Figo Murka, Infantino Didesak Mundur Usai Coreng Kehormatan

Skor akhir dalam pertarungan politik sepak bola dunia kali ini bukan ditentukan oleh gol, melainkan oleh tekanan publik yang semakin menggila. Legenda hidup sepak bola Portugal, Luis Figo, secara meng...

Aug 07, 2026 - 02:50
0 0
Figo Murka, Infantino Didesak Mundur Usai Coreng Kehormatan

Skor akhir dalam pertarungan politik sepak bola dunia kali ini bukan ditentukan oleh gol, melainkan oleh tekanan publik yang semakin menggila. Legenda hidup sepak bola Portugal, Luis Figo, secara mengejutkan melancarkan serangan frontal kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino. Figo dengan tegas mendesak pria asal Swiss itu untuk segera mundur dari kursi kepemimpinan tertinggi organisasi sepak bola dunia. Momen ini menjadi puncak dari ketidakpuasan yang sudah lama menggelembung di kalangan legenda dan praktisi sepak bola global.

Figo, yang dikenal sebagai salah satu winger terbaik sepanjang masa dengan 127 caps bersama timnas Portugal, tidak main-main dalam pernyataannya. Ia menilai bahwa kepemimpinan Infantino telah mencoreng kehormatan institusi FIFA. Kritik tajam ini datang bukan tanpa dasar. Figo menyoroti berbagai kebijakan kontroversial yang dinilai mengabaikan nilai-nilai dasar olahraga, terutama transparansi dan integritas. Dalam pernyataannya, Figo menegaskan bahwa sepak bola bukanlah properti pribadi seorang presiden, melainkan milik jutaan penggemar di seluruh dunia.

Kritik Tajam Figo: Dari Etika hingga Tata Kelola

Menit ke-90 dari era kepemimpinan Infantino memang diwarnai berbagai kontroversi. Figo secara spesifik menyoroti bagaimana FIFA di bawah Infantino sering kali mengambil keputusan sepihak tanpa melibatkan federasi anggota secara menyeluruh. Data menunjukkan bahwa sejak Infantino menjabat pada 2016, telah terjadi peningkatan signifikan dalam jumlah turnamen yang diperluas, namun diiringi dengan penurunan kualitas kompetisi menurut sejumlah pengamat. Figo menilai bahwa ekspansi Piala Dunia menjadi 48 tim, misalnya, lebih didorong oleh kepentingan komersial daripada kemurnian kompetisi.

Lebih jauh, Figo mengkritik gaya kepemimpinan otoriter yang ditunjukkan Infantino. Ia menyebut bahwa dalam rapat-rapat FIFA, suara para pemain legendaris dan pelatih sering kali terabaikan. Padahal, mereka adalah aktor utama yang menghidupkan sepak bola di lapangan hijau. Figo, yang pernah memenangkan Ballon d'Or pada 2000, menegaskan bahwa pengalaman di lapangan adalah data paling berharga yang seharusnya menjadi acuan pengambilan keputusan, bukan sekadar laporan keuangan tahunan.

"Sepak bola telah kehilangan arahnya ketika pemimpinnya lebih sibuk memperkuat kursi kekuasaan daripada memperkuat kepercayaan publik. Sudah saatnya Infantino pergi," ujar Figo dalam konferensi pers yang digelar di Lisbon.

Analisis Taktik Politik: Tekanan dari Para Legenda

Dari sudut pandang taktik politik, langkah Figo ini adalah sebuah formasi menyerang yang cerdik. Figo tidak sendirian; ia bergabung dengan deretan legenda lain yang selama ini vokal mengkritik FIFA, termasuk Diego Maradona (almarhum) dan Michel Platini. Dengan membangun starting XI para legenda yang kritis, tekanan terhadap Infantino menjadi semakin solid. Data menunjukkan bahwa opini publik di Eropa, khususnya di Portugal, Spanyol, dan Italia, sangat terpengaruh oleh pernyataan para mantan pemain top. Tingkat kepercayaan terhadap FIFA di negara-negara tersebut turun hingga 30 persen dalam lima tahun terakhir.

Figo juga menyoroti isu integritas yang menjadi momok sejak era kepemimpinan sebelumnya. Ia mengingatkan bahwa FIFA pernah terpuruk dalam skandal korupsi pada 2015, dan di bawah Infantino, upaya pembersihan dianggap setengah hati. Menurut Figo, tidak ada kemajuan signifikan dalam hal transparansi finansial. Ia menuntut agar FIFA membuka seluruh data kontrak sponsor dan aliran dana ke federasi-federasi kecil, yang selama ini sering kali menjadi korban ketimpangan distribusi.

Tekanan ini datang di saat yang krusial. Dengan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Utara, Infantino tentu berharap dapat memanfaatkan momen tersebut untuk mengamankan posisinya. Namun, dengan adanya desakan dari Figo, ancaman terhadap masa jabatannya semakin nyata. Beberapa federasi Eropa, seperti Inggris dan Jerman, dilaporkan mulai mempertimbangkan sikap mereka terhadap Infantino. Jika tekanan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin akan ada mosi tidak percaya dalam Kongres FIFA berikutnya.

Dampak pada Sepak Bola Global: Lebih dari Sekadar Kursi

Pertarungan ini bukan hanya tentang siapa yang duduk di kursi presiden FIFA, melainkan tentang arah masa depan sepak bola global. Figo menekankan bahwa perubahan kepemimpinan adalah langkah pertama untuk mengembalikan kepercayaan publik. Ia menginginkan FIFA yang lebih inklusif, di mana keputusan besar diambil melalui voting yang transparan, bukan melalui lobi di ruang tertutup. Data dari berbagai jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas penggemar sepak bola menginginkan reformasi struktural dalam organisasi tersebut.

Figo juga menyoroti isu kesejahteraan pemain. Ia menilai bahwa jadwal pertandingan yang semakin padat akibat ekspansi turnamen telah meningkatkan risiko cedera. Statistik menunjukkan bahwa jumlah cedera otot di liga-liga top Eropa meningkat 15 persen sejak 2018, yang diduga kuat terkait dengan kelelahan akibat padatnya kalender. Figo menuntut FIFA untuk lebih memperhatikan kesehatan pemain daripada mengejar keuntungan komersial. Ia juga menyoroti minimnya dukungan finansial untuk sepak bola wanita, yang masih jauh tertinggal dibandingkan sepak bola pria dalam hal pendanaan dan fasilitas.

Dalam pernyataannya, Figo menegaskan bahwa ini adalah momentum untuk membersihkan sepak bola dari pengaruh negatif yang merusak citra olahraga paling populer di dunia. Ia mengajak semua pihak, mulai dari federasi nasional, klub, hingga pemain aktif, untuk bersatu menekan Infantino agar mundur. Figo percaya bahwa dengan kepemimpinan yang bersih dan visioner, sepak bola dapat kembali menjadi simbol persatuan dan sportivitas, bukan ajang adu kekuasaan dan uang.

Tekanan yang dilancarkan Figo ini tentu tidak akan berhenti di sini. Dengan segudang pengalaman dan reputasi yang dimilikinya, suara Figo memiliki bobot yang signifikan di kancah internasional. Pertanyaan besarnya sekarang adalah, apakah Infantino akan bertahan dan melawan arus, atau justru memilih untuk mundur demi menjaga kehormatan yang tersisa. Satu hal yang pasti, laga politik ini akan menjadi tontonan yang tidak kalah seru dari pertandingan final Piala Dunia. Dan seperti dalam sepak bola, keputusan di menit-menit akhir sering kali menentukan segalanya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User