Erick Thohir Puji IMC 2026, Muaythai Indonesia Siap Mendunia
GOR Abdur Rosyad, Kota Bekasi, bergemuruh pada Rabu (5/8/2026) malam. Ribuan penonton memadati tribun, sorak-sorai membahana saat para petarung memasuki ring. Ini bukan sekadar turnamen biasa — Indo...
GOR Abdur Rosyad, Kota Bekasi, bergemuruh pada Rabu (5/8/2026) malam. Ribuan penonton memadati tribun, sorak-sorai membahana saat para petarung memasuki ring. Ini bukan sekadar turnamen biasa — Indonesia Muaythai Championship (IMC) 2026 telah resmi bergulir, dan kehadiran Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Erick Thohir, di tengah arena menjadi sinyal kuat bahwa cabang olahraga bela diri asal Thailand ini kini mendapat tempat istimewa di peta pembinaan atlet nasional.
Skor akhir memang tidak berlaku di Muaythai — yang dihitung adalah angka juri dan knockdown — namun malam itu, kemenangan terbesar diraih oleh ekosistem olahraga Indonesia. Erick Thohir, yang tiba dengan pengawalan ketat, langsung disambut oleh Ketua Umum Pengurus Besar Muaythai Indonesia (PBMI), LaNyalla Mahmud Mattalitti. Keduanya tampak akrab, berdiskusi panjang tentang masa depan Muaythai di tanah air.
Apresiasi Menpora untuk PBMI dan Visi LaNyalla
Dalam sambutannya, Erick Thohir tidak main-main memberikan pujian. Ia menegaskan bahwa PBMI di bawah kepemimpinan LaNyalla Mahmud Mattalitti telah menunjukkan kejelian luar biasa dalam membaca potensi pembinaan Muaythai di Indonesia. “Saya apresiasi setinggi-tingginya kepada PBMI dan Pak LaNyalla yang jeli melihat peluang. Muaythai bukan sekadar olahraga keras, ini adalah industri prestasi yang bisa mengharumkan nama bangsa,” ujar Erick di sela-sela pertandingan.
Data dari panitia IMC 2026 mencatat, turnamen ini diikuti oleh lebih dari 500 atlet dari 34 provinsi, dengan total 287 pertandingan yang berlangsung selama tiga hari. Jumlah ini meningkat 40 persen dibanding edisi sebelumnya. Menpora juga menyoroti tingginya antusiasme atlet muda — sebanyak 62 persen peserta berusia di bawah 23 tahun, sebuah indikator kuat bahwa regenerasi atlet Muaythai berjalan sehat.
“Ini bukan sekadar ajang adu jotos. Ini adalah ladang emas untuk SEA Games, Asian Games, bahkan Olimpiade. Saya melihat langsung betapa seriusnya pembinaan di sini,” tambah Erick, merujuk pada fakta bahwa Muaythai telah dipertandingkan di SEA Games sejak 2019 dan kini masuk dalam daftar cabang yang dipertimbangkan untuk Olimpiade 2032.
Analisis Pertandingan: Formasi, Taktik, dan Statistik yang Mencengangkan
Di atas ring, para petarung menunjukkan kualitas teknis yang jauh melampaui ekspektasi. Pada pertandingan final kelas 67 kg, misalnya, atlet Jawa Timur, Rizky Pratama, menampilkan dominasi luar biasa. Sepanjang tiga ronde, Rizky melepaskan 87 tendangan (kicks) dengan akurasi 78 persen, jauh mengungguli lawannya dari DKI Jakarta yang hanya mencatat 54 tendangan. Penguasaan ring oleh Rizky mencapai 68 persen, sebuah angka yang sangat jarang terjadi di level nasional.
Menariknya, banyak pelatih mulai mengadopsi formasi taktis ala tim Thailand — fokus pada serangan siku (elbow) dan clinch yang efektif. Data menunjukkan, 55 persen poin yang dicetak para finalis berasal dari teknik elbow dan knee, bukan hanya pukulan tangan. Ini menandakan pergeseran paradigma dari sekadar adu fisik menjadi pertarungan cerdas berbasis strategi.
