Erick Thohir Jelaskan Alasan Larangan Penonton Away di Super League
Geliat sepak bola Indonesia memasuki babak baru! Ketua Umum PSSI Erick Thohir akhirnya buka suara mengenai kebijakan yang menghebohkan jagat sepak bola nasional: larangan penonton away pada kompetisi ...
Geliat sepak bola Indonesia memasuki babak baru! Ketua Umum PSSI Erick Thohir akhirnya buka suara mengenai kebijakan yang menghebohkan jagat sepak bola nasional: larangan penonton away pada kompetisi Super League musim 2026/2027. Pernyataan orang nomor satu di federasi ini langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan suporter, klub, hingga pengamat sepak bola Tanah Air.
Dalam penjelasannya, Erick menegaskan bahwa kebijakan ini bukan keputusan sepihak, melainkan hasil kajian panjang bersama operator liga, kepolisian, dan para pemangku kepentingan lainnya. Fokus utama dari regulasi ini bermuara pada satu kata kunci: keamanan. Menurutnya, keselamatan penonton, pemain, dan seluruh elemen pertandingan harus menjadi prioritas di atas segalanya, jauh melampaui kepentingan komersial maupun tradisi.
Alasan Keamanan Jadi Fondasi Utama Kebijakan
Tidak bisa dipungkiri, sepak bola Indonesia memiliki catatan kelam yang sulit dilupakan. Tragedi Kanjuruhan pada Oktober 2022 yang menewaskan 135 orang menjadi titik balik tata kelola sepak bola nasional. Sejak peristiwa itu, PSSI bersama FIFA dan pihak keamanan terus membenahi standar penyelenggaraan pertandingan, mulai dari infrastruktur stadion, sistem tiket, hingga manajemen kerumunan di dalam dan luar venue.
Laga-laga bertensi tinggi seperti duel Persija Jakarta kontra Persib Bandung atau derbi Jawa Timur antara Persebaya Surabaya melawan Arema FC selalu menyita perhatian ekstra dari aparat. Rivalitas suporter yang membara kerap berujung gesekan, baik di tribun maupun di jalanan. Data kepolisian menunjukkan sebagian besar insiden kericuhan justru terjadi saat rombongan suporter tamu melakukan perjalanan tandang lintas kota, jauh sebelum peluit kick-off dibunyikan.
Erick menyampaikan bahwa federasi ingin memastikan setiap penonton pulang ke rumah dengan selamat. Sepak bola, tegasnya, harus menjadi hiburan yang aman untuk semua kalangan, dan evaluasi terhadap kebijakan ini akan terus dilakukan secara berkala bersama seluruh stakeholder.
Tantangan Geografis dan Statistik Penonton Liga Indonesia
Dari sisi logistik, Indonesia menghadapi tantangan unik yang tidak dimiliki liga-liga Eropa. Sebagai negara kepulauan, perjalanan away bisa membentang ribuan kilometer. Bayangkan suporter Persija yang harus terbang lebih dari 3.000 kilometer untuk menyaksikan timnya bertanding di Jayapura, atau perjalanan darat puluhan jam yang ditempuh Bonek dan Bobotoh demi mendukung tim kesayangan mereka berlaga.
Secara statistik, antusiasme penonton Liga Indonesia termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara. Klub-klub besar seperti Persib, Persebaya, dan Persija rutin mencatatkan rata-rata 15.000 hingga 25.000 penonton per laga kandang. Namun, jumlah suporter tamu yang hadir di stadion lawan sebenarnya relatif kecil, umumnya hanya ratusan hingga ribuan orang, dengan alokasi tiket yang kerap dibatasi sekitar 5 persen dari kapasitas stadion.
Angka inilah yang menjadi dasar pertimbangan PSSI: risiko keamanan yang besar dinilai tidak sebanding dengan jumlah penonton tamu yang terbatas. Apalagi, biaya pengamanan ekstra untuk mengawal pergerakan suporter away lintas provinsi selama ini membebani anggaran klub maupun kepolisian daerah penyelenggara pertandingan.
Reaksi Suporter dan Masa Depan Atmosfer Liga
Kebijakan ini tentu memicu reaksi beragam dari berbagai penjuru. Kelompok suporter besar seperti Jakmania, Bobotoh, Bonek, dan Aremania menyuarakan kekecewaan karena tradisi mendukung tim di kandang lawan sudah menjadi bagian dari identitas mereka puluhan tahun. Nyanyian dari tribun tamu selama ini menjadi bumbu yang memanaskan atmosfer pertandingan, menciptakan drama yang membuat liga semakin hidup.
Namun, Indonesia bukan satu-satunya negara yang menempuh jalur ini. Argentina telah melarang penonton away sejak 2013 akibat kekerasan suporter yang tak terkendali di negaranya. Sebaliknya, Premier League Inggris justru mewajibkan alokasi minimal 3.000 tiket atau 10 persen kapasitas bagi fans tamu di setiap pertandingan. Perbedaan pendekatan ini menunjukkan setiap negara memiliki konteks keamanan dan budaya suporter yang berbeda-beda.
Erick Thohir sendiri membuka peluang evaluasi di masa depan. Jika standar keamanan stadion, koordinasi antarsuporter, dan sistem tiket teridentifikasi sudah berjalan optimal, bukan tidak mungkin penonton away kembali diizinkan hadir. Musim 2026/2027 akan menjadi laboratorium nyata bagi tata kelola sepak bola Indonesia yang lebih modern, tertib, dan aman bagi semua pihak.
Satu hal yang pasti: keputusan ini akan mengubah wajah atmosfer Super League secara signifikan. Kini, bola ada di kaki PSSI, klub, dan suporter untuk membuktikan bahwa sepak bola Indonesia bisa tetap bergairah dan penuh gengsi — dengan atau tanpa nyanyian dari tribun tamu.
Comments (0)