Gianni Infantino dan Era Baru Sepak Bola Dunia di Bawah FIFA
Skor akhir: 1-0 untuk Gianni Infantino — dan pertandingan ini belum berakhir. Sejak menjabat sebagai Presiden FIFA pada 26 Februari 2016, pria kelahiran Brig, Swiss, 23 Maret 1970 itu terus mengenda...
Skor akhir: 1-0 untuk Gianni Infantino — dan pertandingan ini belum berakhir. Sejak menjabat sebagai Presiden FIFA pada 26 Februari 2016, pria kelahiran Brig, Swiss, 23 Maret 1970 itu terus mengendalikan tempo permainan sepak bola global layaknya gelandang bertahan kelas dunia. Terpilih kembali tanpa lawan pada Kongres FIFA di Kigali, Rwanda, Maret 2023, Infantino kini memegang kendali hingga 2027 — sebuah clean sheet politik yang jarang terjadi di tubuh federasi tertinggi sepak bola dunia.
Perjalanan Infantino menuju kursi nomor satu FIFA bukanlah tendangan bebas langsung ke gawang. Ia membangun karier sebagai administrator di UEFA, menjabat Sekretaris Jenderal dari 2009 hingga 2016, sebelum memenangkan pemilihan presiden FIFA pada putaran kedua dengan 115 suara berbanding 88 atas Sheikh Salman bin Ebrahim Al-Khalifa. Sejak menit pertama kepemimpinannya, ia langsung tancap gas dengan agenda reformasi struktural, memangkas birokrasi, dan memperluas panggung kompetisi ke seluruh penjuru benua.
Era Ekspansi: Formasi 48 Tim untuk Piala Dunia 2026
Jika sepak bola adalah catur, maka Infantino baru saja mengubah ukuran papan permainannya. Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan menjadi edisi pertama dengan 48 tim peserta — naik dari 32 — dan memainkan 104 pertandingan di 16 kota tuan rumah. Laga final dijadwalkan berlangsung di MetLife Stadium, New Jersey, pada 19 Juli 2026, menjanjikan tontonan terbesar dalam sejarah turnamen.
Tak berhenti di situ, FIFA juga meluncurkan Piala Dunia Antarklub 2025 dengan format anyar 32 tim di Amerika Serikat. Kompetisi ini mengubah peta persaingan antarklub dunia, memberi panggung bagi wakil dari setiap konfederasi — dari Eropa hingga Oceania — untuk saling beradu taktik dalam satu turnamen resmi berhadiah besar.
Keputusan berikutnya tak kalah berani: Piala Dunia 2030 akan digelar lintas tiga benua — Maroko, Spanyol, dan Portugal sebagai tuan rumah utama, dengan tiga laga pembuka peringatan 100 tahun di Uruguay, Argentina, dan Paraguay. Sementara edisi 2034 resmi dipercayakan kepada Arab Saudi, mempertegas arah ekspansi FIFA ke pasar Timur Tengah.
Revolusi Teknologi: VAR dan Offside Semi-Otomatis
Di bawah komando Infantino, FIFA memasuki era teknologi paling agresif dalam sejarah. Video Assistant Referee (VAR) melakukan debut Piala Dunia di Rusia 2018, mengubah cara wasit mengambil keputusan krusial — penalti, kartu merah, hingga gol berbau offside. Empat tahun berselang, Piala Dunia 2022 Qatar memperkenalkan teknologi offside semi-otomatis berbasis 12 kamera pelacak dan sensor bola, memangkas waktu keputusan secara signifikan.
Data berbicara lantang: final Piala Dunia 2022 antara Argentina dan Prancis ditonton sekitar 1,5 miliar orang di seluruh dunia — salah satu pertandingan paling banyak disaksikan dalam sejarah olahraga. Pendapatan FIFA pada siklus 2019-2022 menembus 7,5 miliar dolar AS, fondasi finansial yang memungkinkan distribusi dana pembangunan ke 211 asosiasi anggota melalui program FIFA Forward, dari pembangunan lapangan latihan hingga akademi usia muda.
Sepak Bola Wanita dan Visi Menuju 2027
Perhatian Infantino tidak hanya tertuju pada sepak bola pria. Piala Dunia Wanita 2023 di Australia dan Selandia Baru diperluas menjadi 32 tim dengan total hadiah uang 110 juta dolar AS — lonjakan hampir empat kali lipat dibanding edisi 2019 yang hanya 30 juta dolar. Targetnya jelas: menyetarakan panggung sepak bola wanita dengan pria, baik dari sisi kompetisi maupun komersial.
Kritik tentu datang — dari isu jadwal padat yang membebani fisik pemain hingga pertanyaan soal transparansi tata kelola. Namun seperti kapten yang terus berlari hingga menit ke-90, Infantino bergeming. Dengan mandat hingga 2027, Piala Dunia 48 tim di depan mata, dan mesin komersial FIFA yang terus berputar kencang, laga kepemimpinannya masih jauh dari peluit akhir. Statistik sudah bicara; kini tinggal sejarah yang memberi penilaian akhir.
Comments (0)