Ferran Torres Cetak Brace, Spanyol Juara Piala Dunia 2026 atas Argentina
Skor akhir Spanyol 3-1 Argentina menjadi penutup sempurna final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, Senin (20/7) dini hari WIB. Ferran Torres tampil sebagai pahlawan lewat brace pada menit ke-23 dan ...
Skor akhir Spanyol 3-1 Argentina menjadi penutup sempurna final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, Senin (20/7) dini hari WIB. Ferran Torres tampil sebagai pahlawan lewat brace pada menit ke-23 dan menit ke-67, sebelum Lamine Yamal mengunci kemenangan di menit ke-89. Argentina sempat menyamakan skor melalui Julián Álvarez jelang turun minum, tetapi penguasaan bola 63 persen berbanding 37 persen serta 8 shots on target berbanding 3 memperlihatkan betapa dominannya La Roja sepanjang 90 menit.
Sejak peluit awal, pelatih Luis de la Fuente menurunkan starting XI terbaiknya dengan formasi 4-3-3: Unai Simón di bawah mistar; Dani Carvajal, Pau Cubarsí, Aymeric Laporte, dan Marc Cucurella di lini belakang; trio Rodri, Pedri, dan Dani Olmo mengendalikan lini tengah; sementara trisula Lamine Yamal, Ferran Torres, dan Nico Williams mengisi sektor depan. Di kubu lawan, Lionel Scaloni membalas dengan pola 4-4-2 yang mengandalkan Lionel Messi sebagai false nine di belakang Julián Álvarez.
Babak Pertama: Torres Membuka, Álvarez Menjawab
Menit ke-23, gol yang ditunggu akhirnya lahir. Pedri membelah pertahanan Argentina dengan umpan vertikal, Ferran Torres lolos dari jebakan offside, lalu melepaskan tendangan kaki kanan mendatar yang menaklukkan Emiliano Martínez. Skor 1-0 untuk Spanyol, dan stadion bergemuruh menyambut selebrasi sang penyerang.
Argentina merespons lewat tekanan tinggi. Menit ke-41, kesalahan build-up Rodri direbut Alexis Mac Allister, bola dialirkan ke Álvarez yang menyambar dengan sepakan first-time dari jarak 14 meter. Skor 1-1 bertahan hingga jeda, meski Spanyol mencatat 6 tembakan berbanding 2 di 45 menit pertama.
Babak Kedua: Brace Torres, Yamal Menutup Pesta
Memasuki interval kedua, Spanyol menaikkan tempo. Menit ke-52, Nico Williams nyaris mencetak gol andai sundulannya tidak membentur tiang. Tekanan beruntun itu berbuah pada menit ke-67: umpan silang Carvajal disambut Torres dengan tendangan voli yang menghujam sudut gawang. 2-1, dan sang penyerang berlari ke arah tribun suporter Spanyol.
Scaloni merespons dengan memasukkan Alejandro Garnacho, tetapi kartu kuning Leandro Paredes pada menit ke-74 karena pelanggaran keras terhadap Pedri menggambarkan frustrasi Argentina. Sebuah tinjauan VAR di menit ke-80 atas dugaan handball Cubarsí juga berakhir tanpa penalti. Menit ke-89, Lamine Yamal memastikan gelar: cut inside dari sisi kanan, ia melepaskan tendangan melengkung kaki kiri khasnya yang bersarang di tiang jauh. 3-1, pertandingan selesai.
Duel taktik di sisa laga juga layak disorot. De la Fuente memasukkan Mikel Merino dan Mikel Oyarzabal untuk menjaga intensitas pressing, sementara Spanyol total membukukan 7 tendangan sudut berbanding 2. Argentina yang tertinggal justru kehilangan bentuk permainan, hanya melepaskan 1 tembakan dalam 20 menit terakhir.
Analisis: Torres dan Mesin Penguasaan Bola Spanyol
Angka-angka berbicara jelas. Spanyol membukukan 17 tembakan dengan 8 shots on target, sementara Argentina hanya 9 tembakan dan 3 tepat sasaran. Rodri menyelesaikan 112 umpan dengan akurasi 94 persen, menjadi metronom yang membuat pressing Argentina sia-sia. Di lini belakang, duet Cubarsí-Laporte memenangkan 11 dari 14 duel udara.
Namun bintang malam itu tetap Ferran Torres. Dari 5 percobaan, 4 shots on target, dan 2 gol, penyerang 26 tahun itu juga mencatat 3 dribel sukses plus 1 assist untuk gol Yamal, serta terus bergerak di antara lini untuk membuka ruang. Tambahan dua gol membuat koleksinya di turnamen ini menjadi 6 gol, menyamai catatan terbaik penyerang Spanyol dalam satu edisi Piala Dunia.
“Ferran menjalani turnamen yang luar biasa. Ia bekerja tanpa bola, menekan, dan hari ini ia mendapatkan ganjarannya. Tim ini pantas menjadi juara,” ujar De la Fuente seusai laga.
Bagi Argentina, kekalahan ini mengakhiri misi mempertahankan gelar. Messi, yang dimatikan oleh marking ketat Rodri, hanya mencatat 1 tembakan tepat sasaran. Spanyol pun pulang dengan trofi, clean sheet di tiga laga gugur sebelumnya, rekor tujuh kemenangan beruntun sepanjang turnamen, dan status sebagai kekuatan sepak bola dunia yang sesungguhnya.
Comments (0)