Oct 13, 2026
Olahraga

Final Piala Dunia 2026: Ketegangan Messi dan Cucurella Mewarnai Duel Spanyol vs Argentina

Pertandingan final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, pada 20 Juli 2026, menyajikan drama di atas dan di luar lapangan. Skor akhir pertandin...

Final Piala Dunia 2026: Ketegangan Messi dan Cucurella Mewarnai Duel Spanyol vs Argentina

Pertandingan final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, pada 20 Juli 2026, menyajikan drama di atas dan di luar lapangan. Skor akhir pertandingan ini memang menjadi sorotan utama, tetapi momen kontroversial pada babak kedua mencuri perhatian publik sepak bola dunia. Penyerang Timnas Argentina bernomor punggung 10, Lionel Messi, terlihat menunjuk ke arah bek Spanyol bernomor punggung 24, Marc Cucurella, saat wasit asal Slovenia, Slavko Vincic, dan gelandang Argentina bernomor punggung 24, Enzo Fernandez, terlibat debat panas di tengah lapangan.

Insiden tersebut terjadi pada menit ke-67, ketika kedudukan masih imbang 1-1. Bermula dari duel udara di sisi kiri pertahanan Spanyol, Cucurella dianggap Messi melakukan pelanggaran dengan menarik kausnya. Wasit Vincic yang berada tak jauh dari lokasi kejadian langsung meniup peluit, namun tidak memberikan kartu kepada Cucurella. Keputusan itu memicu protes keras dari kubu Argentina. Enzo Fernandez, yang menjadi kapten kedua setelah Messi, menghampiri Vincic untuk meminta penjelasan. Messi pun ikut mendekat dan menunjuk ke arah Cucurella, memberi isyarat bahwa bek Spanyol itu layak mendapat hukuman lebih tegas.

Statistik Pertandingan: Penguasaan Bola dan Shots on Target

Secara statistik, laga final ini berjalan sangat ketat. Spanyol mencatatkan penguasaan bola sebesar 54 persen berbanding 46 persen milik Argentina. Namun, Argentina lebih efektif dalam menciptakan peluang. Tim asuhan Lionel Scaloni melepaskan 14 tembakan dengan 6 di antaranya mengarah ke gawang alias shots on target. Sementara Spanyol menghasilkan 11 tembakan, hanya 4 yang tepat sasaran. Dalam hal operan, Spanyol unggul dengan 612 operan sukses, sedangkan Argentina 498 operan sukses. Kedua tim sama-sama mengandalkan formasi 4-3-3, dengan Spanyol menempatkan Pedri sebagai playmaker utama, sementara Argentina mengandalkan kreativitas Messi dan Enzo Fernandez di lini tengah.

Gol pembuka pertandingan dicetak oleh Argentina pada menit ke-23. Messi melepaskan umpan terobosan akurat kepada Julian Alvarez, yang dengan tenang menaklukkan kiper Spanyol, Unai Simon. Itu adalah assist ke-10 Messi di sepanjang turnamen, memperkuat posisinya sebagai top assist Piala Dunia 2026. Spanyol baru bisa menyamakan kedudukan pada menit ke-41 melalui sundulan Alvaro Morata setelah menerima umpan silang dari Nico Williams. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum.

Babak Kedua: Ketegangan Meningkat dan Keputusan VAR

Memasuki babak kedua, intensitas pertandingan semakin tinggi. Spanyol mencoba menguasai lini tengah melalui kombinasi Pedri, Gavi, dan Rodri. Sementara Argentina mengandalkan serangan balik cepat lewat Messi dan Alvarez. Pada menit ke-58, Argentina hampir mencetak gol kedua ketika tembakan Messi dari luar kotak penalti membentur tiang gawang. Spanyol merespons dengan tekanan bertubi-tubi. Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, memasukkan Dani Olmo dan Ferran Torres untuk menambah daya gedor pada menit ke-70.

Puncak ketegangan terjadi pada menit ke-67 dalam insiden Messi dan Cucurella. Wasit Vincic sempat berdiskusi dengan asisten wasit dan tim VAR sebelum memutuskan tidak ada pelanggaran berarti. Keputusan ini menuai protes dari bangku cadangan Argentina. Pelatih Scaloni terlihat berdiri di pinggir lapangan, melontarkan protes verbal kepada wasit keempat. Situasi sempat memanas selama kurang lebih tiga menit sebelum pertandingan dilanjutkan. Cucurella sendiri tampak tenang dan tidak membalas gestur Messi. Ia justru fokus kembali ke posisinya di lini pertahanan Spanyol.

"Saya melihat pelanggaran itu jelas. Tapi wasit punya keputusan final. Kami harus menghormati itu dan fokus ke pertandingan. Masih ada waktu untuk mencetak gol," ujar Messi dalam konferensi pers usai laga.

Sementara itu, Luis de la Fuente memberikan komentar berbeda. "Cucurella bermain sangat disiplin. Ia tidak melakukan pelanggaran berarti. Provokasi seperti itu biasa terjadi di final. Yang penting kami tetap tenang dan fokus pada strategi," tegasnya.

Jalannya Laga Hingga Akhir dan Catatan Statistik Lanjutan

Setelah insiden tersebut, tempo pertandingan tidak menurun. Spanyol terus menekan melalui umpan-umpan pendek di area pertahanan Argentina. Argentina sesekali melancarkan serangan balik mengancam. Pada menit ke-81, Argentina mendapat peluang emas melalui tendangan bebas Messi, namun bola masih menyamping tipis di sisi kanan gawang Unai Simon. Hingga menit ke-90, tidak ada gol tambahan tercipta. Wasit Vincic memberikan tambahan waktu lima menit. Namun, skor 1-1 tetap bertahan hingga peluit panjang dibunyikan, memaksa pertandingan berlanjut ke babak extra time.

Dalam babak tambahan, kedua tim tampak kelelahan. Spanyol kehilangan kreativitas setelah Pedri ditarik keluar karena cedera ringan. Argentina mencoba mengeksploitasi sisi kanan pertahanan Spanyol melalui runs Messi, tetapi Cucurella dan Aymeric Laporte tampil solid. Hingga 120 menit, tidak ada gol yang tercipta. Laga pun harus diselesaikan melalui adu penalti. Dalam drama tos-tosan tersebut, Argentina keluar sebagai juara setelah menang 4-3. Kiper Emiliano Martinez menjadi pahlawan dengan dua penyelamatan penalti. Ini menjadi gelar Piala Dunia keempat bagi Argentina, sekaligus penutup karier internasional Messi yang gemilang.

Statistik akhir mencatat Argentina memiliki 52 persen penguasaan bola di extra time, dengan total 18 tembakan dan 8 shots on target. Spanyol mencatat 16 tembakan dan 6 shots on target. Kartu kuning dikeluarkan masing-masing dua untuk Argentina (Enzo Fernandez dan Nicolas Otamendi) dan tiga untuk Spanyol (Rodri, Cucurella, dan Dani Olmo). Tidak ada kartu merah dalam laga ini. Kemenangan Argentina ini sekaligus membalas kekalahan mereka di final Copa America 2021 dari Spanyol, sekaligus menegaskan dominasi sepak bola Amerika Latin di panggung dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User