Gianni Infantino dan Revolusi FIFA: Ekspansi Piala Dunia 48 Tim
Skor akhir dari hampir satu dekade kepemimpinan Gianni Infantino di FIFA terbaca seperti statistik dominan sebuah tim raksasa: 211 asosiasi anggota, pendapatan siklus 2019-2022 menembus 7,5 miliar dol...
Skor akhir dari hampir satu dekade kepemimpinan Gianni Infantino di FIFA terbaca seperti statistik dominan sebuah tim raksasa: 211 asosiasi anggota, pendapatan siklus 2019-2022 menembus 7,5 miliar dolar AS, dan proyeksi siklus 2023-2026 yang dikabarkan melambung hingga 11 miliar dolar AS. Pria kelahiran Brig, Swiss, 23 Maret 1970 itu pertama kali terpilih pada 26 Februari 2016 di Zurich, mengalahkan Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa pada putaran kedua voting dengan 115 suara berbanding 88 — sebuah momen yang mengubah arah sepak bola dunia.
Sejak peluit awal ditiup, Infantino langsung tancap gas. Ia memenangkan pemilihan ulang tanpa lawan pada 2019 di Paris, lalu kembali terpilih pada Kongres FIFA di Kigali, Rwanda, Maret 2023, untuk masa jabatan hingga 2027. Tiga periode kepemimpinan — sebuah hat-trick politik yang jarang terjadi di level federasi tertinggi.
Dari Ruang Undian UEFA ke Puncak Klasemen FIFA
Sebelum memimpin FIFA, Infantino dikenal publik sebagai wajah di balik undian Liga Champions — ia menjabat Sekretaris Jenderal UEFA pada periode 2009 hingga 2016. Lulusan hukum Universitas Fribourg itu membawa pendekatan administratif yang rapi, layaknya gelandang bertahan yang jarang terlihat tetapi mengendalikan tempo permainan. Di bawah komandonya, FIFA memperkenalkan program FIFA Forward yang menyalurkan dana pengembangan ke seluruh asosiasi anggota, dengan nilai bantuan per asosiasi meningkat signifikan dibanding era sebelumnya.
Formasi 48 Tim: Ekspansi Piala Dunia 2026
Ini dia gol terbesar dalam karier Infantino: Piala Dunia 2026 akan dimainkan dengan 48 tim, naik dari 32, tersebar di 16 stadion di tiga negara — Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Total 104 pertandingan akan digelar, melonjak dari 64 laga di format lama, dengan partai final dijadwalkan di MetLife Stadium, New Jersey. Bagi Infantino, ekspansi ini bukan sekadar penambahan kuota, melainkan strategi penguasaan bola versi federasi: memperluas jangkauan sepak bola ke pasar-pasar baru dan memberi panggung bagi negara yang selama ini hanya menjadi penonton.
Langkah serupa sudah lebih dulu diterapkan di Piala Dunia Wanita 2023 di Australia dan Selandia Baru, yang untuk pertama kalinya diikuti 32 tim dan mencatatkan rekor penonton serta angka siaran tertinggi sepanjang sejarah turnamen.
Piala Dunia Antarklub 32 Tim dan Gempuran Teknologi
Tidak puas dengan satu trofi kebijakan, Infantino meluncurkan Piala Dunia Antarklub FIFA edisi baru berkekuatan 32 tim yang digelar perdana pada Juni-Juli 2025 di Amerika Serikat, dengan total hadiah sekitar 1 miliar dolar AS. Chelsea keluar sebagai juara setelah menundukkan Paris Saint-Germain 3-0 di final — dua gol dari Cole Palmer menjadi penanda bahwa turnamen ini langsung menyedot perhatian dunia.
Di sisi teknologi, era Infantino ditandai penggunaan VAR perdana di Piala Dunia 2018 Rusia, disusul teknologi offside semi-otomatis di Piala Dunia 2022 Qatar. Data FIFA menunjukkan akurasi keputusan wasit di turnamen elite naik ke kisaran 99 persen setelah implementasi VAR — angka yang setara dengan konversi penalti seorang algojo kelas dunia.
Tekanan di Menit-Menit Akhir
Namun pertandingan belum usai. Infantino menghadapi pressing tinggi dari berbagai sisi: keluhan pemain soal padatnya kalender, kritik terhadap proses penunjukan tuan rumah, hingga keputusan kontroversial seperti format Piala Dunia 2030 yang tersebar di tiga benua — Spanyol, Portugal, Maroko, ditambah laga pembuka di Uruguay, Argentina, dan Paraguay — serta penunjukan Arab Saudi sebagai tuan rumah 2034. Serikat pemain dunia bahkan sempat melayangkan gugatan terkait beban pertandingan yang terus bertambah.
"Misi kami adalah membuat sepak bola benar-benar global, inklusif, dan memberi kesempatan kepada setiap negara untuk bermimpi," demikian pesan yang berulang kali disampaikan Infantino dalam berbagai kongres FIFA.
Dengan masa jabatan hingga 2027 dan Piala Dunia 2026 tinggal menghitung hari, Infantino kini berada di menit-menit penentu. Apakah ekspansi besar-besaran ini berakhir sebagai clean sheet sempurna atau justru kebobolan di detik akhir, lapangan yang akan menjawabnya.
Comments (0)