Xhaka Murka Wasit Untungkan Argentina di Perempat Final
Lusail, Qatar — Skor akhir 2-1 untuk Argentina atas Swiss di perempat final Piala Dunia 2026 menyisakan luka mendalam bagi La Nati. Namun, bukan Lionel Messi atau Julian Alvarez yang menjadi sorotan...
Lusail, Qatar — Skor akhir 2-1 untuk Argentina atas Swiss di perempat final Piala Dunia 2026 menyisakan luka mendalam bagi La Nati. Namun, bukan Lionel Messi atau Julian Alvarez yang menjadi sorotan utama kapten Swiss Granit Xhaka seusai laga. Gelandang Bayer Leverkusen itu justru menuding wasit asal Brasil, Raphael Claus, sebagai aktor utama di balik tersingkirnya timnya dari turnamen empat tahunan ini.
Pertandingan yang berlangsung di Lusail Iconic Stadium, Sabtu malam waktu setempat, berjalan dalam tensi tinggi sejak menit pertama. Swiss yang tampil dengan formasi 3-4-2-1 berhasil meredam agresivitas Argentina di 20 menit awal. Namun, titik balik kontroversial terjadi pada menit ke-34 ketika Claus menunjuk titik putih setelah menganggap Manuel Akanji melanggar Julian Alvarez di kotak terlarang. Tayangan ulang memperlihatkan kontak minimal — bahkan Alvarez tampak kehilangan keseimbangan sebelum bersentuhan dengan bek Manchester City itu.
Messi yang menjadi eksekutor tidak menyia-nyiakan kesempatan. Tendangan kaki kirinya ke sudut kanan bawah tidak mampu dijangkau Gregor Kobel. Skor 1-0 untuk Albiceleste. Namun, drama sesungguhnya baru dimulai.
Babak Pertama: Dominasi Taktis yang Dimentahkan Keputusan Kontroversial
Hingga menit ke-33, Swiss sejatinya tampil impresif. Penguasaan bola 52% berbanding 48% milik Argentina menunjukkan betapa solidnya skema Murat Yakin. Breel Embolo dua kali mengancam melalui skema serangan balik cepat. Sementara itu, shots on target Swiss mencapai 3 berbanding 1 milik Argentina sebelum insiden penalti terjadi. Statistik ini menggambarkan bahwa tim asuhan Yakin tidak datang untuk sekadar bertahan. Mereka punya rencana — dan rencana itu bekerja. Sampai Claus mengambil keputusan yang menurut Xhaka "tidak bisa diterima di level perempat final Piala Dunia."
Gol pembuka Argentina jelas mengubah dinamika. Namun, Swiss tidak runtuh. Xhaka dan Remo Freuler tetap disiplin menjaga lini tengah. Menit ke-41, Ruben Vargas nyaris menyamakan kedudukan lewat tendangan melengkung dari luar kotak penalti yang membentur mistar gawang Emiliano Martinez. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum, tetapi rasa frustrasi mulai terlihat di wajah para pemain Swiss saat meninggalkan lapangan.
Babak Kedua: Gol Dianulir dan Kartu Merah yang Mematikan
Selepas jeda, Swiss kembali menggebrak. Menit ke-52, sundulan Embolo memanfaatkan umpan silang Silvan Widmer akhirnya menjebol gawang Martinez. Namun, selebrasi pendukung Swiss terhenti ketika wasit Claus menerima sinyal dari ruang VAR. Setelah meninjau monitor di pinggir lapangan selama hampir tiga menit, Claus memutuskan menganulir gol tersebut. Alasannya: Embolo berada dalam posisi offside tipis — keputusan yang kembali memicu perdebatan karena garis offside yang ditampilkan secara semi-otomatis menunjukkan margin hanya beberapa sentimeter.
"Dua keputusan besar, dua-duanya menguntungkan Argentina. Penalti yang sangat lunak dan gol dianulir dengan offside yang tidak jelas. Di level ini, detail sekecil itu tidak boleh menentukan nasib sebuah tim," ujar Xhaka dengan nada tajam dalam konferensi pers pasca-pertandingan.
Petaka Swiss berlanjut pada menit ke-73. Nico Elvedi yang sudah mengantongi kartu kuning sejak babak pertama melakukan tekel terhadap Enzo Fernandez. Claus tanpa ragu mengeluarkan kartu kuning kedua — dan kemudian kartu merah. Swiss harus melanjutkan laga dengan 10 pemain. Hingga menit ke-72, statistik menunjukkan Swiss mencatatkan 8 tembakan dengan 4 tepat sasaran, sementara Argentina memiliki 6 tembakan dengan 2 tepat sasaran. Bermain dengan 10 pemain jelas menjadi pukulan telak.
Argentina memanfaatkan keunggulan jumlah pemain. Menit ke-81, umpan terobosan Enzo Fernandez berhasil diselesaikan dengan tenang oleh Lautaro Martinez yang masuk sebagai pemain pengganti. Skor menjadi 2-0. Swiss sempat memperkecil ketertinggalan di menit ke-89 melalui tendangan bebas spektakuler Xhaka dari jarak 28 meter yang menghujam deras ke pojok atas gawang — gol yang mengingatkan pada golnya ke gawang Roma di semifinal Europa League 2024. Namun, waktu tidak berpihak. Skor akhir 2-1 memastikan Argentina melaju ke semifinal.
Statistik Penuh dan Analisis Mendalam
Pertandingan ditutup dengan catatan statistik yang ironis. Swiss unggul penguasaan bola dengan 51% berbanding 49%. Jumlah tembakan total kedua tim imbang di angka 11. Namun, Swiss mencatatkan 5 shots on target berbanding 4 milik Argentina. Akurasi umpan Swiss mencapai 84% — lebih tinggi dari Argentina yang mencatatkan 81%. Data ini menunjukkan bahwa Swiss bukanlah tim yang kalah secara permainan. Mereka kalah oleh situasi.
Raphael Claus mengeluarkan total 5 kartu kuning untuk Swiss dan 2 untuk Argentina. Selain kartu merah Elvedi, tidak ada pemain Argentina yang mendapat kartu kuning kedua meskipun beberapa pelanggaran keras — termasuk tekel Cristian Romero terhadap Embolo di menit ke-55 — luput dari hukuman setimpal. Keputusan-keputusan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang konsistensi penerapan Laws of the Game di fase krusial turnamen.
Di ruang ganti, suasana jelas tidak menyenangkan. Xhaka yang memimpin tim dengan 128 caps internasional tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. "Saya sudah bermain di tiga Piala Dunia. Saya tahu wasit bisa membuat kesalahan. Tapi malam ini? Ini bukan kesalahan. Ini pola," tegasnya. Pelatih Murat Yakin lebih diplomatis namun tetap menyiratkan nada serupa. "Saya tidak ingin bicara banyak tentang wasit. Biarkan angka dan tayangan ulang yang berbicara. Kami layak mendapatkan lebih," ujarnya singkat.
Bagi Swiss, kekalahan ini menjadi akhir dari kampanye Piala Dunia 2026 yang sejatinya menjanjikan. Mereka lolos dari Grup G dengan status runner-up di bawah Brasil, kemudian menyingkirkan Spanyol di babak 16 besar melalui adu penalti dramatis. Kiprah yang solid berakhir dengan rasa pahit yang sulit ditelan. Sementara Argentina melanjutkan langkah ke semifinal, pertanyaan tentang integritas kepemimpinan pertandingan di level tertinggi sepak bola akan terus menggema — setidaknya hingga FIFA memberikan penjelasan yang memadai.
Baca juga:
Comments (0)