Figo Guncang Zurich: Desak Infantino Mundur dari Kursi Presiden FIFA
Dunia sepak bola kembali terguncang — dan kali ini guncangannya tidak datang dari lapangan hijau, melainkan dari podium kekuasaan tertinggi. Luis Figo, legenda Portugal peraih Ballon d'Or 2000, seca...
Dunia sepak bola kembali terguncang — dan kali ini guncangannya tidak datang dari lapangan hijau, melainkan dari podium kekuasaan tertinggi. Luis Figo, legenda Portugal peraih Ballon d'Or 2000, secara terbuka mendesak Gianni Infantino untuk mundur dari jabatannya sebagai Presiden FIFA. Pernyataan ini ibarat gol menit akhir yang mengubah segalanya: tiba-tiba, keras, dan mustahil diabaikan.
Figo bukan sosok yang gemar melempar pernyataan tanpa perhitungan. Seperti saat ia mengolah bola di sayap kanan semasa bermain, setiap langkahnya selalu terukur. Ketika nama sebesar Figo angkat bicara menuntut orang nomor satu di federasi sepak bola dunia itu turun dari kursinya, seluruh stadion — dari federasi anggota, sponsor, hingga jutaan penggemar — otomatis menoleh ke arah Zurich.
Rekam Jejak Figo: Statistik yang Tak Bisa Dibantah
Kalau ini sebuah pertandingan, Figo masuk ke lapangan dengan rapor nyaris sempurna. Bersama timnas Portugal, ia mencatatkan 127 caps dan 32 gol — rekor penampilan terbanyak Selecao sebelum era Cristiano Ronaldo. Ia adalah motor generasi emas Portugal yang melaju ke final Euro 2004 dan semifinal Piala Dunia 2006.
Di level klub, CV-nya lebih mengerikan lagi. Figo membela Sporting CP, Barcelona, Real Madrid, dan Inter Milan — empat raksasa Eropa dalam satu karier. Ia mengangkat trofi Liga Champions 2001-02 bersama Los Blancos, dua gelar La Liga di Barcelona, dua lagi di Madrid, plus empat scudetto Serie A beruntun bersama Inter. Gelar individu? Ballon d'Or 2000 dan FIFA World Player of the Year 2001. Transfer kontroversialnya dari Camp Nou ke Santiago Bernabeu senilai sekitar 60 juta euro pada tahun 2000 bahkan memecahkan rekor dunia saat itu.
Bukan Serangan Pertama ke Jantung Kekuasaan FIFA
Yang membuat desakan ini semakin berbobot: Figo paham betul cara kerja mesin politik FIFA dari dalam. Pada 2015, ia resmi maju sebagai kandidat Presiden FIFA menantang Sepp Blatter, sebelum akhirnya menarik diri jelang pemungutan suara. Alasannya kala itu tegas — proses pemilihan dinilai tidak berjalan demokratis dan tidak memberi ruang perdebatan yang sehat bagi para kandidat.
Artinya, kritik Figo hari ini bukan suara dari pinggir lapangan. Ini adalah analisis dari mantan pemain yang pernah turun langsung ke pertarungan politik yang sama. Ia tahu di mana letak celah pertahanan FIFA, dan ia tahu persis kapan harus melepaskan tembakan.
Era Infantino: Ekspansi Masif, Sorotan Tajam
Di sisi lain lapangan, Gianni Infantino memimpin FIFA sejak 26 Februari 2016, menggantikan Blatter di tengah krisis korupsi yang mengguncang federasi. Hampir satu dekade berkuasa, mantan Sekjen UEFA itu terpilih kembali pada 2019 dan 2023 — keduanya tanpa lawan.
Era Infantino ditandai ekspansi agresif: Piala Dunia diperlebar dari 32 menjadi 48 tim mulai edisi 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko; edisi 2030 digelar lintas tiga benua; dan 2034 menuju Arab Saudi. Belum lagi Piala Dunia Antarklub 32 tim yang membuat kalender kompetisi semakin sesak. Para kritikus menyoroti beban fisik pemain, sentralisasi kekuasaan, dan transparansi tata kelola — dan kini suara itu datang dari mulut seorang peraih Ballon d'Or.
Apa Selanjutnya untuk FIFA?
Dalam sepak bola, momentum adalah segalanya. Desakan Figo bisa saja menguap seperti sepakan yang melayang di atas mistar — atau justru menjadi gol pembuka yang memicu perlawanan lebih luas terhadap kepemimpinan Infantino. Hingga berita ini diturunkan, belum ada respons resmi dari FIFA maupun sang presiden.
Satu hal pasti: ketika legenda sekaliber Luis Figo menuntut pergantian di puncak kekuasaan, pertandingan politik ini baru saja memasuki babak yang jauh lebih panas. Dan seperti laga besar lainnya, dunia akan menyaksikan sampai peluit panjang dibunyikan.
Comments (0)