Fajar/Fikri Tersingkir Dini di Indonesia Open 2026 Meski Tampil Apik
JAKARTA — Istora Senayan bergemuruh, namun hingar-bingar itu berubah menjadi keheningan yang memilukan bagi pasangan ganda putra Indonesia, Fajar Alfian dan Muhammad Sohibul Fikri. Mereka harus meng...
JAKARTA — Istora Senayan bergemuruh, namun hingar-bingar itu berubah menjadi keheningan yang memilukan bagi pasangan ganda putra Indonesia, Fajar Alfian dan Muhammad Sohibul Fikri. Mereka harus mengakui keunggulan wakil China, Chen Bo Yang dan Liu Yi, dalam pertarungan sengit tiga gim yang berakhir dengan skor akhir 21-19, 19-21, 21-17 pada babak 32 besar Indonesia Open 2026, Rabu (03/06/2026).
Kekalahan ini terasa begitu pahit. Fajar/Fikri sejatinya tampil trengginas dengan penguasaan bola mencapai 53 persen, lebih dominan dibandingkan lawannya. Mereka juga mencatatkan shots on target lebih banyak, 17 berbanding 15 milik pasangan Negeri Tirai Bambu. Namun, efisiensi di poin-poin kritis menjadi pembeda. Chen/Liu menunjukkan ketenangan level dewa yang membuat perjuangan gigih wakil Merah Putih seolah sia-sia.
Permainan Cepat dan Agresif Sejak Awal Laga
Sejak peluit pertama dibunyikan, starting XI—atau lebih tepatnya komposisi pemain yang diturunkan—langsung menerapkan formasi menyerang. Fajar yang biasanya bertugas sebagai playmaker dari garis belakang, kali ini lebih sering melakukan tusukan-tusukan tajam ke depan net. Kombinasinya dengan Fikri yang memiliki smash keras dan penempatan bola akurat menghasilkan beberapa poin cepat di awal gim pertama. Menit ke-7, sebuah drive mematikan dari Fikri yang mengarah ke sisi kosong lapangan China membuka keunggulan 11-8 saat interval.
Keunggulan itu tidak bertahan lama. Menit ke-14, Chen Bo Yang mulai membaca pola rotasi Fajar/Fikri. Ia beberapa kali melakukan pengembalian bola setengah lapangan yang menyulitkan Fajar untuk melakukan transisi dari bertahan ke menyerang. Liu Yi, di sisi lain, sangat piawai dalam mengontrol permainan depan net. Netting-nya yang tipis dan penempatan bola return of serve yang acap kali mengecoh membuat Fikri harus bekerja ekstra keras. Skor pun berbalik menjadi 15-16 setelah reli panjang nan melelahkan yang terdiri dari 43 pukulan.
Klimaks gim pertama terjadi di menit ke-19. Saat kedudukan 19-19, sebuah keputusan kontroversial lahir. Wasit di kursi tinggi menganulir perolehan poin Fajar/Fikri setelah melihat tayangan ulang dari sistem VAR yang diadopsi khusus untuk turnamen ini. Bola dinyatakan lebih dulu menyentuh net sebelum melewati bidang permainan lawan. Momentum itu langsung dimanfaatkan Chen/Liu untuk mencuri dua poin beruntun dan merebut gim pertama dengan skor 21-19.
Kebangkitan Dramatis di Gim Kedua
Tidak ingin menyerah di hadapan pendukung sendiri, Fajar/Fikri mengubah strategi di gim kedua. Mereka mengurangi kecepatan permainan dan lebih banyak memainkan bola-bola lob clear ke garis belakang untuk memancing lawan agar melakukan kesalahan. Perubahan taktik ini terbukti jitu. Menit ke-27, Fajar melakukan aksi luar biasa dengan sebuah trick shot backhand dari antara kaki yang menghasilkan poin spektakuler dan mengangkat moral tim. Skor berada dalam kendali pasangan Indonesia di angka 11-7 pada interval gim kedua.
Namun, Chen/Liu bukan lawan yang mudah ditaklukkan. Mereka kembali mendekat di menit ke-37, memaksa Fajar/Fikri melakukan beberapa kesalahan sendiri (unforced errors) yang nyaris meruntuhkan keunggulan. Dukungan penonton yang meneriakkan "In-do-ne-sia" menjadi bahan bakar tambahan. Di menit ke-44, sebuah assist brilian dari Fajar—dalam konteks bulu tangkis, sebuah set-up yang sempurna—mengizinkan Fikri untuk menghujamkan smash keras yang tidak mampu dikembalikan Chen. Itu menjadi poin kunci yang akhirnya memenangkan gim kedua bagi Indonesia dengan skor 21-19, memaksa pertandingan berlanjut ke gim penentuan.
Langkah Tragis di Gim Ketiga: Kesalahan Beruntun di Poin Kritis
Gim ketiga menjadi panggung paling brutal bagi Fajar/Fikri. Kedua pasangan kembali bermain dalam tempo tinggi. Interval gim penentu dicapai dengan keunggulan tipis China, 11-10. Pasca-interval, terjadi adu mental yang sangat ketat. Menit ke-55, Fikri meminta medical break singkat karena kakinya mulai terasa kram setelah hampir 60 menit bertarung. Ia kembali ke lapangan dengan semangat, namun mobilitasnya sedikit menurun.
Titik nadir terjadi pada menit ke-63. Dalam kedudukan 16-15 untuk keunggulan China, Fajar melakukan kesalahan langkah fatal. Bola pengembaliannya dari posisi offbalance justru mengambang sempurna di depan Liu Yi. Dengan dingin, Liu menceploskan bola ke area kosong. Poin itu seperti pisau yang merobek asa Indonesia. Kesalahan servis dari Fikri di poin berikutnya semakin menjauhkan jarak menjadi 16-19. Meski sempat mendekat 17-19 melalui smash keras Fikri, mimpi itu benar-benar berakhir di menit ke-71, saat Liu Yi mengakhiri reli dengan drop shot mengecoh yang tak mampu dijangkau Fajar. Skor akhir 21-17 untuk gim ketiga mengunci kemenangan Chen Bo Yang/Liu Yi.
"Mereka bermain sangat baik hari ini. Kami sudah berusaha maksimal, seluruh strategi sudah kami jalankan. Tapi keberuntungan tidak berpihak di poin-poin terakhir. Ini pengalaman yang sangat berharga untuk evaluasi kami ke depannya," ujar Fajar Alfian saat ditemui di zona campuran dengan raut wajah kecewa. Pelatih kepala ganda putra, yang memantau dari tribun VIP, hanya menggelengkan kepala melihat statistik unforced errors pasukannya yang mencapai 16 kali, hampir dua kali lipat dari lawan yang hanya mencatatkan 9 kali.
Kekalahan ini melengkapi nasib ironis Fajar/Fikri. Sepanjang turnamen persiapan, mereka menunjukkan peningkatan performa signifikan dengan menjuarai dua turnamen BWF World Tour Super 500. Namun, di hadapan publik sendiri, langkah mereka justru langsung terhenti di babak paling awal. Koleksi clean sheet—tidak ada satu pun poin diraih di menit-menit kritis gim ketiga saat reli panjang terjadi—menjadi catatan pedih. Mereka angkat kaki dari Istora dengan tangan hampa, sebuah akhir yang sangat kontras dengan ekspektasi tinggi yang dibebankan kepada pasangan ranking 6 dunia ini sebagai salah satu tiang utama regenerasi ganda putra Indonesia pasca-pensiunnya The Daddies.
Comments (0)