Gianni Infantino: Tiga Periode, Dua Piala Dunia, Satu Rekor Baru
Skor akhir dari laga panjang berjudul era Gianni Infantino baru akan ditulis pada 19 Juli 2026, saat final Piala Dunia digelar di MetLife Stadium, New Jersey. Namun, memasuki menit-menit akhir pertand...
Skor akhir dari laga panjang berjudul era Gianni Infantino baru akan ditulis pada 19 Juli 2026, saat final Piala Dunia digelar di MetLife Stadium, New Jersey. Namun, memasuki menit-menit akhir pertandingan itu, papan skor sudah menunjukkan angka yang sulit ditandingi para pendahulunya: tiga periode kepresidenan, dua gelaran Piala Dunia yang tuntas, dan rekor pendapatan terbesar dalam sejarah FIFA. Pria kelahiran Brig, Swiss, ini resmi memimpin federasi sejak 26 Februari 2016, menggantikan Sepp Blatter di tengah badai skandal korupsi. Sejak menit ke-1 kepemimpinannya, ia mengemban tugas berat: memulihkan kepercayaan dunia terhadap FIFA.
Babak Pertama: Dari Zurich ke Rusia
Menit ke-1 hingga menit ke-75 era Infantino diisi kerja pembuktian. Kongres Luar Biasa di Zurich pada Februari 2016 menahbiskannya sebagai presiden dengan mandat merombak tata kelola. Tiga tahun kemudian ia kembali terpilih tanpa lawan di Paris, dan pada Maret 2023 giliran Kigali, Rwanda, menjadi saksi hat-trick periodenya. Di atas kertas, penguasaan bola politiknya nyaris total: tidak ada satu pun kandidat yang berani menantangnya di dua pemilihan terakhir. Bukti pertamanya di lapangan datang pada Piala Dunia 2018 Rusia. Sebanyak 64 laga digelar, dan untuk pertama kalinya teknologi VAR dipasang sebagai wasit tambahan yang mengawasi setiap keputusan krusial. Empat tahun berselang, Qatar 2022 menjadi puncak babak pertama: 172 gol tercipta dalam 64 pertandingan, rekor baru sepanjang sejarah turnamen, dan Argentina keluar sebagai juara setelah menaklukkan Prancis lewat adu penalti dramatis. Jika kongres adalah pemberi assist, Infantino adalah eksekutor yang jarang melewatkan peluang.
Formasi Baru: 48 Tim, 104 Laga, Tiga Tuan Rumah
Kalau era sebelumnya memakai formasi standar 32 tim, era Infantino memilih skema yang jauh lebih ofensif: 48 tim, 104 laga, dan tiga negara tuan rumah. Piala Dunia 2026 yang digelar Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan menjadi edisi paling besar dalam sejarah, sekaligus yang pertama digelar di tiga negara sekaligus. Ini bukan sekadar menambah jumlah pertandingan, melainkan ekspansi pasar televisi, sponsor, dan tiket. Sebanyak 12 grup masing-masing berisi empat tim, dengan dua tim teratas plus delapan peringkat ketiga terbaik melaju ke babak 32 besar. Secara matematis, jumlah laga bertambah dari 64 menjadi 104, atau naik lebih dari 60 persen dibanding format sebelumnya. Bagi para pelatih, turnamen seperti ini menuntut kedalaman starting XI yang luar biasa; rotasi pemain menjadi senjata utama, karena tidak ada satu skuad pun yang sanggup tampil penuh dalam 104 laga sendirian. Angka tiket yang diperkirakan tembus lima juta penonton menjadikan edisi 2026 proyek komersial terbesar yang pernah dikelola FIFA.
Hat-Trick Rekor: Pendapatan dan Distribusi Dana
Berbicara soal angka, Infantino bermain seperti penyerang dengan akurasi tembakan tinggi. Siklus 2019–2022 mencatat pendapatan FIFA sebesar 7,5 miliar dolar AS, rekor tertinggi kala itu, sementara proyeksi siklus 2023–2026 diperkirakan menembus 11 miliar dolar AS. Sebagian besar dana itu dialirkan kembali ke federasi anggota lewat program FIFA Forward senilai 2,25 miliar dolar AS. Piala Dunia Antarklub 2025 di Amerika Serikat mengubah starting XI peserta dari 7 menjadi 32 klub dengan kolam hadiah 1 miliar dolar AS. Di sisi sepak bola wanita, Piala Dunia 2023 di Australia dan Selandia Baru membawa hadiah 150 juta dolar AS, tiga kali lipat edisi sebelumnya, sebagai langkah menuju target pemerataan dengan turnamen putra pada 2027. Dari sisi distribusi, tidak ada presiden FIFA sebelumnya yang mengucurkan dana sebesar ini ke 211 federasi anggota.
Kartu Kuning Kritik dan Garis Offside
Namun, tidak semua berjalan mulus. Kritik berdatangan seperti kartu kuning bertubi-tubi: isu hak asasi manusia di Qatar, gagasan Piala Dunia dua tahun sekali yang akhirnya batal, hingga penolakan keras terhadap rencana Super League Eropa. Federasi Eropa dan serikat pemain FIFPRO berulang kali memperingatkan beban kalender yang semakin padat, sementara jadwal 104 laga pada 2026 dinilai berisiko mendorong pemain melewati garis offside kesehatan. Bagi para pengkritik, ekspansi turnamen lebih terlihat seperti mesin pendapatan ketimbang kepentingan olahraga. Infantino sendiri tetap tenang; ia menyatakan periode 2027–2031 akan menjadi periode terakhirnya, semacam babak tambahan waktu (injury time) dari karier kepresidenannya. Pertanyaan besar yang menggantung kini sederhana: akankah Piala Dunia 2026 menutup laga dengan clean sheet sempurna, atau justru diwarnai gol bunuh diri reputasi?
Yang pasti, angka-angka sudah berbicara lebih dulu. Tiga periode, dua turnamen besar tuntas digelar, satu rekor pendapatan, dan 48 tim baru menanti di gerbang 2026. Statistik tidak pernah berdusta: penguasaan bola FIFA di panggung global kian dominan, dan shots on target kebijakannya lebih sering menemui sasaran daripada meleset. Kini, seperti sebuah laga yang memasuki injury time, semua mata tertuju pada 19 Juli 2026. Apakah final di MetLife Stadium akan menjadi momen terbaik karier Infantino, atau justru babak di mana sejarah menuliskan skor akhir yang berbeda dari harapannya? Hanya lapangan yang akan menjawab.
Comments (0)