Oct 09, 2026
Olahraga

Gianni Infantino dan Era Transformasi FIFA di Peta Sepak Bola Global

Sejak mengambil kursi nomor satu FIFA pada 2016, Gianni Infantino memang tidak pernah lepas dari sorotan. Sosok berkebangsaan Italia-Swiss itu memimpin federasi sepak bola terbesar dunia melewati satu...

Gianni Infantino dan Era Transformasi FIFA di Peta Sepak Bola Global

Sejak mengambil kursi nomor satu FIFA pada 2016, Gianni Infantino memang tidak pernah lepas dari sorotan. Sosok berkebangsaan Italia-Swiss itu memimpin federasi sepak bola terbesar dunia melewati satu dekade penuh gejolak: perluasan turnamen, ledakan pendapatan, hingga perdebatan soal hak asasi manusia. Skor akhir dalam catatan kepemimpinannya? Angka-angka kompetisi makin besar, penguasaan bola finansial FIFA makin terkonsentrasi, dan diskusi taktis soal masa depan olahraga ini tak pernah berhenti.

Periode Infantino dimulai lewat pemungutan suara khusus di Februari 2016, menyusul pengunduran diri Sepp Blatter. Ia terpilih kembali pada 2019 dan 2023, memberinya masa jabatan yang memungkinkan ia menuntaskan berbagai agenda besar menuju Piala Dunia 2026. Dari sudut pandang sepak bola murni, tantangannya jelas: menjaga kualitas pertandingan sementara jumlah peserta terus bertambah.

Perluasan Turnamen dan Dampaknya pada Kualitas Pertandingan

Keputusan paling menentukan di era Infantino adalah penambahan kuota Piala Dunia dari 32 menjadi 48 tim. Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada akan memainkan 104 pertandingan—bandingkan dengan 64 laga pada format lama. Secara matematis, tambahan 40 laga berarti menit bermain global bertambah drastis, tapi juga menuntut manajemen fisik pemain yang lebih ketat, apalagi jadwal klub makin padat.

Para pelatih tentu membaca peluangnya: negara-negara peringkat menengah kini punya jalur lebih jelas untuk tampil. Namun dari sisi taktik, kekhawatiran muncul soal kualitas starting XI di fase grup. Banyak analis memperkirakan sejumlah pertandingan grup akan didominasi tim papan atas, dengan selisih gol besar sejak menit ke-20. Sebagai perbandingan, Piala Dunia 2022 di Qatar mencatat rata-rata gol tertinggi dalam sejarah modern: 2,69 gol per pertandingan, dengan Prancis vs Argentina di partai final berakhir 3-3 hingga extra time sebelum adu penalti.

Piala Dunia perempuan juga mengalami ekspansi serupa. Edisi 2023 di Australia dan Selandia Baru untuk pertama kali memakai format 32 tim, sama dengan turnamen pria era lama. Spanyol menutup turnamen sebagai juara, sementara rekor penonton stadion dan siaran internasional terus menanjak. Bagi FIFA, angka-angka inilah yang menjadi narasi utama: sepak bola sebagai produk global dengan jangkauan audiens terluas.

Finansial FIFA: Pendapatan dan Distribusi Hadiah

Di meja negosiasi, Infantino memang dikenal agresif. Siklus komersial 2019–2022 menghasilkan pendapatan sekitar 7,5 miliar dolar AS, dan target siklus 2023–2026 dipatok di kisaran 11 miliar dolar AS. Sumber utamanya tetap pemasaran Piala Dunia, hak siar, dan sponsor global. Kenaikan itu diterjemahkan ke dalam distribusi dana ke asosiasi anggota—sekitar 211 federasi—serta pembiayaan pengembangan infrastruktur dan akademi sepak bola.

Hadiah uang Piala Dunia pria juga mengikuti grafik naik. Total prize pool 2022 mencapai sekitar 440 juta dolar AS, dan setiap anggota tim yang lolol turnamen mendapat porsi pembiayaan persiapan jauh lebih besar dibanding era sebelumnya. Sisi taktis dari kebijakan ini menarik: negara kecil dengan anggaran federasi terbatas kini bisa membiayakan pelatihan analitik data dan pemantauan performa—elemen yang dulu hanya dimiliki elite.

Turnamen klub ikut berevolusi. Piala Dunia Antarklub, dengan format 32 klub, digelar di Amerika Serikat pada 2025. Format ini meniru logika turnamen pria: lebih banyak pertandingan, lebih banyak slots untuk konfederasi berbeda, dan tentu lebih banyak peluang komersial. Pertanyaannya tetap sama seperti selalu—apakah kepadatan jadwal tidak mengorbankan menit bermain pemain inti di liga domestik?

Kontrol VAR, Fair Play, dan Standar Wasit

Satu aspek yang jarang dibahas publik tetapi krusial bagi pelatih: teknologi. VAR resmi dipakai sejak Piala Dunia 2018 di Rusia, dan sejak itu jumlah keputusan yang dikoreksi meningkat signifikan. Setiap keputusan offside kini dihitung dengan garis semi-otomatis, memangkas waktu diskusi rata-rata menjadi bermenit-menit. Statistik menunjukkan sebagian besar gol yang dibatalkan di turnamen besar melibatkan margin offside di bawah 10 sentimeter—bukti betapa tipisnya garis antara keberhasilan dan kegagalan.

Soal kartu dan disiplin, standar pun terus diperbarui. Kartu kuning akumulatif tetap dihapus setelah perempat final, sementara kartu merah langsung memaksa tim bermain dengan sepuluh orang, mengubah total formasi dan pressing dari menit ke-30. Pelatih yang cerdas membaca momen ini: seorang bek yang menerima kartu kuning pada menit ke-55 biasanya diganti sebelum menit ke-70 untuk menghindari risiko eksposur balik cepat.

Agenda Besar Menuju 2030 dan 2034

Di bawah kepemimpinan Infantino, FIFA juga menetapkan skema Piala Dunia 2030 yang belum pernah terjadi sebelumnya: enam negara di tiga benua menjadi tuan rumah, dengan pertandingan pembuka digelar di Amerika Selatan sebagai penghormatan pada edisi 1930. Sementara itu, Arab Saudi dipilih untuk edisi 2034. Keputusan-keputusan ini menegaskan pendekatan yang diambil FIFA: ekspansi geografis, komersialisasi maksimal, dan inklusi wilayah baru ke dalam pusat perhatian.

"Sepak bola milik setiap orang, di setiap taman, di setiap halaman rumah," demikian pesan berulang yang selalu ditekankan Infantino dalam setiap kesempatan publiknya.

Kritik tetap datang—mulai dari isu hak asasi pekerja migran di negara tuan rumah, hingga kekhawatiran soal pengaruh politik dalam pemilihan tuan rumah. Namun data komersial bicara lain: jangkauan penonton, nilai hak siar, dan partisipasi negara anggota terus tumbuh. Penguasaan bola di lapangan mungkin belum tentu berimbang, tapi di meja FIFA, Infantino terbukti memainkan strateginya dengan sabar, menghitung setiap umpan statistik, dan menunggu momen untuk menutup pertandingan dengan keunggulan angka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User