Salah satu momen paling dramatis terjadi di kelas 71 kg. Petarung tuan rumah, Ahmad Fauzi, tertinggal jauh di dua ronde pertama — skor juri menunjukkan 29-28 untuk lawan. Namun di ronde ketiga, Ahmad melancarkan serangan balik mematikan. Tepat di menit ke-2:15, ia melepaskan high kick yang menghantam pelipis lawan, menghasilkan knockdown spektakuler. Wasit menghitung hingga delapan sebelum lawan bangkit, namun momentum telah berbalik. Ahmad memenangkan ronde ketiga dengan skor sempurna 10-8, dan akhirnya menang angka dengan total skor 29-28, 28-29, 30-27.
“Saya hanya fokus pada instruksi pelatih. Di ronde ketiga, saya melihat celah di pertahanan lawan. Saya tahu ini kesempatan terakhir, jadi saya keluarkan semua energi,” ujar Ahmad usai pertandingan, masih dengan napas memburu.
LaNyalla: Dari Pembinaan Basis Hingga Target Internasional
LaNyalla Mahmud Mattalitti, yang juga dikenal sebagai tokoh olahraga senior, tidak menyembunyikan ambisinya. Dalam sesi wawancara singkat, ia membeberkan bahwa PBMI telah menyusun peta jalan (roadmap) 2026-2030 yang mencakup pembentukan akademi Muaythai di 10 kota besar, serta program beasiswa untuk 100 atlet muda berbakat.
“Kami tidak ingin sekadar menjadi peserta di SEA Games. Target kami adalah juara umum Muaythai di SEA Games 2027 dan minimal dua medali emas di Asian Games 2026. Dengan dukungan Menpora dan pemerintah, saya yakin ini bukan mimpi,” tegas LaNyalla.
Data PBMI menunjukkan, sejak 2023, jumlah atlet Muaythai terdaftar di Indonesia melonjak dari 15.000 menjadi lebih dari 40.000 atlet. Pertumbuhan ini diiringi dengan meningkatnya kualitas wasit dan juri — sebanyak 120 wasit telah tersertifikasi internasional oleh International Federation of Muaythai Associations (IFMA).
Erick Thohir juga menyinggung pentingnya sport science dalam Muaythai. Ia mencontohkan bagaimana Thailand, sebagai kiblat olahraga ini, menggunakan data biometrik untuk memantau beban latihan atlet. “Saya ingin Indonesia tidak ketinggalan. Ke depan, saya akan dorong penggunaan teknologi di setiap pelatnas,” janjinya.
Malam Penutup yang Spektakuler
Turnamen IMC 2026 ditutup dengan pertandingan kelas 75 kg yang berlangsung sengit hingga ronde kelima. Petarung asal Kalimantan Timur, Yohanes Sirait, berhasil mempertahankan sabuk juara dengan kemenangan angka mutlak 50-45, 49-46, 49-46. Sepanjang pertandingan, Yohanes mencatatkan 112 serangan total dengan 63 persen akurasi, termasuk 23 serangan siku yang menjadi momok bagi lawannya.
Total selama tiga hari, turnamen ini menghasilkan 87 knockdown dan 12 kemenangan KO/TKO. Tingkat penyelesaian pertandingan mencapai 92 persen — artinya, hanya 8 persen pertandingan yang berakhir dengan diskualifikasi atau walkover. Ini adalah statistik yang sangat sehat untuk sebuah kejuaraan nasional.
Yang tak kalah penting, panitia mencatat tidak ada insiden cedera serius selama turnamen, berkat pengawasan medis ketat dan penerapan protokol keselamatan yang sesuai standar IFMA. Setiap atlet menjalani pemeriksaan fisik dan MRI sebelum naik ring, sebuah langkah yang jarang dilakukan di turnamen lokal.
Menpora Erick Thohir, sebelum meninggalkan GOR Abdur Rosyad, menyempatkan diri berfoto bersama para juara. Ia berpesan singkat namun penuh makna: “Teruslah berlatih, jaga sportivitas, dan ingat — kalian adalah wajah Indonesia di mata dunia.”
Dengan suksesnya IMC 2026, Muaythai Indonesia telah membuktikan diri sebagai kekuatan yang patut diperhitungkan. Pertanyaannya kini, mampukah mereka mengulang sukses ini di panggung internasional? Jika melihat semangat atlet, kualitas pembinaan, dan dukungan penuh dari pemerintah, jawabannya tampaknya sudah jelas: Indonesia siap mendunia.
Comments (0)