaya unggul lebih dulu lewat sundulan striker Bruno Silva yang memanfaatkan umpan silang sayap kanan Toni Firmansyah. Bola meluncur deras ke pojok kiri gawang tanpa bisa dihalau kiper Aqil Savik.
Statistik penguasaan bola babak pertama benar-benar timpang: Persebaya menguasai 62%, berbanding 38% milik PSIM. Tuan rumah juga melepaskan lima tembakan ke arah gawang dibanding nihil milik Laskar Mataram. Namun, penyelamatan-penyelamatan krusial Savik mempertahankan skor hanya 1-0 hingga turun minum.
PSIM Bangkit, Pergantian Taktik Ubah Keadaan
Masuk babak kedua, Pelatih PSIM mengubah skema dari 4-4-2 datar menjadi 4-3-3 ofensif. Masuknya winger lincah Cahya Supriadi menggantikan gelandang bertahan terbukti menjadi keputusan jitu. Aliran bola PSIM menjadi lebih cepat, dan ruang di sepertiga akhir mulai terbuka.
Hasilnya langsung terlihat pada menit ke-56. Bola hasil intersep di lini tengah mengalir ke kaki gelandang serang Arif Cakra, yang kemudian menusuk ke kotak penalti dan melepaskan tembakan menyilir. Skor berubah 1-1, dan momentum sepenuhnya bergeser ke kubu PSIM.
Gol kemenangan yang diciptakan Cahya lahir dari skema serangan balik cepat. Menerima bola di sisi kiri, Rafli melesat melewati bek kanan Persebaya dan mengirim umpan terukur yang langsung disambar Cahya tanpa mengontrol bola. Bola bersarang kencang di tiang dekat. Selebrasi yang spontan itu pun pecah.
Statistik Kunci: Efisiensi PSIM di Babak Kedua
Meski secara keseluruhan penguasaan bola final 57% - 43% masih untuk tuan rumah, PSIM tampil lebih efisien. Dari total empat tembakan tepat sasaran yang dimiliki PSIM sepanjang laga, dua di antaranya berbuah gol. Sebaliknya, Persebaya yang melepaskan delapan tembakan tepat sasaran hanya mampu mengonversi satu peluang. Data tersebut menunjukkan ketajaman lini depan PSIM yang sangat klinis dalam memanfaatkan celah sempit.
Selain itu, pertahanan PSIM mencatatkan 24 kali sapuan dan 12 intersep, mayoritas terjadi di babak pertama saat dikurung habis-habisan. Kartu kuning untuk dua pemain PSIM—Syaiful Indra (menit ke-33) dan Marselino Ferdinan (menit ke-82)—menunjukkan intensitas duel yang tinggi, tetapi tidak sampai berujung kartu merah.
Reaksi Pelatih: Pujian untuk Mentalitas Tim
Usai laga, Pelatih PSIM I Putu Gede tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. “Kami tahu bermain di sini sangat sulit. Babak pertama kami mati langkah, tapi saya katakan ke pemain untuk tetap tenang dan percaya pada rencana. Cahya masuk dan mengubah segalanya. Ini kemenangan kolektif yang luar biasa,” ujarnya dalam konferensi pers.
Di kubu seberang, Pelatih Persebaya Irfan Bakti mengakui kekalahan ini sebagai pukulan. “Kami kehilangan fokus di 20 menit awal babak kedua. Gol pertama PSIM meruntuhkan kepercayaan diri kami, dan mereka memanfaatkan itu dengan baik. Kami harus segera berbenah,” tuturnya singkat.
Pemain Muda Bersinar
Penampilan Cahya Supriadi menjadi sorotan utama. Pemain berusia 21 tahun yang merupakan jebolan Akademi PSIM itu menunjukkan kedewasaan dalam membaca ruang dan ketenangan saat mengeksekusi peluang. Gol tersebut adalah gol ketiganya musim ini, sekaligus memperkuat statusnya sebagai salah satu talenta muda paling menjanjikan di kompetisi.
Berkat hasil ini, PSIM Yogyakarta naik ke posisi kelima klasemen sementara dengan koleksi 12 poin dari tujuh pertandingan. Sementara Persebaya tertahan di peringkat kedelapan, sekaligus melanjutkan tren inkonsistensi di kandang sendiri.
Baca juga:
Comments (0)