FIFA Pasang Badan untuk Infantino di Tengah Desakan Mundur
Panggung politik sepak bola dunia kembali memanas. FIFA secara resmi merilis pernyataan keras mengecam segala manuver yang dinilai berupaya menggoyahkan posisi presiden mereka, Gianni Infantino, yang ...
Panggung politik sepak bola dunia kembali memanas. FIFA secara resmi merilis pernyataan keras mengecam segala manuver yang dinilai berupaya menggoyahkan posisi presiden mereka, Gianni Infantino, yang hingga kini bergeming meski desakan mundur terus mengalir dari berbagai penjuru. Pemicunya satu: polemik rencana penjualan saham komersial Piala Dunia yang membelah opini publik sepak bola internasional.
Dalam rilis resminya, induk organisasi sepak bola dunia itu menegaskan bahwa serangan terhadap Infantino adalah serangan terhadap institusi. Sebanyak 211 asosiasi anggota disebut berdiri di belakang sang presiden yang memegang mandat sejak 2016 itu. Nada pernyataan ini tegas — tidak ada ruang bagi upaya destabilisasi kepemimpinan di tengah proses reformasi yang diklaim sedang berjalan.
Polemik Penjualan Saham Komersial Piala Dunia
Akar masalahnya bermula dari proposal penjualan sebagian hak komersial turnamen elite FIFA kepada konsorsium investor. Angka yang beredar di berbagai laporan menyebut nilai fantastis — mencapai puluhan miliar dolar Amerika Serikat — untuk paket hak komersial yang mencakup turnamen antarklub dan kompetisi antarnegara baru. Bagi sebagian federasi, ini peluang emas mendongkrak pendapatan. Bagi yang lain, ini adalah gadai mahkota sepak bola dunia.
Infantino berada di garis depan negosiasi itu. Posisinya jelas: FIFA butuh diversifikasi pendapatan agar tidak bergantung semata pada siklus empat tahunan Piala Dunia. Data finansial menunjukkan lebih dari 80 persen pendapatan FIFA selama ini datang dari satu turnamen tersebut. Namun kritikus menilai langkah ini terlalu berisiko — menjual aset strategis ke pihak swasta bisa menggerus kendali federasi atas produk terbesarnya sendiri.
Desakan mundur pun mengemuka. Sejumlah tokoh sepak bola menilai Infantino gagal menjaga transparansi proses negosiasi. Namun sang presiden menolak mundur selangkah pun. Dalam berbagai kesempatan ia menegaskan mandatnya berasal dari kongres, bukan dari tekanan media maupun lobi politik mana pun.
FIFA Mengecam Gerakan Destabilisasi
Respons FIFA kali ini bukan sekadar pembelaan normatif. Pernyataan resmi mereka memuat diksi yang jarang dipakai — mengecam secara eksplisit pihak-pihak yang disebut sengaja melemahkan kepemimpinan organisasi. Ini sinyal kuat bahwa internal FIFA membaca situasi sebagai serangan terkoordinasi, bukan kritik sporadis belaka.
Dewan FIFA disebut solid. Sejak reformasi tata kelola pasca-skandal 2015, struktur pengambilan keputusan memang diperkuat dengan Dewan FIFA beranggotakan 37 orang yang menggantikan Komite Eksekutif lama. Mayoritas anggota dewan dilaporkan tetap mendukung garis kebijakan Infantino, termasuk soal eksplorasi sumber pendapatan baru demi keberlanjutan finansial organisasi.
Dukungan juga mengalir dari sejumlah konfederasi. Beberapa federasi regional menilai stabilitas kepemimpinan jauh lebih penting ketimbang pergantian figur di tengah jalan, apalagi dengan agenda padat di depan mata: persiapan Piala Dunia 2026 yang untuk pertama kalinya digelar di tiga negara — Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko — dengan format anyar 48 tim.
Rekam Jejak Infantino di Bawah Sorotan
Infantino naik ke kursi presiden pada Februari 2016, menggantikan Sepp Blatter yang tersandung skandal korupsi. Dalam pemilihan itu ia meraih 115 suara pada putaran kedua. Sejak itu, ia menggulirkan sejumlah perubahan besar: ekspansi Piala Dunia dari 32 menjadi 48 tim, penerapan VAR di Piala Dunia 2018, dan peningkatan dana pembangunan untuk federasi anggota melalui program Forward.
Di atas kertas, angka-angka itu mengesankan. Pendapatan FIFA pada siklus 2015–2018 tercatat menembus 6,4 miliar dolar AS, lalu kembali menanjak pada siklus berikutnya. Namun gaya kepemimpinannya yang sentralistis kerap menuai kritik. Keputusan-keputusan besar dinilai diambil terlalu cepat tanpa konsultasi memadai dengan pemangku kepentingan — termasuk soal rencana penjualan saham komersial yang kini berbalik menjadi bumerang.
Jalan Terjal yang Menanti
Situasi ini jauh dari kata selesai. Tekanan terhadap Infantino kemungkinan besar akan terus berlanjut selama polemik penjualan saham belum menemui titik terang. Namun dengan dukungan mayoritas dewan dan kongres, posisi sang presiden untuk sementara tampak aman dari segala guncangan.
Pertanyaan besarnya: mampukah FIFA menjaga integritas komersial Piala Dunia sekaligus memuaskan hasrat ekspansi finansial? Jawabannya akan menentukan warisan Infantino — apakah ia dikenang sebagai reformis yang menyelamatkan FIFA dari ketergantungan pada satu turnamen, atau justru sebagai presiden yang menggadaikan aset terbesar sepak bola dunia. Satu hal pasti: pertarungan di luar lapangan ini tidak kalah sengit dari laga final mana pun, dan seluruh dunia sepak bola kini menyaksikannya dengan napas tertahan.
Comments (0)